Oleh: Husin Ali
Antropolog, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo
Pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu memihak—entah kepada mereka yang sudah kuat, atau kepada mereka yang sedang berjuang untuk bertahan. Ia bisa menjadi tangga sosial yang mengangkat martabat manusia, tetapi juga dapat menjadi cermin ketimpangan bila tidak dirancang dengan keberpihakan. Dalam pengalaman saya sebagai antropolog, pendidikan selalu lebih dari sekadar kurikulum dan ruang kelas. Ia adalah ruang tempat harapan, budaya, dan masa depan dipertaruhkan.
Ketika Wali Kota Gorontalo, Haji Adhan Dambea, bersama Wakil Wali Kota Indra Gobel memberi kepercayaan kepada saya untuk membantu beliau membangun kota melalui bidang pendidikan dan kebudayaan, saya memahami amanah itu bukan sebagai kehormatan pribadi semata. Saya membacanya sebagai pesan yang lebih dalam: bahwa pembangunan kota tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi dari kualitas manusianya. Pendidikan adalah fondasi peradaban.
Dari titik itulah lahir dan dipahami Make Up School—bukan sekadar sebagai kebijakan teknis pasca penerimaan murid, tetapi sebagai strategi kebudayaan. Sebuah cara untuk memastikan bahwa setiap anak di Kota Gorontalo, dari latar sosial mana pun, merasakan mutu pendidikan yang sama bermartabat.
Selama ini kita sering terjebak pada dikotomi sekolah unggulan dan sekolah biasa. Label itu mungkin tampak administratif, tetapi dalam kacamata antropologi, ia membentuk makna sosial. Anak-anak belajar memahami dirinya melalui cara masyarakat memberi label pada sekolahnya. Ketika sebuah sekolah dicap unggul, yang lain secara diam-diam diberi makna lebih rendah. Hierarki simbolik inilah yang perlahan membentuk ketimpangan rasa percaya diri dan ekspektasi sosial.
Make Up School hadir untuk membongkar konstruksi tersebut. Strateginya bukan menyeragamkan sekolah, melainkan menyetarakan martabat. Pemerataan kualitas pendidikan berarti memastikan semua sekolah memiliki layanan yang layak, guru yang terus bertumbuh, serta pembelajaran yang relevan dengan konteks sosial muridnya. Bukan dengan memaksakan standar yang kaku, tetapi dengan menghadirkan keadilan kontekstual.
Kami membangun Make Up School di atas lima pilar: guru bertumbuh, sekolah berbasis budaya, digitalisasi layanan pendidikan, satu sekolah satu karya budaya, dan kota sebagai ruang belajar. Guru didorong untuk terus belajar dan beradaptasi, tidak hanya dalam kompetensi akademik, tetapi juga dalam kepekaan sosial. Sekolah dihidupkan sebagai ruang budaya yang mengintegrasikan nilai lokal dan religiusitas Gorontalo. Sistem layanan diperkuat melalui digitalisasi agar transparan dan berbasis data. Setiap sekolah didorong memiliki karya budaya sebagai identitas. Dan kota sendiri dijadikan ruang belajar bersama—taman, pasar, rumah ibadah, dan ruang publik menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.
Namun gagasan ini tidak lahir dari teori semata. Ia lahir dari pengalaman hidup saya sendiri.
Saya adalah anak seorang buruh tani dan seorang ibu guru ngaji. Ayah saya bekerja di sawah milik orang lain. Tangannya keras oleh lumpur dan panas matahari. Ia memelihara sapi titipan dan menerima upah yang tak selalu pasti. Ibu saya mengajar mengaji di rumah-rumah, menanamkan iman dan kesabaran sebagai bekal utama hidup.
Kami enam bersaudara, semuanya laki-laki. Ayah mendidik kami dengan satu prinsip sederhana: sekolah adalah jalan keluar, tetapi jalan itu harus ditempuh dengan kerja keras. Sejak kecil saya menjaga sapi orang, membantu di sawah yang bukan milik kami. Saya bersekolah dari keringat ayah, yang bahkan pernah berutang ke gilingan padi demi memastikan kami tetap belajar.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, ibu memberi saya minum air yang direndam semalaman dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Kepala saya diusapnya dengan doa dan sholawat. Tidak ada pidato motivasi, hanya keteguhan seorang ibu bahwa pendidikan harus dibarengi iman.
Adik-adik saya tumbuh dalam disiplin yang sama. Ada yang menjadi angka cii—mengangkat barang di pasar demi menambah biaya sekolah. Ada yang berjualan talas (longgi), ada yang menjual tas plastik. Kami semua belajar bahwa sekolah bukan alasan untuk berhenti bekerja, dan bekerja bukan alasan untuk berhenti sekolah.
Saya sendiri sejak SD sudah berdagang kecil-kecilan. Menjual biskuit—kukis burung, kukis pistol, halua. Di SMK 1, saya menerima jasa memperbaiki taman kelas teman-teman lain. Ketika kuliah, saya menjadi pengemudi bendi, bahkan kemudian bentor, demi membayar biaya hidup dan pendidikan. Saya pernah duduk di ruang kuliah dengan tangan masih terasa lelah menarik kuda di jalanan.
Saya tidak pernah merasa rendah karena itu. Justru dari situ saya memahami makna martabat. Martabat bukan soal asal-usul, tetapi tentang keberanian menjaga mimpi dalam keterbatasan.
Pengalaman itulah yang membentuk cara saya memandang pendidikan. Saya tahu rasanya hampir tertinggal. Saya tahu bagaimana satu kesempatan sekolah bisa mengubah arah hidup seseorang. Karena itu, bagi saya, pendidikan bermutu untuk semua bukan sekadar amanat UUD 1945 dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Ia adalah janji moral.
Kepercayaan yang diberikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota saya maknai sebagai komitmen bersama untuk menghadirkan keadilan dalam pendidikan. Pembangunan kota tidak cukup dengan memperindah wajahnya; ia harus memperkuat manusianya. Dan manusia diperkuat melalui pendidikan yang adil dan bermartabat.
Make Up School adalah cara Kota Gorontalo mengatakan kepada setiap anak: kami melihatmu. Kami percaya bahwa anak buruh tani, anak penjual talas, anak pengemudi bentor, memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berhasil. Sekolah bukan tempat seleksi sosial, melainkan ruang pemulihan harapan.
Jika hari ini saya dipercaya memimpin pendidikan dan kebudayaan, itu bukan karena saya paling layak, tetapi karena saya pernah berada di titik yang sama dengan banyak anak hari ini. Maka Make Up School adalah upaya memastikan bahwa jalan yang dulu kami tempuh dengan keringat dan doa, kini bisa dilalui anak-anak Gorontalo dengan lebih ringan—tanpa kehilangan nilai, tanpa kehilangan martabat.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari jumlah sekolah unggulan, tetapi dari jumlah manusia yang kita muliakan. Dan jika Indonesia ingin menuju 2045 dengan percaya diri, maka setiap kota harus memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam sunyi.
Pendidikan adalah tentang memanusiakan. Dan Make Up School adalah ikhtiar kecil kami di Kota Gorontalo untuk memastikan bahwa setiap anak—apa pun latarnya—tetap percaya bahwa hidupnya berharga dan masa depannya mungkin. Dan di Kota Gorontalo Pendidikan dan Kebudayaan Torang Bekeng Bae.(*)








