GOPOS.ID, GORONTALO – Provinsi Gorontalo mencatat surplus beras cukup besar sepanjang 2025. Capaian ini sangat penting di tengah konsumsi beras masyarakat Gorontalo yang tergolong tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, total produksi beras daerah ini pada 2025 diperkirakan mencapai 157,15 ribu ton. Jumlah tersebut lebih tinggi dari kebutuhan konsumsi masyarakat sebesar 111,93 ribu ton, sehingga terdapat kelebihan sekitar 45,22 ribu ton beras.
Peningkatan produksi beras tahun ini tidak lepas dari meningkatnya luas panen. Sepanjang 2025 luas panen padi diperkirakan mencapai 54,15 ribu hektar, naik 15,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 46,95 ribu hektar. Lonjakan ini mendorong kenaikan produksi gabah kering panen (GKP) hampir 20 persen. Produksi gabah kering panen pada 2025 diperkirakan mencapai 334,05 ribu ton. Bertambah 55,29 ribu ton atau 19,83 persen dibandingkan 2024. Pada level berikutnya, produksi gabah kering giling (GKG) juga naik 19,83 persen menjadi 281,45 ribu ton.
“Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling mengalami kenaikan cukup signifikan pada tahun ini,” kata Plt Kepala BPS Gorontalo, Dwi Alwi Astuti.
Tren peningkatan produksi juga tampak pada beras untuk konsumsi rumah tangga. Total produksi beras 2025 yang mencapai 157,15 ribu ton meningkat 26,01 ribu ton dari tahun sebelumnya. Produksi tertinggi terjadi pada Agustus, yang mencapai 25,96 ribu ton. Adapun produksi terendah diperkirakan terjadi pada Desember, yaitu sekitar 4,31 ribu ton.
Selain meningkatnya luas panen, pola musim panen juga mengalami pergeseran. Jika pada 2024 puncak panen berlangsung pada September, pada 2025 puncak panen terjadi lebih awal, yakni Maret, dengan luas panen mencapai 8,57 ribu hektare. Pergeseran ini mengindikasikan perubahan pada pola tanam serta adaptasi petani terhadap kondisi iklim setempat.
Di tingkat kabupaten/kota, kontribusi produksi padi masih didominasi wilayah lumbung pangan. Kabupaten Gorontalo menyumbang produksi GKG terbesar dengan 135,78 ribu ton, disusul Boalemo sebanyak 44,82 ribu ton dan Pohuwato 33,12 ribu ton. Produksi terendah tercatat di Kota Gorontalo sebanyak 8,22 ribu ton, Gorontalo Utara 29,50 ribu ton, dan Bone Bolango 29,99 ribu ton.
Sementara itu dari sisi konsumsi, kebutuhan beras di Gorontalo mencapai 9,327 ribu ton per bulan atau setara 111,93 ribu ton per tahun. Tingginya konsumsi ini didorong rata-rata konsumsi per kapita yang mencapai 7,51 kilogram per bulan, lebih besar dari rata-rata nasional sebesar 6,5 kilogram per kapita per bulan. Di saat bersamaan, jumlah penduduk Gorontalo juga meningkat 1,18 persen sepanjang 2020–2025 hingga mencapai 1.242.024 jiwa.(hasan/gopos)








