GOPOS.ID, GORONTALO – Universitas Bina Taruna Gorontalo (UNBITA) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo menyelenggarakan Kuliah Pakar bertema “Perlindungan Konsumen Jasa Keuangan dan Tata Kelola Keuangan yang Berintegritas” pada Rabu, 10 Juni 2026, bertempat di Aula Inovasi UNBITA. Kegiatan ini menghadirkan Kepala OJK Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo, Robert H.P. Sianipar, sebagai Keynote Speaker, serta diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi keuangan dan kesadaran hukum di sektor jasa keuangan.
Membuka kegiatan tersebut, Rektor Universitas Bina Taruna Gorontalo, Dr. Ellys Rachman, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa literasi keuangan tidak lagi menjadi kebutuhan tambahan, melainkan kompetensi dasar yang harus dimiliki generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan layanan keuangan digital.
“Mahasiswa harus menjadi kelompok yang paling siap menghadapi transformasi sektor keuangan. Pemahaman mengenai perlindungan konsumen, tata kelola keuangan yang baik, serta kesadaran terhadap risiko keuangan digital merupakan bagian penting dalam membentuk sumber daya manusia yang cerdas, kritis, dan berintegritas,” ujar Dr. Ellys Rachman.
Pandangan tersebut sejalan dengan upaya OJK dalam memperluas edukasi keuangan kepada masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa sebagai generasi yang akan menjadi pengambil keputusan dan pelaku ekonomi di masa depan.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo, Robert H.P. Sianipar, menekankan bahwa peningkatan literasi keuangan menjadi salah satu strategi utama untuk melindungi masyarakat dari berbagai risiko penyalahgunaan layanan keuangan, termasuk investasi ilegal, pinjaman online ilegal, hingga berbagai bentuk penipuan digital yang semakin kompleks.
“Perlindungan konsumen yang efektif dimulai dari pemahaman yang baik. Ketika masyarakat memiliki literasi keuangan yang memadai, mereka akan lebih mampu mengenali risiko, memahami hak dan kewajibannya, serta mengambil keputusan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab,” jelas Robert H.P. Sianipar.
Kesadaran tersebut menjadi semakin penting mengingat perkembangan ekosistem keuangan digital yang memberikan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan baru yang membutuhkan kemampuan adaptasi dan pemahaman regulasi yang memadai.
Dr. Ellys Rachman menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan hidup yang relevan dengan kebutuhan zaman. Menurutnya, literasi keuangan merupakan salah satu bagian penting dari kompetensi abad ke-21 yang harus diperkuat melalui kolaborasi antara kampus dan lembaga regulator.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa pengelolaan keuangan yang baik bukan hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut etika, tanggung jawab, dan integritas. Karena itu, kolaborasi dengan OJK menjadi sangat penting dalam memperkuat wawasan mahasiswa secara komprehensif,” ungkapnya.
Komitmen tersebut mendapat dukungan dari OJK yang terus mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun budaya keuangan yang sehat dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Robert H.P. Sianipar menyampaikan bahwa kampus memiliki posisi strategis sebagai pusat edukasi yang mampu mempercepat penyebaran informasi dan pemahaman mengenai sektor jasa keuangan kepada masyarakat luas melalui mahasiswa sebagai agen literasi.
“Mahasiswa memiliki potensi besar sebagai agent of change. Pengetahuan yang mereka peroleh di kampus dapat diteruskan kepada keluarga, komunitas, dan lingkungan sosialnya sehingga dampak edukasi keuangan menjadi lebih luas dan berkelanjutan,” katanya.
Sebagai bagian dari penguatan substansi kegiatan, kuliah pakar ini juga menghadirkan Berlin Situmorang, Manajer Madya Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK SulutGo; Svadev Pranagun Mahasagara, Asisten Manajer Divisi PEPK & LMS OJK SulutGo; serta Fitrawan, Branch Manager Bank Muamalat Gorontalo. Ketiga narasumber memberikan perspektif mengenai perlindungan konsumen, pengawasan sektor jasa keuangan, pengelolaan risiko keuangan, serta praktik tata kelola keuangan yang berintegritas dalam dunia profesional.
Melihat tingginya antusiasme peserta, Dr. Ellys Rachman menilai bahwa kegiatan semacam ini menjadi bukti meningkatnya kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya literasi keuangan sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi dan transformasi digital yang terus berkembang.
“Kampus harus menjadi ruang yang mempertemukan ilmu pengetahuan, regulasi, dan praktik profesional. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melihat secara langsung bagaimana tata kelola keuangan yang baik diterapkan dalam kehidupan nyata,” tegasnya.
Menutup Sambutannya, Robert H.P. Sianipar berharap sinergi antara OJK dan Universitas Bina Taruna Gorontalo dapat terus diperkuat melalui berbagai program edukasi yang berkelanjutan. Menurutnya, penguatan literasi dan inklusi keuangan merupakan investasi jangka panjang dalam membangun masyarakat yang lebih cerdas, tangguh, dan terlindungi dari berbagai risiko di sektor jasa keuangan.
“Masyarakat yang memiliki literasi keuangan yang baik akan lebih siap menghadapi perubahan, lebih terlindungi sebagai konsumen, dan mampu memanfaatkan layanan keuangan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan,” pungkasnya. (Rama/Gopos)








