GOPOS.ID, JEMBER – Pemerintah Kabupaten Jember mengklaim kinerja ekonomi daerah menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Hal itu disampaikan Bupati Jember Gus Fawait dalam kegiatan program Bunga Desaku di Mumbulsari.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai lembaga, mulai kepolisian, Bank Indonesia, BPS, BPJS, hingga jajaran organisasi perangkat daerah yang memaparkan perkembangan ekonomi dan sosial daerah.
Menurut Gus Fawait, data yang dipresentasikan dalam forum menunjukkan capaian ekonomi Jember menonjol dibanding kabupaten lain di wilayah Tapal Kuda.
“Dari angka-angka yang dipaparkan, saya menyimpulkan performa ekonomi Kabupaten Jember menjadi salah satu yang terbaik di Tapal Kuda tahun 2025,” ujar Gus Fawait.
Ia menjelaskan, penilaian tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keseimbangan peningkatan pendapatan daerah tanpa membebani masyarakat melalui kenaikan pajak.
“Pertumbuhan ekonomi tinggi belum tentu sehat jika pendapatan stagnan. Di Jember, pertumbuhan dan PAD sama-sama meningkat tanpa menaikkan pajak,” katanya.
Pemkab mencatat Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat hingga 36 persen. Kenaikan itu disebut berasal dari optimalisasi potensi dan digitalisasi transaksi keuangan, bukan kebijakan pajak baru.
“Kalau PAD naik karena pajak dinaikkan itu biasa. Tapi kita meningkat lewat optimalisasi dan menutup kebocoran, termasuk lewat digitalisasi transaksi,” ucapnya.
Gus Fawait menegaskan tujuan utama peningkatan ekonomi adalah menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
“Kemiskinan sudah turun pada 2025, dan saya optimistis 2026 bisa lebih rendah lagi, bahkan menembus target di bawah angka psikologis yang kami tetapkan,” katanya.
Pemerintah daerah juga optimistis pertumbuhan ekonomi tetap melaju karena dukungan anggaran pusat melalui proyek infrastruktur, pertanian, serta sektor pendidikan pada 2026.
Selain APBD dan APBN, keberadaan dapur MBG yang jumlahnya terbesar kedua di Jawa Timur dinilai akan meningkatkan perputaran ekonomi lokal.
Fokus pengentasan kemiskinan masih diarahkan pada wilayah pinggiran desa, kawasan kebun, hutan, dan pesisir yang selama ini menjadi kantong kemiskinan.
Program Bunga Desaku sengaja digelar di wilayah pinggiran sebagai strategi pemerataan pembangunan sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat desa.
“Karena itu kita mulai dari pinggir desa dulu, supaya pertumbuhan ekonomi tidak hanya terasa di kota tetapi merata sampai wilayah terpencil,” ujar Gus Fawait.
Di sisi investasi, Pemkab menyebut pertumbuhan terjadi hampir merata, termasuk rencana pembangunan rumah sakit baru dan industri pengalengan ikan di Jember.
Sektor pariwisata juga menunjukkan lonjakan signifikan. Kunjungan wisatawan meningkat tajam, salah satunya di kawasan Pantai Watu Ulo saat libur Idul Fitri.
“Dulu pengunjung sekitar 14 ribu, sekarang hampir 60 ribu. Ini lompatan besar yang menambah optimisme ekonomi Jember ke depan,” katanya.
Terkait inflasi, pemerintah daerah memastikan kondisi masih terkendali meski sempat naik saat periode Ramadan dan Idul Fitri akibat peningkatan permintaan.
Pemkab bersama Bank Indonesia dan akademisi menyiapkan forum khusus untuk memastikan program MBG tetap mendorong pertumbuhan tanpa memicu inflasi berlebihan.
Program Bunga Desaku juga dinilai membantu stabilisasi harga melalui kegiatan operasi pasar dan pembagian sembako di kecamatan.
“Kalau kegiatan ini diperbanyak saat risiko cuaca ekstrem, dampaknya bisa menekan inflasi sekaligus membantu masyarakat,” ujar Gus Fawait.(kur)








