GOPOS.ID, GORONTALO – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Gorontalo menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di sejumlah pasar utama di Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo sebagai respon atas tekanan inflasi yang terjadi pada Juni 2026. Operasi pasar tersebut menyediakan berbagai komoditas pangan strategis dengan harga lebih terjangkau guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Pelaksanaan GPM dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo, Sofyan Ibrahim, dan melibatkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Gorontalo, Pimpinan Perum Bulog Gorontalo, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gorontalo, serta didukung Pelaksana Harian Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo.
Berdasarkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), Provinsi Gorontalo pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 2,11 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara secara tahunan, inflasi tercatat mencapai 4,77 persen (year-on-year/yoy).
Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Sejumlah komoditas pangan yang menjadi penyumbang utama kenaikan harga antara lain cabai rawit, bawang merah, tomat, dan beras.
Pemerintah daerah menilai intervensi melalui Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok. Melalui program tersebut, masyarakat dapat memperoleh komoditas pangan dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pasar, sekaligus membantu menjaga keseimbangan harga di tingkat pedagang.
Selain menggelar operasi pasar, TPID Provinsi Gorontalo juga melakukan penyuluhan dan komunikasi langsung kepada para pedagang. Kegiatan tersebut difokuskan pada komoditas strategis, seperti beras, minyak goreng, dan daging sapi, agar pasokan dan harga tetap terjaga.
Di sisi lain, pengawasan juga diperketat terhadap pergerakan harga komoditas Barito, yakni bawang merah, rica atau cabai rawit, dan tomat. Ketiga komoditas tersebut selama ini dikenal memiliki fluktuasi harga yang cukup tinggi dan menjadi salah satu penyumbang utama inflasi daerah.
TPID juga mengajak masyarakat untuk berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu lonjakan permintaan. Sementara itu, pedagang dan distributor diharapkan menjaga kewajaran harga sehingga stabilitas pasokan dan harga pangan tetap terpelihara.
Pemerintah berharap sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Perum Bulog, pelaku usaha, dan masyarakat dapat memperkuat efektivitas pengendalian inflasi, menjaga stabilitas perekonomian daerah, serta melindungi daya beli masyarakat Gorontalo.
Terpisah sejumlah masyarakat mengapresiasi langkah TIPD Provinsi Gorontalo menggelar gerakan pasar murah. Kegiatan tersebut sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok.
“Alhamdulillah ada subsidi dari Pemerintah, tentunya hal ini sangat membantu. Misalnya untuk daging sapi dari harga normal Rp150 ribu per kilogram, dengan adanya subsidi menjadi Rp135 ribu per kilogram,” kata Yani, salah satu ibu rumah tangga.(hasan/gopos)







