No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Pentingnya Pendidikan Karakter di Era Media Sosial

Hasan by Hasan
Jumat 17 Oktober 2025
in Menyapa Nusantara
0
Seorang anak menempelkan tangannya pada papan penanda kegiatan sehari tanpa gawai di Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (5/7/2025). Praktik sehari tanpa gawai yang diinisiasi oleh Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Sulawesi Tenggara tersebut diikuti 147 peserta terdiri dari anak, orang tua, siswa dan mahasiswa bertujuan memaksimalkan kinerja otak dengan menghindari penggunaan gawai sekaligus meningkatkan kualitas pengasuhan dalam keluarga. ANTARA FOTO/Andry Denisah/nz

Seorang anak menempelkan tangannya pada papan penanda kegiatan sehari tanpa gawai di Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (5/7/2025). Praktik sehari tanpa gawai yang diinisiasi oleh Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Sulawesi Tenggara tersebut diikuti 147 peserta terdiri dari anak, orang tua, siswa dan mahasiswa bertujuan memaksimalkan kinerja otak dengan menghindari penggunaan gawai sekaligus meningkatkan kualitas pengasuhan dalam keluarga. ANTARA FOTO/Andry Denisah/nz

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

GOPOS.ID – Teknologi telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua aspek kehidupan, mulai dari berkomunikasi dengan keluarga, berinteraksi dengan teman, hingga menyelesaikan pekerjaan, kini bergantung pada perangkat digital.

Perlu menjadi perhatian serius adalah bagaimana kebiasaan mengonsumsi informasi melalui media sosial ini secara perlahan dapat mengubah karakter penggunanya.

Setiap konten yang ditonton, komentar yang dibaca, serta video viral yang disebarkan membawa nilai tertentu yang tanpa disadari meresap ke dalam pola pikir dan perilaku.

Anak-anak dan remaja menyerap nilai-nilai dari konten digital, tanpa filter yang memadai, serta bimbingan yang cukup untuk membedakan mana informasi baik dan tidak baik. Pendidikan karakter menjadi mendesak sebagai fondasi kuat agar generasi muda tidak kehilangan jati diri.

Bahaya paparan konten negatif dari media sosial menjadi ancaman nyata bagi perkembangan karakter generasi muda. Konten yang mengandung kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, perundungan, hingga berita bohong tersebar dengan mudah dan cepat.

Algoritma media sosial dirancang untuk meningkatkan engagement, justru sering kali mempromosikan konten sensasional dan kontroversial karena lebih menarik perhatian pengguna.

Anak-anak dan remaja, tanpa sadar terpapar materi yang tidak sesuai dengan usia dan perkembangan mentalnya. Paparan konten negatif yang terus-menerus dapat “menormalkan” perilaku buruk, mengikis empati, dan membentuk pola pikir yang menyimpang dari nilai-nilai luhur bangsa.

Fenomena yang kini mulai banyak dibicarakan adalah pembusukan otak atau brain rot akibat kebiasaan mengonsumsi konten media sosial secara berlebihan.

Istilah ini merujuk pada penurunan kualitas kemampuan kognitif, konsentrasi, dan daya pikir kritis seseorang akibat terlalu banyak mengonsumsi konten pendek, dangkal, dan tidak berkualitas.

Video berdurasi 15-30 detik yang berganti-ganti cepat, melatih otak untuk mencari kepuasan instan, tanpa perlu usaha berpikir mendalam. Akibatnya, kemampuan untuk fokus dalam waktu lama, membaca teks panjang, atau memahami konsep kompleks menjadi menurun.

Generasi muda yang seharusnya mengasah kemampuan berpikir kritis justru terjebak dalam siklus konsumsi konten yang pasif dan tidak produktif.

Di tengah tantangan tersebut pendidikan karakter menjadi solusi fundamental untuk mewujudkan generasi emas Indonesia. Generasi emas yang dimaksud bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berintegritas, dan mampu memilah informasi dengan bijak.

Pendidikan karakter mengajarkan nilai-nilai moral, etika, tanggung jawab, empati, dan kejujuran yang akan menjadi filter alami ketika mereka berinteraksi di dunia digital.

Dengan fondasi karakter yang kuat, generasi muda akan memiliki kemampuan untuk menolak konten negatif, menggunakan media sosial secara produktif, dan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.

Pendidikan karakter bukan sekadar tambahan dalam kurikulum, melainkan kebutuhan mendesak yang harus diintegrasikan dalam setiap aspek pembelajaran untuk memastikan Indonesia memiliki generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bermartabat dan siap memimpin bangsa di masa depan.

Di tengah tantangan itu, sejumlah daerah mulai menunjukkan jalan keluar. Jawa Timur menjadi salah satu contoh bagaimana pendidikan karakter di era digital bisa dijalankan secara konkret.

Baca Juga :  Cara Masyarakat Lereng Gunung Rinjani Melestarikan Budaya

Alih-alih menolak teknologi, para pendidik di provinsi tersebut memilih memanfaatkan literasi digital sebagai jembatan untuk menanamkan nilai.

Dari situ lahir berbagai program inovatif. Ada inisiatif “Cerdas Digital” atau disingkat “CERDIG” yang dicetuskan Kominfo Jawa Timur. Fokusnya mengajarkan etika digital dan tanggung jawab saat bermedia sosial, terutama untuk pelajar dan masyarakat di daerah pesisir.

Universitas Brawijaya Malang, bekerja sama dengan Kominfo Jawa Timur menggelar lokakarya tentang kecerdasan buatan. Tujuannya mengajarkan cara menggunakan kecerdasan buatan secara etis dan produktif, bukan sembarangan.

Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur Sherlita Ratna menyampaikan pemikiran yang relevan untuk seluruh Indonesia, yaitu teknologi itu netral, yang membuatnya bernilai adalah cara manusia menggunakannya.

Sederhana, namun mendalam. Artinya, memiliki keterampilan digital, tanpa moral, sama saja dengan memiliki kemampuan, tanpa tujuan yang jelas.

Beberapa sekolah di Jawa Timur mulai bergerak konkret dan bisa menjadi inspirasi nasional. SMP Negeri 1 Lamongan menjadi pelopor dengan menerapkan pendekatan sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika (STEAM)).

Sekolah tersebut tidak hanya mengajarkan siswanya tentang memprogram komputer atau teknologi semata, tetapi juga diajarkan nilai etika dalam menggunakan semua itu.

Selain itu, di Sidoarjo, sebanyak 2.764 mahasiswa calon guru dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya mengikuti orientasi khusus tentang pendidikan karakter di era digital. Mereka diajarkan pentingnya moralitas dan empati dalam pembelajaran yang berbasis teknologi.

Di SMPN 9 Mojokerto, dinas pendidikan mendirikan “Pojok Literasi Digital” yang menjadi ruang bagi siswa untuk belajar dan merenung tentang bagaimana menggunakan teknologi untuk hal-hal positif, bukan sekadar untuk menggulung layar.

Semua contoh dari Jawa Timur ini menunjukkan satu hal, yaitu pendidikan sekarang tidak lagi soal transfer pengetahuan. Lebih dari itu, guru harus membimbing cara berpikir dan berperilaku di dunia yang makin digital.

Meskipun demikian, sekolah saja tidak cukup untuk bangsa sebesar Indonesia. Rumah tetap menjadi benteng pertama dalam membentuk karakter anak.

Laporan Analisis Literasi Digital Siswa 2025 dari berbagai lembaga pendidikan membuktikan peran orang tua dalam mendampingi anak saat berinternet menjadi faktor paling efektif mencegah paparan konten negatif.

Tanpa pendampingan, sistem perhitungan otomatis media sosial yang akan mengajari anak tentang baik dan buruk, dan itu bahaya bagi masa depan bangsa.

Di beberapa daerah lainnya di Jawa Timur, seperti Bangkalan, Lamongan, dan Situbondo, komunitas, seperti Relawan TIK Jatim dan Gerakan Cerdas Digital Pesisir, aktif menggelar kelas khusus bagi orang tua mengenai cara mendampingi anak bermedia sosial dengan aman dan tetap menjaga martabat keluarga.

Dosen komunikasi dari Universitas Negeri Surabaya Mufida Arini, dalam diskusi literasi digital menyampaikan pesan yang sangat relevan, yaitu jika di rumah tidak ada percakapan tentang nilai, maka media sosial yang akan menjadi gurunya.

Model seperti ini seharusnya bisa direplikasi di seluruh Indonesia. Bukan hanya di kota besar, tetapi juga di desa-desa terpencil yang mulai terhubung internet. Sebab ancaman yang sama, seperti konten negatif, berita bohong, perundungan siber, konsumerisme digital menyerang semua anak Indonesia, tanpa pandang bulu.

Baca Juga :  Doa untuk Indonesia Damai

Sehingga dapat disimpulkan untuk menjawab semua tantangan itu. Pertama, sistem pendidikan nasional harus berani bertransformasi. Literasi digital wajib menjadi mata pelajaran yang tidak hanya mengajarkan teknis komputer, tetapi juga berpikir kritis, memilah informasi, dan etika daring. Setiap guru harus menjadi teladan perilaku digital yang sehat.

Kedua, keluarga harus menjadi benteng utama. Orang tua tidak boleh lepas tangan dengan alasan tidak paham teknologi. Ciptakan aturan digital, seperti waktu menatap layar yang wajar, zona bebas gawai, saat makan bersama dan diskusi terbuka tentang konten yang anak konsumsi. Hal yang terpenting, jadilah teladan.

Ketiga, komunitas dan masyarakat harus bergerak. Setiap daerah perlu membentuk gerakan literasi digital lokal dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, karang taruna, dan organisasi pemuda sebagai garda terdepan menyebarkan nilai positif di dunia digital.

Keempat, pemerintah pusat dan daerah harus memberikan dukungan sistematis melalui program pelatihan masif untuk guru dan orang tua, anggaran khusus literasi digital, serta wadah layanan nasional yang menyediakan konten edukatif berkualitas gratis untuk seluruh anak Indonesia.

Kelima, industri teknologi dan platform media sosial harus bertanggung jawab. Mereka wajib menyediakan mekanisme perlindungan khusus untuk pengguna di bawah umur, penyaring konten yang ketat, dan transparansi sistem perhitungan otomatis yang berdampak pada pola pikir anak.

Indonesia memiliki modal sosial yang kuat, seperti semangat gotong royong, nilai kekeluargaan, dan kearifan lokal yang tersebar di 17 ribu pulau. Semua itu harus menjadi fondasi dalam membangun pendidikan karakter di era digital. Teknologi boleh datang dari Barat, tetapi nilai yang ditanamkan harus tetap berakar pada jati diri bangsa, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan berintegritas.

Pendidikan karakter di era digital bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak bagi keberlangsungan bangsa. Generasi muda Indonesia sekarang hidup di persimpangan dua dunia, yaitu ruang kelas dan ruang digital, dan keduanya saling tarik-menarik pengaruh.

Jika nilai yang ditanam di sekolah dan rumah tidak sampai ke kehidupan digital mereka, maka pengetahuan akan kehilangan arah.

Contoh dari Jawa Timur membuktikan bahwa ini bukan sekadar wacana. Ini bisa dilakukan, konkret, dan memiliki dampak nyata. Saatnya daerah lain di Indonesia mengikuti jejak serupa, bahkan melampaui, dengan konteks dan kreativitas lokal masing-masing.

Indonesia membutuhkan generasi yang cerdas, sekaligus berkarakter, yaitu generasi yang tidak hanya paham teknologi, tetapi juga paham untuk apa teknologi itu digunakan. Generasi yang bisa menjadi pemimpin masa depan dengan hati yang masih memiliki nurani, pikiran yang kritis, dan tangan yang produktif untuk membangun bangsa.

Ini bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan kita bersama, yaitu guru, orang tua, pemerintah, masyarakat, dan setiap individu yang peduli pada masa depan Indonesia. Karena menanamkan karakter adalah menanamkan masa depan. Oleh karena itu masa depan Indonesia dimulai dari bagaimana kita mendidik anak-anak hari ini.(Antara)

Tags: Indonesia Menyapa
Previous Post

Karantina Gorontalo Rayakan Hari Karantina ke-148 dengan Ragam Kegiatan Sosial dan Edukasi

Next Post

Inovasi Masjid Baitul Ar-Rasyid Dalam Makmurkan Masjid

Related Posts

Presiden Prabowo Subianto bersama PT Sinergi Gula Nusantara melaksanakan Panen Raya Tebu Serentak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (17/7/2026). (ANTARA/HO-PT SGN)
Menyapa Nusantara

Dari Tebu untuk Kopi hingga Bioetanol: Visi Swasembada Nasional

Rabu 22 Juli 2026
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memberikan keterangan pers setelah upacara pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/7/2026). ANTARA/Genta Tenri Mawangi.
Menyapa Nusantara

Baru Dilantik, Sudaryono Tegaskan Sikap Antipencatutan Nama

Rabu 22 Juli 2026
Kantor Staf Presiden bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menggelar dialog interaktif bersama perwakilan Forum Anak Nasional (FAN) dan Forum Anak Daerah (FAD) Wilayah Jabodetabek di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (22/7/2026). (ANTARA/HO-KSP)
Menyapa Nusantara

KSP: Aspirasi Anak Jadi Fondasi Kebijakan Pro-Anak

Rabu 22 Juli 2026
Sejumlah pasien menunggu giliran pelayanan di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie, Surabaya, Jawa Timur belum lama ini. Pemkot Surabaya melakukan pembenahan sistem antrean dan layanan farmasi, termasuk penataan ruang tunggu sesuai jadwal pendaftaran daring serta percepatan penyerahan obat guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. (ANTARA FOTO/HO-Diskominfo Surabaya)
Menyapa Nusantara

Ruang Tunggu, Ruang Harapan: Membenahi Layanan Kesehatan Publik

Selasa 21 Juli 2026
Menyapa Nusantara

LPSK Permudah Pengajuan Perlindungan Saksi dan Korban Lewat Layanan Daring

Selasa 21 Juli 2026
Deputi III Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Kurnia Ramadhana menghadiri jumpa pers Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Kantor Bakom, Jakarta, Rabu (15/7/2026). ANTARA/Maria Cicilia Galuh
Menyapa Nusantara

Bakom Tegaskan Permendag PMSE Tidak Mengatur Algoritma Marketplace

Rabu 15 Juli 2026
Next Post

Inovasi Masjid Baitul Ar-Rasyid Dalam Makmurkan Masjid

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Eks Kadis Kominfo Gorontalo Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Command Center 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korupsi Jalan Irigasi di Pinogu Rp3,3 Miliar, Kejari Bone Bolango Tahan Tiga Tersangka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Eks Kadis Kominfo Datangi Kejati Gorontalo, Penyidikan Korupsi Command Center Terus Bergulir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Eks Pj Gubernur Gorontalo Ikut Diperiksa Dugaan Korupsi Command Center

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kejati Tahan Tiga Tersangka Korupsi Command Center Diskominfo Gorontalo, Kerugian Capai Rp1,3 Miliar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.