GOPOS.ID, KOTAMOBAGU – Jumlah penduduk Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) mencapai lebih dari 100 ribu jiwa, namun hanya sekitar 6 ribu orang yang tercatat sebagai petani aktif. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah.
“Penduduk kami ada sekitar 100.473 jiwa, hampir sama dengan Kota Kotamobagu. Tapi dari jumlah itu, hanya sekitar enam ribuan yang terdaftar sebagai petani. Ini tantangan bagi kami,” ujar Bupati Halmahera Timur, Ubaid, saat kunjungan kerja ke Kota Kotamobagu.
Untuk menjawab persoalan itu, Pemkab Haltim telah menyalurkan sejumlah program, mulai dari subsidi solar untuk operasional alsintan hingga dukungan bagi para nelayan. Namun menurut Bupati, tantangan terbesar bukan sekadar alat atau subsidi, melainkan menumbuhkan kembali minat masyarakat untuk bertani.
Salah satu kebijakan unik yang diterapkan adalah meewajibkan seluruh ASN, PNS, dan P3K membeli beras lokal melalui BUMD. Sebagian Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) dipotong untuk subsidi pengadaan beras, dan beras tersebut wajib diambil dari hasil produksi petani setempat.
“Kebijakan ini bukan semata soal distribusi, tapi untuk menghidupkan semangat bertani. Kalau petani tidak diberi harapan pasar, lama-lama mereka berhenti menanam,” tegas Ubaid.
Dalam kunjungan itu, Bupati Ubaid juga menyampaikan apresiasi kepada Pemkot Kotamobagu atas penyambutan yang baik. “Saya doakan agar Wali Kota ke depan bisa menjadi dua periode,” tutupnya.
Sebagai bagian agenda kunjungan, Wali Kota Kotamobagu dan Bupati Halmahera Timur meninjau lokasi pembibitan kakao di Kelurahan Kotobangon dan Desa Poyowa Besar II, termasuk kebun kakao milik Kepala BPBD Kotamobagu, Asryanti.








