No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah

Hasan by Hasan
Selasa 19 Agustus 2025
in Menyapa Nusantara
0
Sutejo mengangkat bonggol uwi, saat panen di kebunnya di Ponorogo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. ANTARA/Masuki M. Astro.

Sutejo mengangkat bonggol uwi, saat panen di kebunnya di Ponorogo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. ANTARA/Masuki M. Astro.

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Kaos setengah lusuh yang dikenakan Sutejo basah oleh keringat, setelah tubuhnya diterpa cahaya Matahari pagi yang mulai beranjak siang itu.

Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa kaos yang basah oleh keringat lelaki paruh baya itu adalah bagian dari upaya mewujudkan ketahanan bangsa Indonesia melalui ketahanan pangan.

Sutejo, pegiat literasi dengan gelar akademik doktor sastra itu, baru saja selesai memanen tanaman uwi (Dioscorea alata) dan gembili (Dioscorea esculenta) di pekarangan rumahnya. Tempat tinggal yang biasa dijadikan arena diskusi mengenai kepenulisan bagi mahasiswa, dosen, dan aktivis literasi itu disebutnya sebagai “rumah kebun”.

Sejak COVID-19 membatasi pergerakan orang di luar rumah pada 2020, Sutejo memanfaatkan pekarangan seluas 12 x 26 meter di sebelah timur rumahnya untuk dibuat kebun. Awalnya hanya menanam singkong. Setelah hasilnya menakjubkan, ia kemudian bereksperimen dengan tanaman uwi, talas, dan gembili.

Selain untuk sarana mengeluarkan keringat dari tubuh, setelah badan bergerak dan berjemur di bawah sinar Matahari, berkebun dengan memanfaatkan lahan nganggur itu, lama-lama menjadi semacam hiburan yang memuaskan batin.

Apalagi hasil panen kebunnya itu membuat banyak orang berdecak kagum. Singkong, uwi, talas, dan gembili yang dia tanam, hasilnya berkali lipat lebih besar dari hasil kebun pada umumnya.

Awalnya, ia mendapatkan bibit uwi manalagi dari temannya, dan setelah ditanam sekitar 9 bulan, saat dipanen menghasilkan uwi seberat 55-60 kilogram per batang.

Tidak sedikit orang, bahkan yang berlatar ilmu pertanian, kagum ketika melihat hasil panen umbi-umbian itu.

Sutejo yang pernah menjabat rektor di perguruan tinggi swasta di Ponorogo ini basis pendidikan dan kegiatan kesehariannya adalah sastra, tapi ia masih menyimpan ingatan mengenai almarhum bapaknya yang suka bertani.

Berbekal ingatan tentang pengalaman bapaknya bertani di masa lalu, ia pun mengandalkan rasa bahwa yang dibutuhkan oleh tanaman itu adalah tanah yang gembur dan subur. Karena itu, ia memilih sarana sampah dicampur dengan kotoran sapi sebagai kompos dan sekam bakar untuk menjaga kegemburan tanah, ditambah dengan perawatan yang melibatkan rasa dan cinta kasih.

Meskipun hasilnya banyak, dengan tampilan biji umbi-umbian yang besar, sehingga menggoda, ia tidak pernah menjual hasil panen. Sebagian dikonsumsi sendiri, selebihnya ia bagi-bagi uwi, singkong, dan gembili itu kepada para tetangga dan para koleganya yang menyukai makanan tersebut.

Baca Juga :  Inspirasi Membaca dari Anak-anak Saparua

Sebagai pendidik dan penggerak literasi, apa yang dia lakukan selalu ditujukan untuk menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak muda. Gerakan berkebun juga demikian. Bahkan, kini, semangat berkebun itu juga berusaha ditularkan kepada masyarakat lain yang memiliki lahan pekarangan tidak termanfaatkan.

Karena itu, ia selalu melibatkan 7 mahasiswa yang menjadi anak asuhnya untuk ikut dalam kegiatan di kebun. Tidak hanya anak asuh laki-laki, anak perempuan juga dilibatkan dalam penggalian tanah untuk menanam bibit baru dan menimbun pupuk kompos, sebelum bibit ditanam. Anak-anak muda itu dibiasakan untuk “berani kotor” karena kaki dan tangannya bersentuhan langsung dengan tanah.

Mereka juga dilibatkan ketika musim panen yang harus menggunakan linggis. Prosesi penggalian tanah untuk mengangkat biji uwi dan gembili juga menjadi ajang hiburan karena dilakukan dengan suasana gembira.

Selain itu, melibatkan para mahasiswa tersebut juga untuk mengingatkan para generasi muda agar menghargai dan mencintai pekerjaan para orang tua mereka di desa yang umumnya sebagai petani.

Meskipun tujuan awalnya hanya untuk mengisi waktu dan menjadi sarana rekreasi murah meriah yang menyehatkan jiwa raga, tapi hasil berkebun itu ternyata sangat menggembirakan, dan secara tidak langsung telah mendukung program pemerintah di bidang diversifikasi pangan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan pentingnya memperkuat penganekaragaman pangan berdasarkan kearifan lokal di seluruh Indonesia.

Kalau di wilayah timur Indonesia dikenal dengan konsumsi sagu, di Madura dengan jagung, di Jawa, termasuk Madura, masyarakat biasa mengonsumsi umbi-umbian, meskipun sifatnya berupa selingan dari beras atau nasi.

Atas arahan Mentan itu, Sutejo sudah mempraktikkan, dengan memenuhi sebagian kebutuhan pangan dari jenis umbi-umbian, yang di zaman dulu sudah menjadi kebiasaan para leluhur bangsa kita di Jawa dan sekitarnya.

Pada awalnya, bukan berniat mengurangi makan nasi, tetapi ketika sudah terbiasa memakan umbi-umbian itu, perut terasa kenyang dan tidak tertarik lagi untuk mengonsumsi nasi. Artinya, diversifikasi pangan dalam keluarga terjadi secara alamiah, ketika kita terbiasa mengonsumsi umbi-umbian.

Sutejo dan keluarga, termasuk anak asuhnya, akhirnya terbiasa mengurangi makan nasi, dari awalnya 3 kali sehari, menjadi hanya 2 kali. Bahkan, tidak jarang hanya makan nasi 1 kali sehari.

Baca Juga :  Pemilu Harus Menyenangkan Hati Rakyat

Secara pribadi, ia mencatat, rata-rata sekali makan per orang dalam keluarga itu mencapai 0,6 kg. Sementara menurut catatan Badan Pangan Nasional (BPN), pada 2018, rata-rata masyarakat mengonsumsi beras per kapita per tahun mencapai 97,1 kg atau 8,09 kg per bulan atau 0,27 per hari atau 0,09 kg per sekali makan.

Kalau gerakan mengonsumsi makanan selain beras ini terus menerus menjadi kebiasaan individu, bahkan keluarga, kemudian meluas ke masyarakat, maka secara nasional kita juga bisa mengurangi ketergantungan pada beras secara signifikan.

Pembiasaan memakan umbi-umbian ini akan menjadi ikhtiar yang sejalan dengan niat pemerintah untuk mewujudkan surplus beras di tanah air.

Meskipun terlihat sebagai upaya terbatas dalam skala kecil, memanfaatkan lahan kosong dengan menanam umbi-umbian ini, jika dilakukan serempak, maka dampaknya akan sangat luar biasa dalam mendukung program mewujudkan Indonesia surplus beras di masa mendatang.

Artinya program surplus beras ini juga bisa dilakukan bukan hanya pada lahan pertanian penghasil beras, melainkan juga bisa dilakukan di sekitar rumah, kemudian dapur atau meja makan.

Kita bisa mengambil peran, seperti yang dilakukan oleh Sutejo, dengan memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami umbi-umbian, dan hasilnya untuk dikonsumsi. Pola ini juga menjadi salah satu strategi bersama untuk mengurangi ketergantungan pada konsumsi beras.

Kalau ada orang atau sekelompok orang merasa belum kenyang, sebelum mengonsumsi nasi, hal itu hanyalah soal kebiasaan. Ketika terus menerus dibiasakan, memakan uwi, singkong, atau gembili, pada akhirnya akan terasa kenyang juga.

Bukan hanya berdampak pada ketahanan pangan, membiasakan konsumsi selain beras, beralih ke umbi-umbian juga berdampak pada kesehatan tubuh.

Sutejo dan keluarga juga sudah merasakan manfaat kesehatan mengonsumsi umbi-umbian sebagai pengganti beras, seperti masalah lambung menjadi lebih baik atau kadar gula dalam darah juga menjadi menurun.

Karena itu, jangan biarkan lahan kosong menganggur. Ambil cangkul, seraya diniatkan berolahraga, olah tanah pekarangan, kumpulkan daun-daun untuk menjadi kompos, tanami umbi-umbian, dan hasil panennya untuk dimakan bersama keluarga.

Dengan praktik menanam kembali potensi kekayaan pangan lokal ini, maka Indonesia akan mampu memenuhi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri, kita berdaulat di bidang pangan.(Antara/gopos)

Tags: Ketahanan PanganMenyapa Nusantara
Previous Post

Pimpinan PGP Ajak Karyawan Isi Kemerdekaan dengan Semangat Kebersamaan

Next Post

APBD Perubahan 2025 Kabupaten Pohuwato Disetujui DPRD

Related Posts

Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo. ANTARA/HO-BSKDN
Menyapa Nusantara

Kemendagri Tegaskan Digitalisasi Pemilu Tetap Berlandaskan Prinsip Demokrasi

Rabu 22 April 2026
Para tersangka korupsi Pertamina usai ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejagung.(Foto Kejagung)
Menyapa Nusantara

Infografik: Catatan Kasus Korupsi 2025

Selasa 30 Desember 2025
Menkop Ferry Juliantono pada acara Sharing Session bertema Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Balairung UKSW, Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (2/12/2025). ANTARA/HO-Kemenkop.
Menyapa Nusantara

Belajar Koperasi: Kurikulum yang Mencetak Generasi Berjejaring

Senin 29 Desember 2025
Petugas agronomis mobil uji tanah Pupuk Indonesia memasukkan reagen ke dalam pipet berisi sampel tanah pertanian untuk dianalisis di Desa Suwaloh, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (25/11/2025). Pemeriksaan sampel tanah gratis oleh Pupuk Indonesia yang mengukur tingkat kesuburan dan PH tanah itu dilakukan untuk memberikan rekomendasi pemupukan yang tepat sehingga produktivitas dan hasil panen petani dapat meningkat. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)
Menyapa Nusantara

Membaca Jejak Tanah, Menulis Masa Depan Pangan

Kamis 25 Desember 2025
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto (tengah) saat memberikan keterangan di Majalengka, Jawa Barat, Jumat (19/12/2025). ANTARA/HO-Pemkab Majalengka.
Menyapa Nusantara

Mendes PDT: 20 ribu Kopdes Merah Putih sudah dibangun pada akhir 2025

Jumat 19 Desember 2025
Menyapa Nusantara

Infografik: Menjaga Pasokan Energi Selama Nataru

Jumat 19 Desember 2025
Next Post

APBD Perubahan 2025 Kabupaten Pohuwato Disetujui DPRD

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Terpopuler

  • Ilustrasi AI

    ASN dan PPPK Tak Boleh Rangkap Jabatan sebagai Anggota BPD, Ini Penjelasan Aturannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prof Nurdin Resmi Dilantik sebagai Sekda Boalemo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebahagiaan Selimuti Lapas Perempuan Kelas III Gorontalo di Hari Kartini ke-147

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tingkatkan Pelayanan, RSUD Hasri Ainun Habibie Lakukan Penilaian Potensi Pegawai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HIPMI Gorontalo Bulat Rekomendasikan Afifudin Suhaeli Kalla Maju Ketua Umum BPP HIPMI 2026–2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook Icon-x Youtube Instagram Icon-ttk

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.