GOPOS.ID, GORONTALO – Di tengah sejuknya udara pagi Desa Tonala, Kecamatan Telaga Biru, tampak sebuah rumah sederhana berdinding beton dan beratap seng berdiri teduh di lorong perbukitan desa.
Rumah itu milik Udin Polimbato (57), tokoh masyarakat setempat yang kini menjadi sorotan warga. Bukan karena kemewahan, melainkan karena ketulusan hatinya yang luar biasa.
Selama program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Kodim 1315/Gorontalo, rumah Udin disulap menjadi tempat hunian sementara bagi para personel Satgas TMMD.
Sejak awal pelaksanaan, rumah itu tidak pernah sepi dari tawa, obrolan hangat, dan aroma kopi yang mengepul setiap pagi. Ketika tim Satgas pertama kali datang, Udin tak berpikir panjang.
Tanpa banyak pertimbangan, ia mempersilakan rumahnya digunakan. “Kalau mereka mau tinggal di sini, silakan saja. Saya anggap mereka juga anak-anak saya,” katanya sambil tersenyum ramah.
Kehadiran prajurit TNI di rumahnya merupakan kebanggaan tersendiri bagi Udin. Apalagi melihat para prajurit yang begitu ramah dengan masyarakat sekitar.
“Tidak banyak yang kami punya, tapi kami mau berbagi. Soalnya mereka datang bukan untuk bersenang-senang, tapi membantu desa kami,” tutur Udin.
Kehadiran Satgas TMMD di rumahnya justru membuat suasana semakin hidup. Anak-anak desa sering bermain di halaman, melihat aktivitas para prajurit yang bersiap menuju lokasi pekerjaan rabat beton dan perbaikan infrastruktur.
Sosok Udin dikenal warga sebagai pribadi yang rendah hati. Ia bukan pejabat, bukan pula orang kaya, namun dihormati karena keikhlasannya. Sejak TMMD dimulai, Udin selalu terlibat membantu entah menyiapkan logistik, menyediakan air untuk camp, atau sekadar menemani prajurit bercerita di malam hari.
“Dulu saya pikir TNI itu galak, tapi setelah tinggal bersama, ternyata mereka sangat sopan, rajin, dan peduli sama warga,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Bagi Udin, momen ini bukan sekadar kebersamaan, tetapi pelajaran hidup. Ia melihat langsung bagaimana disiplin dan semangat kerja para prajurit menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar.
“Mereka kerja tanpa lelah, panas-panasan, tapi tetap senyum. Saya malu kalau cuma duduk-duduk saja,” tambahnya.
Setiap malam, halaman rumah Udin menjadi tempat berkumpul. Di sana, prajurit dan warga duduk bersama, berbagi cerita tentang keluarga, kehidupan, dan cita-cita membangun desa. Tidak ada jarak, tidak ada pangkat. Hanya ada rasa persaudaraan.
“Di rumah Pak Udin, kami merasa seperti di rumah sendiri,” ungkap salah seorang prajuritsalah satu anggota Satgas. “Beliau selalu menyambut kami dengan senyum, bahkan sering ikut bantu masak atau menimba air.”
Momen seperti itu yang membuat kegiatan TMMD di Tonala tidak sekadar proyek fisik, tapi juga proyek kemanusiaan membangun kedekatan, menumbuhkan kepercayaan, dan memperkuat nilai gotong royong di tengah masyarakat.
Udin berharap anak-anak muda di desanya bisa meneladani semangat para prajurit TMMD dan belajar arti kebersamaan dari peristiwa ini.
“Kalau kita mau maju, jangan tunggu orang luar bantu. Kita harus bergerak bersama. Tapi kalau ada yang datang bantu seperti TNI ini, sambutlah dengan hati,” katanya tegas.
Kini, setiap kali fajar menyingsing, terlihat bendera merah putih kecil berkibar di depan Kantor Desa tanda kebanggaannya terhadap semangat gotong royong yang telah tumbuh di desanya.
Baginya, TMMD bukan hanya program pemerintah, tapi sebuah kisah persaudaraan yang akan ia kenang seumur hidup. “Mungkin rumah saya kecil, tapi kalau bisa jadi tempat orang berbuat baik, berarti rumah ini besar di mata Tuhan,” ucapnya lirih. (isno/gopos)








