GOPOS.ID, GORONTALO – Persentase penduduk miskin di Provinsi Gorontalo kembali menunjukkan tren penurunan dalam satu semester terakhir. Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo angka kemiskinan Gorontalo pada September 2025 menyentuh angka 12,62 persen. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,62 persen poin jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2025 yang tercatat sebesar 13,24 persen.
Penurunan angka kemiskinan ini mempertegas konsistensi Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Gorontalo dalam upaya perbaikan indikator kesejahteraan sosial di wilayah Gorontalo dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dr.Watheki, menjelaskan secara kuantitas, jumlah penduduk miskin di Gorontalo pada September 2025 tercatat sebanyak 155,76 ribu orang. Angka tersebut berkurang sekitar 6,98 ribu orang dibandingkan dengan posisi pada Maret 2025 yang berada di level 162,74 ribu orang.
“Dengan penurunan itu maka persentase penduduk miskin di Provinsi Gorontalo pada September 2025 sebesar 12,62 persen, turun 0,62 persen poin terhadap Maret 2025,” ujar Watheki saat menyampaikan Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Gorontalo, Kamis (5/2/2025).
Meskipun secara kumulatif mengalami penyusutan, profil kemiskinan di Gorontalo masih memperlihatkan disparitas yang cukup lebar antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Kantong-kantong kemiskinan masih terkonsentrasi di wilayah rural.
Persentase penduduk miskin di wilayah perdesaan pada September 2025 tercatat sebesar 19,86 persen. Walaupun angka ini masih tergolong tinggi, wilayah perdesaan justru mencatatkan laju penurunan yang lebih progresif sebesar 0,94 persen poin dibandingkan periode Maret 2025 yang berada di angka 20,80 persen. Sebaliknya, kemiskinan di wilayah perkotaan tercatat jauh lebih rendah, yakni 4,46 persen, atau hanya menyusut tipis sebesar 0,22 persen poin dari kondisi sebelumnya yang sebesar 4,68 persen.
Statisi Ahli Madya BPS Provinsi Gorontalo, Prasaja Arifiyanto, menjelaskan tren penurunan kemiskinan di wilayah perkotaan cenderung fluktuatif dan lebih rendah dibandingkan di wilayah perdesaan. Hal ini dikarenakan kemiskinan di wilayah perkotaan secara persentase sudah rendah, sehingga ruang untuk penurunan lebih lanjut menjadi terbatas atau relatif lebih sedikit. Berbeda dengan situasi di wilayah perdesaan yang secara persentasenya masih cukup tinggi, ruang penurunannya jauh lebih besar.
Penurunan angka kemiskinan ini terjadi di tengah tantangan kenaikan Garis Kemiskinan (GK) yang menjadi standar batas kecukupan pemenuhan kebutuhan dasar di Gorontalo. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan yang diukur menurut Garis Kemiskinan.
BPS mencatat Garis Kemiskinan pada September 2025 berada pada level Rp519.640 per kapita per bulan, meningkat sekitar 4,86 persen dibandingkan Maret 2025 yang sebesar Rp495.576.
“Garis Kemiskinan Provinsi Gorontalo pada September 2025 tercatat sebesar Rp519.640 per kapita per bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp404.784 (77,9 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp114.856 (22,1 persen),” jelas Watheki.
Lebih lanjut Watheki menjelaskan faktor yang memengaruhi penurunan kemiskinan di Gorontalo. Salah satu faktor utama adalah terjaganya daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi. Selama periode Maret hingga September 2025, angka inflasi umum di Gorontalo tercatat sebesar 0,24 persen, jauh lebih rendah dibandingkan laju inflasi nasional pada periode yang sama sebesar 1,42 persen.
“Indeks harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami penurunan sebesar 2,02 persen,” terang Watheki.
Di sektor produksi, kesejahteraan petani yang menjadi tulang punggung ekonomi Gorontalo menunjukkan perbaikan. Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2025 tercatat sebesar 115,99, meningkat dibandingkan posisi September 2024 yang berada di angka 111,42. Peningkatan NTP ini menandakan indeks harga yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan indeks harga yang mereka bayar, sehingga memberikan ruang finansial yang lebih baik bagi rumah tangga tani di perdesaan.
Hal ini sejalan dengan pertumbuhan lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang bersama sektor perdagangan memberikan kontribusi sebesar 51,78 persen terhadap total ekonomi Gorontalo pada triwulan III-2025.
Penguatan daya beli juga didukung oleh perbaikan struktur ketenagakerjaan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Gorontalo pada Agustus 2025 naik menjadi 69,29 persen dari 67,52 persen pada Februari 2025. Perbaikan kualitas lapangan kerja terlihat dari meningkatnya persentase pekerja formal sebesar 1,81 persen poin menjadi 38,86 persen, serta kenaikan persentase pekerja penuh menjadi 70,08 persen.
“Secara makro, ekonomi Gorontalo pada triwulan III-2025 tumbuh 5,49 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui pertumbuhan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 3,91 persen,” urai Watheki.
Asisten Administrasi Umum Setda, Zukri Suratinoyo, menyambut positif penurunan angka kemiskinan di Provinsi Gorontalo pada September 2025. Bagi Pemprov Gorontalo, capaian tersebut menjadi bahan evaluasi untuk lebih mengoptimalkan kebijakan dan program Pemprov Gorontalo ke depannya.(hasan/gopos)







