GOPOS.ID, GORONTALO – Provinsi Gorontalo berhasil menutup kalender 2025 dengan rapor ekonomi yang “adem”. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat inflasi tahunan (year-on-year) pada Desember 2025 berada di angka 2,52 persen. Angka ini seolah menjadi hadiah akhir tahun karena sukses mendarat tepat di titik tengah target nasional, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.
Meski terkendali secara agregat, tekanan harga masih terasa kuat pada kebutuhan harian masyarakat, terutama pangan dan perawatan pribadi. Data BPS menunjukkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 1,56 persen dari total inflasi tahunan. Disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,67 persen, serta transportasi sebesar 0,17 persen.
“Inflasi Gorontalo masih terjaga dalam sasaran nasional. Namun, kontribusi terbesar tetap berasal dari kelompok pangan,” kata Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, saat rilis Berita Resmi Statistik Januari 2026, Senin (5/1).
BPS mencatat sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan, antara lain emas perhiasan, bawang merah, beras, ikan cakalang, ikan layang, sigaret kretek mesin (SKM), daging ayam ras, nasi dengan lauk, kopi bubuk, dan telur ayam ras. Komoditas-komoditas ini mencerminkan tekanan harga yang langsung bersentuhan dengan konsumsi rumah tangga.
Di sisi lain, tidak semua kelompok mengalami kenaikan harga. Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga justru turun 2,97 persen. Penurunan juga terjadi pada informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (1,58 persen), rekreasi, olahraga, dan budaya (0,40 persen), serta kesehatan (0,12 persen).
Komoditas yang menahan laju inflasi atau menyumbang deflasi tahunan antara lain tomat, sabun detergen bubuk, telepon seluler, cumi-cumi, terong, kangkung, ikan tuna, bawang putih, minyak goreng, dan kemiri.
Deflasi Bulanan
Secara bulanan (month to month/m-to-m), Gorontalo justru mengalami deflasi 0,88 persen pada Desember 2025 dibanding November. Penurunan harga terutama dipicu oleh komoditas pangan segar dan tarif transportasi.
Komoditas yang masih memberikan tekanan inflasi bulanan antara lain bawang merah, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, emas perhiasan, hingga nasi dengan lauk. “Deflasi didorong oleh turunnya harga tomat, beras, ikan layang, terong, ikan selar, angkutan udara, daun bawang, jeruk nipis, ketimun, dan sabun detergen bubuk,” terang Dwi Alwi Astuti.
Kondisi ini menunjukkan, meski inflasi tahunan terkendali, volatilitas harga pangan tetap menjadi pekerjaan rumah utama. Stabilitas pasokan dan distribusi menjadi kunci agar tekanan harga tidak kembali menggerus daya beli masyarakat pada awal 2026.(hasan/gopos)








