GOPOS.ID, GORONTALO – Provinsi Gorontalo mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 2,44 persen pada Oktober 2025. Angka ini menunjukkan tekanan harga yang relatif moderat dibandingkan tahun sebelumnya. Secara rinci, Kota Gorontalo mengalami inflasi y-on-y sebesar 2,18 persen, sementara Kabupaten Gorontalo sedikit lebih tinggi di angka 2,64 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, kenaikan harga dipicu oleh lonjakan indeks pada delapan kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang tertinggi dengan inflasi sebesar 8,55 persen. Pada kelompok ini, komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi.
“Kita ketahui bersama kemarin naiknya harga emas perhiasan mendorong naiknya pengeluaran di kelompok ini,” terang Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, Senin (3/11/2025) menyampaikan rilis resmi BPS Provinsi Gorontalo.
Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,29 persen; kelompok pendidikan 2,02 persen; serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,95 persen.
Kelompok transportasi turut mencatat kenaikan sebesar 1,46 persen, diikuti kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,58 persen; pakaian dan alas kaki 0,54 persen; serta kesehatan 0,48 persen.
“Pada kelompok transportasi dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara dan angkutan antar kota,” ungkap Dwi Alwi Astuti.
Meski demikian, tiga kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi y-on-y. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun sebesar 2,54 persen. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat penurunan 1,57 persen, sementara kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya turun 0,64 persen.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), Gorontalo mengalami deflasi sebesar 0,14 persen. Adapun inflasi sejak awal tahun (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 1,39 persen, menandakan bahwa tekanan harga masih dalam batas yang relatif terkendali.(hasan/gopos)








