GOPOS.ID, GORONTALO – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Gorontalo pada Agustus 2025 tercatat sebesar 3,42 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka 3,12 persen. Kenaikan ini mencerminkan tekanan pasar kerja yang masih berlangsung, terutama di wilayah perkotaan.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menyampaikan bahwa peningkatan TPT terjadi baik secara jumlah maupun persentase. “Jumlah pengangguran di Gorontalo mencapai 22.418 orang, naik sekitar dua ribu orang dibandingkan Agustus 2024.,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (5/11/2025).
Secara spasial, pengangguran di wilayah perkotaan tercatat sebesar 4,16 persen, lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang berada di angka 2,70 persen. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa tekanan pengangguran lebih terasa di pusat-pusat aktivitas ekonomi, yang seharusnya menjadi motor penciptaan lapangan kerja. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh preferensi pencari kerja yang lebih beragam di wilayah perkotaan dibanding wilayah perdesaan.
Dari sisi jenis kelamin, TPT perempuan mengalami kenaikan lebih tajam dibandingkan laki-laki. TPT perempuan naik menjadi 3,61 persen, sementara laki-laki berada di angka 3,30 persen. “Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi TPT perempuan lebih tinggi. Di antaranya perempuan lebih selektif dalam memilih pekerjaan,” ungkap Dwi Alwi.
Jika dilihat dari tren dua tahun terakhir, TPT Gorontalo menunjukkan pola fluktuatif. Setelah sempat menurun pada Februari 2025, angka pengangguran kembali meningkat pada Agustus. Hal ini beriringan dengan penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), terutama di kalangan perempuan.
Dwi Alwi mengungkapkan, sektor pertambangan, pengadaan listrik dan gas, serta pengadaan air tercatat sebagai sektor dengan penyerapan tenaga kerja tertinggi, menyerap tambahan 11.550 orang selama setahun terakhir.
“Sektor-sektor tradisional seperti pertanian dan perdagangan tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar secara total,” tegasnya.
Di lain tempat, Pemprov Gorontalo terus berupaya meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal. Langkah yang dilakukan di antaranya peningkatan pelatihan tenaga kerja serta penguatan peran Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai pusat pengembangan ketrampilan.
“Pemerintah Provinsi Gorontalo berharap adanya dukungan dari Kementerian Ketenagakerjaan untuk melatih sekitar 1.028 tenaga kerja lokal di sektor pertambangan, pariwisata, infrastruktur, dan agromaritim, dengan total anggaran mencapai Rp5,3 miliar,” ujar Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, saat berkunjung ke Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, 10 Oktober 2025.
Gusnar juga mendorong program pelatihan dan pemagangan nasional. Baginya, ini langkah strategis agar pemuda Gorontalo lebih siap memasuki dunia kerja, terutama di sektor-sektor potensial yang tengah berkembang pesat di daerah.
Dengan tren pengangguran yang meningkat, Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan diharapkan memperkuat kebijakan ketenagakerjaan yang inklusif dan berbasis kebutuhan lokal. Peningkatan TPT tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah pencari kerja baru, tetapi juga oleh ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan pasar.(hasan/gopos)








