GOPOS.ID, GORONTALO – Fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Provinsi Gorontalo semakin menjadi sorotan dari berbagai kalangan masyarakat. Dalam menghadapi keresahan yang berkembang di masyarakat, sejumlah tokoh agama dan influencer muda menyerukan langkah-langkah konkret yang diperlukan, mulai dari penguatan internal keluarga hingga gerakan masif di media sosial.
Ustad Yusuf Lauma, salah satu tokoh agama dari Wahdah Islamiyah di Gorontalo, menekankan pentingnya masyarakat untuk kembali kepada akar moralitas daerah. Menurutnya, benteng utama dalam menghadapi fenomena ini adalah dengan memegang teguh nilai-nilai leluhur. “Kembali pada fitrah adalah kembali pada ajaran nenek moyang dan pendahulu kita,” ungkap Ustad Yusuf Lauma dalam keterangannya baru-baru ini.
Penyebab Biseksual dan Evaluasi Hubungan Suami-Istri
Ustad Yusuf juga menyoroti meningkatnya perilaku biseksual di kalangan masyarakat. Ia berpendapat bahwa fenomena penyimpangan orientasi seksual tersebut sering kali berakar dari disharmoni dalam hubungan rumah tangga. Oleh karena itu, ia meminta pasangan suami istri untuk lebih mawas diri dan melakukan evaluasi mendalam terhadap hubungan mereka. “Biseks itu terjadi karena ada penyimpangan dalam hubungan suami-istri. Sehingganya, ini menjadi penting untuk melakukan evaluasi mendalam dalam hubungan keluarga,” tambahnya.
Kurangnya Figur Guru Laki-Laki di TK Diduga Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Pandangan menarik juga disampaikan oleh Ustad Ishak Bakari dari sudut pandang pendidikan. Ia mengamati bahwa ada faktor eksternal di lingkungan pendidikan anak usia dini yang dinilai kurang seimbang dalam memberikan figur gender kepada anak. Ustad Ishak menyebutkan bahwa dominasi guru perempuan di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dapat secara tidak langsung memengaruhi pembentukan imunitas psikologis anak laki-laki yang kekurangan figur maskulin. “Dari segi pendidikan, kita kekurangan guru laki-laki di TK. Bisa jadi dominasi imunitas anak itu dibangun karena banyak didominasi guru perempuan,” jelas Ustad Ishak Bakari.
Perang Siber dan Falsafah Adat Sebagai Dasar Tolak LGBT di Bumi Gorontalo
Respons terhadap fenomena LGBT ini juga datang dari generasi muda. Sandy S. Nina, seorang penulis muda dan influencer asal Gorontalo, mengajak netizen untuk mengambil peran aktif di dunia digital. Menurut Sandy, media sosial saat ini menjadi medan tempur yang krusial untuk menekan penyebaran pengaruh komunitas tersebut. “Peranan kita dalam bersosial media juga harus terus masif untuk melawan para pelaku LGBT,” tegas Sandy.
Lebih lanjut, ia mengingatkan kembali esensi identitas masyarakat Gorontalo yang sangat religius dan memegang teguh adat istiadat. Sandy menegaskan bahwa konsep atau pemahaman LGBT bertolak belakang dan tidak memiliki tempat di atas tanah Gorontalo selama falsafah daerah masih dijaga. “Sekali lagi, selama falsafah Gorontalo tak bergeser sedikitpun, bahwa kita di Gorontalo adat bersendikan sarah, sarah bersendikan kitabullah (Al-Qur’an), maka itu sudah lebih dari cukup bahwa pemahaman LGBT tempatnya bukan di Gorontalo,” pungkas Sandy dengan tegas.
Diskusi Publik dan Harapan Masyarakat
Perlu diketahui, berbagai pandangan dan bentuk penolakan terhadap LGBT di Gorontalo hadir dalam momentum diskusi publik yang diinisiasi oleh Wahdah Islamiyah Kota Gorontalo. Diskusi bertema “Menyikapi Fenomena LGBT di Kalangan Pemuda Gorontalo” yang berlangsung pada Jumat malam (26/6/2026) turut dihadiri oleh unsur pemerintah Kota Gorontalo, pengurus wilayah dan kota Wahdah Islamiyah, insan pers, akademisi, dan anak muda.
Melalui forum diskusi tersebut, pihak-pihak terkait berencana melakukan audiensi dengan MUI Gorontalo dan mendukung agar Peraturan Daerah (Perda) tentang pelarangan LGBT menjadi perhatian serius pemerintah provinsi Gorontalo. Masyarakat Gorontalo berharap kolaborasi antara pemuka agama, pendidik, dan pegiat media sosial ini dapat menekan angka penyimpangan sosial serta menjaga marwah Gorontalo sebagai daerah yang religius dan beradat sesuai falsafah “Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah.” (Putra/Gopos)






