GOPOS.ID, GORONTALO – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Gorontalo pada Oktober 2025 tercatat sebesar 116,03, mengalami kenaikan tipis sebesar 0,04 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan perbaikan daya beli petani di tengah fluktuasi harga komoditas dan biaya produksi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo menunjukkan, subsektor tanaman pangan dan perikanan menjadi penopang utama kenaikan NTP bulan ini. NTP merupakan indikator penting untuk mengukur kesejahteraan petani, dihitung dari perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dan indeks harga yang dibayar petani (Ib).
“Pada Oktober, indeks harga yang diterima petani tercatat turun sebesar 0,62 persen, sementara indek harga yang dibayar turun lebih dalam sebesar 0,66 persen. Penurunan indeks harga bayar petani yang lebih besar menjadi faktor utama pendorong kenaikan NTP,” ungkap Plt. Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, Senin (3/11/2025) pada rilis berita resmi statistik BPS Provinsi Gorontalo edisi November 2025.
Secara sektoral, subsektor tanaman pangan mencatat kenaikan NTP tertinggi sebesar 2,10 persen. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan harga komoditas palawija, terutama jagung, yang naik 3,70 persen. Sementara itu, subsektor perikanan juga mengalami kenaikan NTP sebesar 1,28 persen, dengan kontribusi terbesar berasal dari perikanan budidaya yang naik 4,76 persen.
“Komoditas seperti ikan bandeng dan nila menjadi pendorong utama kenaikan harga di subsektor ini,” kata Dwi Alwi Astuti.
Sebaliknya, subsektor hortikultura mengalami penurunan tajam sebesar 14,18 persen. Penurunan ini dipicu oleh turunnya harga sayur-sayuran seperti cabai rawit, tomat, dan bawang merah. Indeks harga yang diterima petani hortikultura turun 14,49 persen, sementara indeks harga yang dibayar hanya turun 0,35 persen, sehingga menyebabkan penurunan daya tukar yang signifikan.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat juga mengalami penurunan NTP sebesar 1,09 persen, terutama akibat turunnya harga kakao. Sementara itu, subsektor peternakan mencatat kenaikan NTP sebesar 1,21 persen, meskipun harga ternak besar seperti sapi potong mengalami penurunan.
“Penurunan biaya produksi dan konsumsi rumah tangga menjadi faktor penyeimbang dalam subsektor ini,” urai Dwi Alwi Astuti.
Dari sisi regional, Gorontalo menjadi salah satu dari enam provinsi di kawasan timur Indonesia yang mencatat kenaikan NTP pada Oktober 2025. Kenaikan tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 2,25 persen, sementara penurunan terdalam tercatat di Sulawesi Tengah sebesar 4,97 persen.
Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Gorontalo juga mengalami penurunan sebesar 0,56 persen. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,96 persen, mencerminkan tekanan harga pada kebutuhan pokok petani.
Secara keseluruhan, kenaikan NTP Gorontalo pada Oktober 2025 menunjukkan adanya perbaikan daya tukar petani, meskipun masih dibayangi oleh tekanan harga di beberapa subsektor. Stabilitas harga komoditas unggulan dan efisiensi biaya produksi menjadi faktor kunci dalam menjaga kesejahteraan petani di tengah dinamika ekonomi daerah.(hasan/gopos)








