GOPOS.ID, GORONTALO – Bank Indonesia (BI) bersama sejumlah pemangku kepentingan mendorong penguatan rantai nilai jagung di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan dan swasembada pangan nasional. Upaya ini mengemuka dalam diseminasi riset “Karakteristik dan Struktur Rantai Nilai Jagung di Sulampua” yang digelar Selasa (10/2/2026) dan melibatkan pemerintah daerah, pelaku usaha, serta akademisi.
Kajian tersebut menegaskan komoditas jagung memiliki peran strategis karena menjadi bahan baku utama industri pakan unggas. Secara nasional, kawasan Sulampua menjadi produsen jagung terbesar ketiga setelah Jawa dan Sumatera, dengan kontribusi sekitar 13,9 persen dari produksi nasional. Wilayah dengan kontribusi besar antara lain Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah.
Meski memiliki peran penting, rantai nilai jagung di kawasan timur Indonesia masih menghadapi berbagai kendala. Di tingkat petani, persoalan utama meliputi keterbatasan lahan, risiko iklim, kualitas produksi, serta keterbatasan akses modal. Sementara itu, di sisi hilir, pengepul dan industri menghadapi ketidakstabilan pasokan dan kualitas bahan baku yang berdampak pada efisiensi produksi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, riset merekomendasikan lima strategi prioritas penguatan rantai nilai jagung melalui integrasi hulu hingga hilir. Strategi pertama menitikberatkan pada peningkatan kualitas jagung melalui pembangunan infrastruktur pascapanen, seperti dryer dan gudang komunal, guna meningkatkan nilai jual di tingkat petani.
Strategi kedua menekankan penguatan peran kelompok tani dan gabungan kelompok tani sebagai agregator pasokan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar petani dalam rantai distribusi. Selanjutnya, peningkatan produktivitas dilakukan melalui penggunaan benih hibrida serta penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
Selain itu, riset juga merekomendasikan penguatan kemitraan berbasis kontrak kualitas antara petani, pengepul, dan industri pakan. Skema ini diharapkan mampu menjamin stabilitas pasokan sekaligus mendorong peningkatan kualitas hasil produksi. Di sisi lain, peningkatan literasi dan kapasitas teknologi pertanian juga menjadi prioritas melalui program sekolah lapang jagung dan pembentukan klinik agribisnis.
Bank Indonesia menilai diseminasi hasil riset ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan konkret penguatan pasokan jagung nasional. Penguatan rantai nilai dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas, kualitas hasil panen, serta kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, penguatan ekosistem jagung tidak hanya berdampak pada stabilitas pangan, tetapi juga pada ketahanan ekonomi daerah. Dengan integrasi rantai pasok yang lebih kuat, kawasan Sulampua diharapkan mampu menjadi salah satu pilar utama produksi jagung nasional sekaligus menopang kebutuhan industri pakan dan sektor peternakan di Indonesia.(*/adm-02/gopos)








