No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Masjid, Manusia dan Cara Kita Hidup Bersama

Alexa by Alexa
Sabtu 13 Desember 2025
in Perspektif
0
Husin Ali - Antropolog

Husin Ali - Antropolog

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Husin Ali – Antropolog

Tulisan Dr. Funco Tanipu tentang masjid-masjid yang kian sepi di Gorontalo penting dibaca sebagai cara orang Gorontalo bercermin. Bukan untuk merendahkan diri, apalagi mengadili iman, melainkan untuk memahami bagaimana perubahan sosial bekerja di ruang paling intim umat: masjid.

Dalam antropologi, pertanyaan yang paling jujur sering kali bukan apa yang hilang, melainkan apa yang berubah. Masjid di Gorontalo tidak hilang. Ia berdiri, bertambah, bahkan semakin indah. Yang berubah adalah cara manusia berhubungan dengannya.

Tulisan ini tidak hendak membantah Funco Tanipu. Ia justru memperluas pembacaan itu, dengan menempatkan masjid sebagai ruang hidup manusia, bukan semata bangunan ibadah.

Masjid Tetap Ada, Kehidupan Bergerak

Masjid masih ramai pada shalat Jumat. Hari-hari besar keagamaan tetap dirayakan dengan penuh khidmat. Ini menunjukkan satu hal yang patut dicatat dengan jujur: agama tetap hidup di Gorontalo.

Namun pada hari-hari biasa, masjid lebih sunyi. Ini bukan pertanda iman melemah, melainkan tanda bahwa ritme hidup manusia berubah. Orang bekerja lebih lama, bergerak lebih cepat, dan memilih ruang ibadah yang paling dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Dalam perspektif antropologi, perubahan ini wajar. Setiap masyarakat selalu menyesuaikan praktik keagamaannya dengan struktur hidup yang sedang berlangsung. Yang perlu diperhatikan bukan perubahan itu sendiri, melainkan apa yang ikut hilang dalam prosesnya.

Yang Sunyi Bukan Masjid, Melainkan Proses Pewarisan Nilai

Dahulu, masjid adalah tempat orang belajar menjadi orang. Anak-anak belajar tertib bukan dari larangan, melainkan dari kebiasaan. Remaja belajar hormat bukan dari nasihat panjang, tetapi dari kehadiran orang dewasa. Nilai hidup lewat praktik sehari-hari.

Baca Juga :  Pendidikan Multikultural di Kanada

Hari ini, nilai masih sering disebut, tetapi jarang dibiasakan dalam ruang bersama. Pendidikan karakter berpindah ke sekolah, ke modul, ke seminar. Masjid, yang dulu menjadi sekolah sosial paling efektif, menyempit perannya menjadi ruang ritual.

Dalam antropologi populer, ini disebut sebagai pergeseran ruang belajar sosial. Nilai tidak hilang, tetapi tempat belajarnya berpindah—dan sering kali, tidak tergantikan.

Kearifan Lokal: Hidup dalam Ingatan, Menunggu Dirawat

Gorontalo memiliki falsafah yang kokoh: adati hulo-hulo’a to syareati, syareati hulo-hulo’a to Kitabullah. Falsafah ini tidak pernah pudar. Ia hidup dalam bahasa, dalam adat, dalam cara orang Gorontalo memandang agama.

Namun kearifan lokal tidak bekerja otomatis. Ia perlu ruang untuk dipraktikkan. Dalam kehidupan sehari-hari, masjid seharusnya menjadi ruang itu—tempat adat, syariat, dan kehidupan modern saling bertemu.

Ketika masjid hanya difungsikan secara minimal, kearifan lokal tetap ada, tetapi tidak menemukan ritme hidupnya.

Tentang Masjid Raya dan Makna Konsistensi

Gagasan pembangunan Masjid Raya atau Islamic Center di Gorontalo, yang berulang kali dicanangkan dari satu periode ke periode berikutnya, memperlihatkan betapa kuatnya hasrat kolektif untuk menghadirkan simbol peradaban. Ini patut diapresiasi.

Namun antropologi mengajarkan satu hal sederhana: makna sosial tidak lahir dari seremoni, tetapi dari kesinambungan. Gagasan besar yang berpindah dari satu kepemimpinan ke kepemimpinan lain tanpa alur yang konsisten mudah dipersepsi sebagai ikon, bukan sebagai ruang hidup yang tumbuh bersama masyarakat.

Di sinilah tantangannya: bagaimana menjadikan masjid besar bukan hanya sebagai penanda identitas, tetapi sebagai ruang yang benar-benar dihuni oleh kehidupan sehari-hari umat.

Baca Juga :  TOKOH TIONGHOA ASAL GORONTALO

Ruang Menentukan Kehidupan

Masjid yang dekat dengan pemukiman, jalur sekolah, pasar, dan aktivitas harian cenderung hidup. Masjid yang jauh dari alur itu sering kali megah, tetapi hanya ramai pada waktu tertentu. Ini bukan kritik, melainkan fakta antropologis tentang hubungan ruang dan perilaku manusia.

Bangunan selalu membentuk kebiasaan. Karena itu, merencanakan masjid sejatinya adalah merencanakan kehidupan sosial di sekitarnya.

Masjid sebagai Ruang Semua Generasi

Masjid hidup ketika ia menjadi milik bersama. Takmir yang membuka ruang bagi anak-anak, remaja, perempuan, dan komunitas akan melihat masjid tumbuh secara alami. Jamaah dewasa yang hadir secara konsisten, meski sederhana, memberi teladan tanpa perlu banyak kata.

Generasi muda pun menemukan makna agama bukan dari konten semata, tetapi dari pengalaman hidup bersama di ruang nyata.

Kebanggaan yang Perlu Dirawat

Masjid yang sepi tidak perlu diratapi. Ia perlu dibaca. Ia memberi tahu kita bahwa Gorontalo sedang bergerak, berubah, dan mencari bentuk baru dalam menjalani kehidupan beragama.

Tulisan Funco Tanipu mengingatkan kita bahwa kebanggaan sebagai Serambi Madinah tidak cukup dirawat dengan simbol. Ia perlu dirawat dengan kehadiran, konsistensi, dan keberanian memaknai ulang ruang hidup bersama.

Masjid, pada akhirnya, bukan hanya tentang seberapa megah ia berdiri, tetapi tentang seberapa jauh ia ikut membentuk manusia yang hidup di sekitarnya. Di sanalah kebanggaan itu menemukan maknanya yang paling dalam.(*)

Tags: Funco TanipuHusin Ali
Previous Post

Polres Gorut Rampungkan Kasus Guru Cabul, Berkas dan Tersangka Resmi Diserahkan ke Kejaksaan

Next Post

Gopos.id Raih Penghargaan Terbaik I Wajah Bahasa Lembaga 2025 dari Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Related Posts

Perspektif

Alarm Revolusi: Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Saatnya Kita Semua Mengambil Sikap Tegas

Kamis 11 Juni 2026
Perspektif

Pancasila 1 Juni: Warisi Apinya, Bukan Abunya

Senin 1 Juni 2026
Perspektif

DPC GMNI Jakarta Timur Hadir Membuka Bantuan Hukum untuk Kaum Marhaen dan Kaum Marjinal

Kamis 28 Mei 2026
Perspektif

Di Balik Pengakuan Bersalah, Adakah Keadilan untuk Korban?

Rabu 20 Mei 2026
Husin Ali - Antropolog
Perspektif

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Jumat 15 Mei 2026
Perspektif

Biografi Azis Rachman: Meniti Jalan Pengabdian dan Kepemimpinan

Sabtu 2 Mei 2026
Next Post
Founder Gopos.id Andi Aulia Arifuddin ketika menerima penghargaan dari Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo sebagai terbaik I pada kegiatan Apresiasi Penghargaan Wajah Bahasa Lembaga Tahun 2025 kategori Instansi Swasta

Gopos.id Raih Penghargaan Terbaik I Wajah Bahasa Lembaga 2025 dari Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos. (Foto. Istimewa/Screenshot google)

    Sherly Tjoanda Dikabarkan Hadir di PENAS XVII

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UMGO Benarkan Video Viral Soal Beasiswa-KIP Kampus Negeri adalah Calon Mahasiswinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara Jadi Magnet di PENAS XVII Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerap Tertangkap Kamera, Siapa Chelsea Pattiwael yang Selalu Mendampingi Sherly di Gorontalo?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rum Ngaku Kecewa, Kunjungan Mentrans ke Boalemo Dibatalkan Mendadak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.