GOPOS.ID, LIMBOTO — Ketersediaan beras di Kabupaten Gorontalo dipastikan masih aman hingga akhir 2026. Meski wilayah Gorontalo tengah menghadapi musim kemarau, stok beras berdasarkan proyeksi neraca pangan masih menunjukkan kondisi surplus.
Kepala Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Gorontalo, Hermanto Feybie Asona, mengatakan hasil proyeksi neraca bahan pangan menunjukkan ketersediaan beras di daerah tersebut masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Desember 2026.
Hal itu disampaikan Hermanto saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/8/2026).
Menurut Hermanto, pihaknya secara rutin melakukan proyeksi ketersediaan dan kebutuhan pangan melalui neraca bahan pangan. Sedikitnya terdapat 11 komoditas yang menjadi perhatian pemerintah, mulai dari beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi, daging ayam, telur ayam, gula hingga minyak goreng.
Khusus komoditas beras, hasil proyeksi pada Juli 2026 mencatat ketersediaan mencapai sekitar 8.563,13 ton. Sementara kebutuhan beras masyarakat Kabupaten Gorontalo diperkirakan sekitar 4.183 ton per bulan.
Dengan angka tersebut, neraca beras Kabupaten Gorontalo masih mencatat surplus sekitar 4.323,14 ton.
“Untuk Kabupaten Gorontalo, ketersediaan beras ini aman. Perhitungannya berdasarkan luas sawah yang panen kemudian dibagi dengan jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakat,” jelas Hermanto.
Ia mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa produksi pangan Kabupaten Gorontalo masih cukup kuat untuk menopang kebutuhan masyarakat.
Didukung Cadangan Pangan Pemerintah
Selain produksi daerah, ketersediaan beras juga diperkuat dengan adanya Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
Hermanto menyebut bantuan beras untuk periode Juli, Agustus dan September 2026 dijadwalkan disalurkan sekaligus pada Agustus. Dengan demikian, masyarakat penerima akan memperoleh alokasi beras untuk tiga bulan sekaligus.
“Insyaallah bulan Agustus ini akan diterimakan sekaligus untuk tiga bulan. Jadi, beras yang biasanya 10 kilogram per bulan, akan diberikan untuk tiga bulan sekaligus,” ujarnya.
Menurutnya, tambahan cadangan tersebut turut memperkuat proyeksi ketersediaan beras hingga akhir Desember 2026.
Bahkan, perhitungan neraca pangan yang dilakukan Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Gorontalo tersebut belum memasukkan seluruh stok beras yang tersedia di Bulog.
“Proyeksi kami sampai akhir Desember untuk kebutuhan beras di Kabupaten Gorontalo insyaallah mencukupi. Neraca ini bahkan belum kami masukkan ketersediaan yang ada di Bulog,” kata Hermanto.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, stok beras di Bulog juga diproyeksikan mampu mendukung kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun.
Produksi Beras Banyak Didistribusikan ke Daerah Lain
Meski neraca menunjukkan surplus, Hermanto mengakui tidak seluruh produksi beras Kabupaten Gorontalo beredar dan dikonsumsi di wilayah tersebut.
Sebagian hasil produksi petani justru didistribusikan ke daerah lain, terutama Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara.
“Kalau melihat data hasil proyeksi dengan luas lahan yang ditanami, khusus Kabupaten Gorontalo memang sangat mencukupi. Tetapi itu di atas kertas. Fakta di lapangan, banyak produksi dari Kabupaten Gorontalo yang lari ke Kota Gorontalo dan Gorontalo Utara,” ungkapnya.
Menurut Hermanto, distribusi antardaerah merupakan bagian dari dinamika pasokan pangan. Kabupaten Gorontalo tidak hanya menjadi daerah pemasok, tetapi juga menerima pasokan beras dari daerah lain.
Sejumlah pasokan tersebut berasal dari wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.
“Jadi saling menutupi. Ada produksi kita yang keluar, tetapi ada juga beras yang masuk dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan,” pungkas Hermanto. (Rama/Gopos)








