GOPOS.ID, MARISA – Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Kabupaten Pohuwato berujung terpilihnya, Nasir Giasi, secara aklamasi menyisakan pesan politik yang lebih dalam dari sekadar proses pemilihan internal partai.
Dukungan penuh 13 Pimpinan Kecamatan (PK) yang memenuhi syarat 50+1 suara, menjadi penanda kuat adanya konsolidasi elite Golkar di tingkat lokal.
Tidak munculnya figur penantang dalam Musda tersebut, penanda solidnya struktur partai kepemimpinan Nasir Giasi, serta kuatnya kendali politik yang telah ia bangun selama tiga periode berturut-turut, memimpin Golkar Pohuwato. Situasi ini sekaligus meminimalkan potensi konflik internal yang kerap muncul menjelang kontestasi politik daerah.
Dari penelusuran di internal partai, dukungan aklamasi ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Konsolidasi telah dilakukan jauh hari melalui penguatan komunikasi antara DPD II dan struktur kecamatan. Para pimpinan kecamatan menilai Nasir Giasi sebagai figur yang mampu menjaga stabilitas partai, sekaligus menjembatani kepentingan kader dan elite politik lokal.
Dalam konteks politik lokal Pohuwato, posisi Ketua DPD II Golkar memiliki peran strategis. Golkar masih menjadi salah satu kekuatan dominan dalam menentukan arah dukungan politik, baik pada pemilihan legislatif maupun pemilihan kepala daerah. Karena itu, kepastian kepemimpinan di tubuh Golkar memberi sinyal stabilitas peta kekuatan politik daerah.
Nasir Giasi dalam pernyataannya menegaskan aklamasi bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik dengan kerja politik yang berpihak pada masyarakat.
“Konsolidasi internal harus sejalan dengan kerja nyata di lapangan. Golkar tidak boleh terjebak pada politik elite semata,” ujar Nasir, Selasa (16/12/2025).
Konsistensi kepemimpinan harus diimbangi dengan regenerasi kader, agar Golkar tidak kehilangan daya saing di tengah perubahan preferensi pemilih, khususnya generasi muda.
Dengan terpilihnya kembali Nasir Giasi secara aklamasi, Golkar Pohuwato memasuki fase konsolidasi lanjutan. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang memimpin, melainkan sejauh mana kepemimpinan tersebut mampu menjaga dominasi politik Golkar sekaligus menjawab tuntutan demokrasi lokal yang semakin dinamis.(Yusuf/Gopos)








