GOPOS.ID, GORONTALO — Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., IPU., ASEAN.Eng, menjadi salah satu pembicara utama dalam Konfrensi Pendidikan Tinggi 2025. Forum konsolidasi terbesar pendidikan tinggi Indonesia, itu digelar selama 3 hari, mulai 19 November hingga 21 November 2025.
Dalam pemaparannya, Eduart membahas isu-isu strategis pendidikan tinggi Indonesia, khususnya terkait transformasi tata kelola perguruan tinggi negeri (PTN).
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Prof. Eduart memaparkan dinamika perubahan status kelembagaan PTN, mulai dari PTN Satker, PTN BLU, hingga PTN Badan Hukum (PTNBH), beserta implikasinya terhadap otonomi, pengelolaan keuangan, dan kualitas layanan pendidikan tinggi.
Transformasi Struktural PTN: Dari Birokratis ke Agile Governance
Dalam paparannya, Prof. Eduart menjelaskan bahwa pendidikan tinggi Indonesia kini berada pada fase transformasi besar yang menuntut perubahan cara kerja, tata kelola, dan orientasi layanan.
“Transformasi tata kelola PTN memerlukan perubahan fundamental dari model birokratis tradisional menuju manajemen yang agile, responsif, dan berorientasi pada dampak,” ujar Prof. Eduart.
Ia menegaskan bahwa peralihan status PTN bukan sekadar perubahan administratif, tetapi perubahan paradigma menuju perguruan tinggi yang lebih mandiri, profesional, dan inovatif.

Paradigma Baru: Kampus Berdampak sebagai Evolusi MBKM
Prof. Eduart juga menyoroti kebijakan nasional terbaru, Kampus Berdampak, yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 2 Mei 2025 sebagai evolusi strategis dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Paradigma ini mengubah fokus perguruan tinggi dari sekadar menghasilkan lulusan dan publikasi, menjadi pusat solusi sosial yang memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, turut memperkuat arah transformasi tersebut:
“Universitas harus menjadi mesin perubahan yang nyata bagi masyarakat,” paparnya.
Prof. Eduart menekankan bahwa pesan ini menjadi landasan perguruan tinggi untuk mengembangkan riset terapan, inovasi teknologi, dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan bangsa.
Menuju University 4.0: Tiga Pilar Transformasi
Dalam forum tersebut, Prof. Eduart menguraikan bahwa perguruan tinggi Indonesia saat ini tengah bergerak menuju University 4.0, sebuah paradigma yang menempatkan universitas sebagai ekosistem inovasi berbasis teknologi dan kolaborasi.
Tiga pilar utamanya meliputi:
Digitalisasi Penuh: Integrasi teknologi dalam seluruh aspek operasional kampus—mulai dari pembelajaran, tata kelola akademik, hingga administrasi.
Inovasi Berkelanjutan: Membangun budaya riset dan pengembangan yang menghasilkan terobosan nyata dan berdampak luas.
Kolaborasi Ekosistem: Memperkuat kemitraan strategis dengan industri, pemerintah, lembaga internasional, dan masyarakat sebagai upaya menghadirkan solusi terhadap isu global.
UNG Komitmen pada Penguatan Tata Kelola dan Inovasi
Melalui partisipasinya dalam konferensi ini, UNG menunjukkan komitmen kuat untuk berada di garis terdepan dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi melalui tata kelola yang modern, inovatif, dan berkelanjutan.
Prof. Eduart menegaskan bahwa UNG siap beradaptasi dan bertransformasi untuk menjawab tantangan pendidikan tinggi, sekaligus memastikan universitas menjadi institusi yang relevan, berdampak, dan memiliki kontribusi strategis bagi pembangunan daerah, nasional, hingga global. (adm-02/gopos)








