Oleh Djoko Subinarto*)
Indonesia punya senjata baru di medan ekonomi digital ASEAN, yakni Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) lintas negara, yang menjadi gerbang transaksi lintas batas dan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi regional.
Bank Indonesia (BI), baru-baru ini, melaporkan transaksi QRIS Indonesia-Malaysia paling tinggi di ASEAN. Ini makin menunjukkan kesiapan ekonomi digital kita menghadapi integrasi ekonomi regional.
Data BI memperlihatkan, dari Januari hingga September 2025, inbound QRIS dari Malaysia ke Indonesia mencapai 3,4 juta transaksi dengan nominal Rp775 miliar. Sebaliknya, outbound Indonesia ke Malaysia 516 ribu transaksi senilai Rp178 miliar.
Angka tersebut menunjukkan setidaknya dua hal. Pertama, Indonesia menjadi tujuan favorit wisatawan Malaysia untuk berbelanja secara digital. Kedua, masyarakat dan pelaku usaha Indonesia mulai terbiasa menerima pembayaran lintas negara.
Membangun Ekosistem Digital
QRIS lintas negara sesungguhnya bukan cuma menyangkut transaksi, tetapi juga menyangkut pembangunan ekosistem digital yang menyambungkan konsumen, pedagang, maupun bank lintas batas.
Integrasi sistem QR Indonesia dengan Malaysia sejak tahun 2023, misalnya, telah memungkinkan wisatawan membayar lewat aplikasi finansial lokalnya. Praktis, cepat, dan aman. Selain dengan Malaysia, QRIS lintas negara saat ini sudah terintegrasi/terkoneksi dengan sistem QR Thailand, Singapura, dan Jepang.
Rencananya, konektivitas QRIS Indonesia akan makin diperluas ke sejumlah negara lain seperti Korea Selatan, Uni Emirat Arab, hingga India. Tentu saja, strategi ini bukan sekadar ambisi, melainkan sebuah langkah terukur, yang bakal menempatkan Indonesia sebagai hub ekonomi digital ASEAN.
Satu hal yang penting adalah bahwa teknologi QRIS tidak bisa bekerja sendiri. Ia perlu dukungan gerai bisnis di Tanah Air yang siap menerima pembayaran lintas negara. Tanpa itu, potensinya tidak akan maksimal.
Di sinilah tantangannya. Banyak UMKM masih awam soal QR, apalagi yang lintas negara. Sosialisasi dan edukasi menjadi salah satu faktor kunci agar teknologi ini semakin dirasakan manfaatnya secara nyata.
Namun, tren positif sudah terlihat. Banyak hotel, restoran, dan destinasi wisata mulai menerima QRIS. Wisatawan menjadi lebih nyaman, layanan lebih cepat, transaksi pun lebih murah.
QRIS antarnegara juga bisa sebagai alat ukur daya tarik pariwisata Indonesia. Semakin mudah pembayaran, semakin tinggi kemungkinan wisatawan kembali atau merekomendasikan destinasi wisata Indonesia.
Dari sisi ekonomi, QRIS mempercepat perputaran uang. Tidak perlu konversi mata uang tunai, biaya transaksi lebih rendah, dan risiko keamanan berkurang. Semua itu meningkatkan efisiensi ekonomi mikro hingga makro.
Visi ASEAN
QRIS lintas negara ini selaras dengan visi ASEAN Digital Economy Framework. ASEAN menekankan digitalisasi lintas negara untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan inklusi keuangan.
Lewat QRIS, Indonesia berupaya menempatkan diri sebagai pemain utama di kawasan. Posisi ini bukan sekadar soal teknologi, tapi soal reputasi sebagai negara yang siap menghadapi ekonomi digital global.
Dengan fakta bahwa inbound QRIS jauh lebih tinggi daripada outbound, ini memberi petunjuk bahwa wisatawan asing merasa nyaman belanja di Indonesia. Ini sinyal positif bagi sektor pariwisata dan devisa negara.
Namun, jangan sampai lengah. Tantangan keamanan siber tetap ada. Sistem harus terus diperkuat untuk mengantisipasi fraud, hacking, dan kesalahan transaksi. Kepercayaan pengguna adalah fondasi ekosistem digital.
Di sisi regulasi, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara mendorong inovasi dan adopsi teknologi digital dengan melindungi konsumen dan menjaga keamanan sistem. Integrasi digital harus selalu selaras dengan perlindungan konsumen, aturan anti pencucian uang, dan standar keamanan internasional.
QRIS lintas negara telah membuka peluang bisnis baru. Bank, fintech, dan startup bisa menciptakan layanan tambahan berupa loyalty program, diskon digital, hingga analisis perilaku konsumen lintas negara.
QRIS lintas negara juga mempermudah UMKM go digital. Tanpa perlu ribet mengurus mata uang asing, pedagang lokal bisa menjangkau konsumen dari negara tetangga. Dampaknya langsung ke omzet dan pertumbuhan bisnis.
Efek dominonya terasa juga di sektor ekonomi regional. Negara-negara di kawasan akan melihat Indonesia sebagai destinasi digital-friendly. Inklusi keuangan juga terdorong. Wisatawan asing yang sebelumnya sulit mengakses layanan perbankan Indonesia kini bisa bertransaksi tanpa harus membuka rekening lokal.
Bagi wisatawan Indonesia, efeknya juga positif. Bayangkan berlibur di Singapura atau Jepang, dan tetap bisa pakai QRIS tanpa repot-repot menukar mata uang. Ini mendorong mobilitas lantaran orang bisa lebih leluasa bergerak dan menikmati layanan digital yang cepat dan mudah.
Dampak psikologisnya juga tidak kecil. Kemudahan pembayaran bakal meningkatkan kepuasan wisatawan, dan kepuasan ini bisa mendorong terjadinya pola getok tular (word-of-mouth) positif yang tak ternilai.
Diterapkan ke Negara Lain
QRIS lintas negara bisa menjadi blueprint nasional. Jika berhasil di ASEAN, sistem ini bisa terus diimplementasikan ke negara-negara lainnya, sehingga makin memperluas jangkauan ekonomi digital Indonesia.
Akhirnya ini bukan sekadar soal transaksi semata, tapi juga soal positioning Indonesia di peta ekonomi digital global. Setiap transaksi QRIS lintas negara adalah bukti kesiapan kita menghadapi era cashless dan borderless economy.
Kesuksesan QRIS lintas negara juga bakal memperkuat diplomasi digital kita. Kita menunjukkan bahwa Indonesia bisa menjadi mitra terpercaya dalam integrasi ekonomi ASEAN.
Ke depan, keberhasilan QRIS lintas negara bukan hanya menyangkut teknologi dan transaksi, melainkan pula bagaimana membangun ekosistem yang saling menguntungkan.
Bank, fintech, UMKM, maupun wisatawan berada dalam satu lingkaran nilai yang kian saling terhubung, di mana setiap inovasi pembayaran digital akan menumbuhkan tunas kepercayaan dan memperluas peluang ekonomi.
Secara demikian, QRIS lintas negara bisa menjadi simbol kemampuan Indonesia bersaing di era ekonomi digital global. Setiap pembayaran lintas batas bukan lagi semata-mata angka di layar, melainkan wujud nyata strategi nasional yang menempatkan Indonesia sebagai pelopor integrasi digital di ASEAN yang, kelak, merambah ke pentas mondial.
*) Kolumnis, alumnus Departemen Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran








