GOPOS.ID, GORONTALO – Perekonomian Provinsi Gorontalo pada triwulan I 2026 mencatat pertumbuhan 7,68 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,61 persen. Kinerja ini menempatkan Gorontalo sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan tertinggi di Pulau Sulawesi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, selain tumbuh secara tahunan, ekonomi daerah ini juga meningkat 1,59 persen dibandingkan triwulan IV 2025 (quarter-to-quarter). Pertumbuhan tersebut didorong oleh berbagai sektor usaha yang mayoritas menunjukkan kinerja positif.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, menjelaskan struktur ekonomi Gorontalo masih didominasi oleh sektor pertanian dan perdagangan yang secara bersama menyumbang sekitar 50 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dari 17 lapangan usaha yang dihitung, sebanyak 15 sektor mengalami pertumbuhan, sementara dua sektor lainnya—yakni jasa pendidikan dan jasa perusahaan—mengalami kontraksi.
“Pada triwulan I 2026, sektor pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 31,3 persen. Disusul industri pengolahan yang tumbuh 29,34 persen, serta sektor transportasi dan pergudangan sebesar 14,25 persen,” ujar Agus Sudibyo saat menyampaikan rilis statistik perekonomian Gorontalo, Selasa (5/5/2026).
Agus Sudibyo, menjelaskan lonjakan pada sektor pertambangan tidak terlepas dari mulai beroperasinya aktivitas pertambangan emas pada awal tahun ini. “Hal ini tidak lepas dari mulai beraktivitasnya pertambangan emas di triwulan I 2026 yang berdampak terhadap pertumbuhan lapangan usaha pertambangan dan penggalian itu sendiri,” ujarnya.
Secara triwulanan, pertumbuhan ekonomi juga tetap terjaga. Dibandingkan triwulan IV 2025, ekonomi Gorontalo tumbuh 1,59 persen. Pada periode ini, sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,61 persen, diikuti sektor pertanian 4,07 persen dan perdagangan 4,01 persen.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi sekitar 61 persen terhadap PDRB. Selain itu, ekspor menyumbang 33,44 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 25,3 persen.
Secara tahunan, pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran terjadi pada komponen ekspor yang meningkat 21,77 persen, diikuti impor 16,78 persen, serta PMTB sebesar 7,07 persen. Ekspor juga menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Gorontalo dengan kontribusi sebesar 5,87 persen, mencakup ekspor ke luar negeri maupun antar daerah.
Namun, secara triwulanan terdapat beberapa komponen pengeluaran yang mengalami penurunan, yakni PMTB yang terkontraksi 8,31 persen dan konsumsi pemerintah yang turun 18,93 persen. Penurunan ini sejalan dengan pola belanja pemerintah yang umumnya lebih rendah pada awal tahun anggaran.
“Secara q to q untuk triwulan I 2026 terhadap triwulan IV 2025 dari sisi pengeluaran ada beberapa sektor yang mengalami kontraksi yakni PMTB dan konsumsi pemerintah. Tentunya kita tahu pada triwulan I konsumsi pemerintah lebih kecil dibandingkan triwulan IV,” kata Agus.








