No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Mama yang Pilih, Papa yang Bayar

Catatan Antropolog dari Pasar Mingguan Gorontalo: Husin Ali

Admin by Admin
Sabtu 3 Januari 2026
in Perspektif
0
Husin Ali bersama Istri

Husin Ali bersama Istri

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

SEBAGAI antropolog, saya percaya satu hal: jika ingin membaca watak sebuah masyarakat, jangan mulai dari ruang rapat atau mimbar pidato. Mulailah dari pasar. Dari tempat orang berbicara apa adanya, bertransaksi dengan jujur, dan mempraktikkan kebudayaan tanpa sadar sedang “berbudaya”.

Sabtu pagi di pasar mingguan Gorontalo selalu menyuguhkan etnografi paling hidup. Di antara sayur yang masih basah oleh embun dan ikan yang berkilau di atas es, terdengar satu kalimat yang berulang, ringan, dan nyaris dianggap lelucon: “Mama yang pilih, Papa yang bayar.”

Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi seorang antropolog, ia adalah pintu masuk untuk memahami relasi kuasa, pembagian peran, dan etika rumah tangga masyarakat Gorontalo—tanpa perlu satu pun definisi akademik.

Di pasar itu, Mama melangkah lebih dulu. Matanya tajam, tangannya cekatan, suaranya tenang tapi menentukan. Ia tahu betul kualitas ikan, harga wajar cabai, dan perbedaan tipis antara sayur segar dan sayur yang hanya tampak segar. Di belakangnya, Papa mengikuti dengan ritme yang berbeda: membawa kantong belanja, sesekali bertanya, lebih sering mengangguk. Ketika tiba saatnya membayar, Papa melangkah maju tanpa ragu.

Baca Juga :  Pasar Kayubulan Jadi Contoh New Normal di Kabupaten Gorontalo

Tak ada ekspresi kalah, tak ada wajah terpaksa. Yang terlihat justru kerja sama yang matang—sebuah sistem sosial kecil yang telah teruji oleh waktu.

Dalam kacamata antropologi, ini bukan soal siapa berkuasa atas siapa. Ini soal otoritas berbasis pengalaman. Mama memilih karena ia mengelola dapur, kesehatan keluarga, dan kesinambungan konsumsi rumah tangga. Papa membayar karena ia memegang mandat ekonomi keluarga. Keduanya tidak saling meniadakan, justru saling melengkapi.

Menariknya, semua itu terjadi tanpa kontrak, tanpa diskusi panjang, bahkan tanpa disadari sebagai “pembagian peran”. Inilah yang dalam antropologi disebut sebagai pengetahuan praktis—nilai yang hidup, diwariskan, dan dipelajari melalui praktik sehari-hari, bukan lewat ceramah.

Humor menjadi perekatnya. Ketika penjual berkata, “Biasa ini, Mama yang pilih, Papa yang bayar,” semua tertawa. Tawa itu penting. Ia menandai bahwa relasi ini diterima secara sosial. Tidak terasa menindas, tidak pula dianggap merendahkan. Humor bekerja sebagai mekanisme kultural untuk menjaga keseimbangan.

Di tengah perdebatan modern tentang relasi gender yang sering keras dan saling mencurigai, pasar Gorontalo menawarkan wajah lain dari kesetaraan: kesetaraan yang cair, kontekstual, dan berakar pada kepercayaan. Kesetaraan yang tidak memaksa semua orang melakukan hal yang sama, tetapi memastikan setiap peran dihargai.

Baca Juga :  Proklamasi di Kabila dan Merah Putih 16 Agustus

Pasar mengajarkan bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk suara keras atau keputusan final. Ia bisa hadir dalam bentuk keahlian memilih ikan yang segar. Dalam keberanian menawar harga. Dalam keikhlasan membuka dompet demi kebutuhan bersama.

Maka, “Mama yang pilih, Papa yang bayar” bukanlah lelucon rumah tangga. Ia adalah narasi kecil tentang harmoni sosial. Sebuah etika domestik yang lahir dari pengalaman, bukan dari teori. Ia hidup karena bekerja—dan bekerja karena dipercaya.

Sebagai antropolog, saya melihat pasar mingguan Gorontalo bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi laboratorium kebudayaan. Dan di antara lapak-lapak sederhana itu, Indonesia yang paling jujur sedang dipraktikkan: tentang keluarga, tentang peran, dan tentang bagaimana hidup bersama tanpa harus saling mengalahkan.

Setiap Sabtu, pelajaran itu diulang kembali. Sunyi, sederhana, dan justru karena itu—sangat bermakna.

Tags: PasarPersepsi
Previous Post

Ketua Futsal Dorong Nikson Ahmad Atau Ramdan Datau Pimpin Ketua Harian KONI Kota Gorontalo

Next Post

Kodim 1315 dan Pemkab Gorontalo, Perkuat Ketahanan Pangan Daerah Lewat Panen Raya

Related Posts

Perspektif

Pancasila 1 Juni: Warisi Apinya, Bukan Abunya

Senin 1 Juni 2026
Perspektif

DPC GMNI Jakarta Timur Hadir Membuka Bantuan Hukum untuk Kaum Marhaen dan Kaum Marjinal

Kamis 28 Mei 2026
Perspektif

Di Balik Pengakuan Bersalah, Adakah Keadilan untuk Korban?

Rabu 20 Mei 2026
Husin Ali - Antropolog
Perspektif

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Jumat 15 Mei 2026
Perspektif

Biografi Azis Rachman: Meniti Jalan Pengabdian dan Kepemimpinan

Sabtu 2 Mei 2026
Perspektif

Menuju Pengajaran Bahasa Inggris Inklusif: Lepas dari Belenggu “Native-Like”

Jumat 24 April 2026
Next Post

Kodim 1315 dan Pemkab Gorontalo, Perkuat Ketahanan Pangan Daerah Lewat Panen Raya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • SIM Digital Resmi Hadir, Ini Langkah Mudah Aktivasi Lewat HP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Riset Mahasiswa UNBITA Jadi Masukan BPBD, Petakan Kerentanan Banjir di Dumbo Raya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polresta Gorontalo Kota Sita 13 Unit Kendaraan Diduga Terlibat Balap Liar 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kronologis Satu Pekerja Tewas di Tambang Suwawa Timur 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Gorontalo Terus Perkuat Sektor Peternakan dan Perkebunan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.