No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Ancaman Media Sosial

Hasan by Hasan
Selasa 10 Agustus 2021
in Perspektif
0
0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Muhammad Arif

Ketua DPD IMM Gorontalo Bidang Media dan Komunikasi

Internet dan media sosial merupakan dua hal yang sulit terpisah dari kehidupan manusia modern saat ini. Keduanya sudah menjadi kebutuhan primer sebagaimana sandang, pangan dan papan dalam keseharian. Fenomena ini dimungkinkan karena banyak kebutuhan manusia yang semakin dipermudah dengan kehadiran internet dan media sosial. Bahkan beberapa pekerjaan seperti jual-beli, jasa transportasi dan penyedia jasa untuk membersihkan rumah sudah berpindah ke layar 3×5 Cm itu. Semua layanan penyedia jasa itu bisa dengan mudah kita nikmati hanya dengan satu kali klik di layar telepon genggam kita.

Dalam hal konsumsi informasi, kita juga sudah tidak disulitkan. Berbagai platform media dan kanal informasi juga bisa dengan mudah kita temui dan bisa diakses kapanpun dan dari manapun selama tersedia jaringan internet, tentu dengan harga yang relatif terjangkau. Kehadiran media sosial berjejaring dengan beragam fitur yang disediakan juga memungkinkan kita tidak hanya mejadi penerima informasi saja tapi, sebagai penggunanya kita juga bisa menjadi kanalisasi informasi.

Tapi, bukan untuk menguraikan segala kemudahan itu tulisan ini saya buat. Di samping menawarkan segala kemudahannya bukan berarti internet dan media sosial tidak punya sesuatu hal yang perlu khawatirkan. Ibarat pisau bermata dua, justru dengan berbagai kemudahan akses ini media sosial kerap kali menciptakan keriuhan di ruang maya, banalisasi informasi, hoax atau berita bohong dan tidak jarang semua hal itu menjadi kontroversi yang berujung pada perpecahan antar individu atau kelompok di dunia nyata. Bagaimana itu bisa terjadi? Apa penyebabnya? dua hal inilah yang membuat nurani saya tergerak untuk menuliskan artikel sederhana ini.

Baca Juga :  Matoduwolo, Selamat Bertugas Bapak Penjabat Gubernur

Segala hal yang bertolak belakang dengan kemudahan yang mengiringi kehadiran internet itu tidak serta merta tercipta begitu saja. Hal ini dimungkinkan karena algoritma mesin pencari yang digunakan dalam beragam fitur media sosial melakukan polarisasi berdasarkan riwayat pencarian, lokasi, usia dan konten yang sering diakses oleh penggunanya. Kecenderungan mesin pencari yang melakukan polarisasi berdasarkan algoritma semacam ini dikenal dengan sebutan Filter Bubble. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang pengusaha dan aktivis internet asal Amerika Serikat, Ali Pariser pada tahun 2011 melalui bukunya yang berjudul The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You.

Polarisasi yang dilakukan oleh mesin pencari ini kemudian mengakibatkan munculnya keseragaman informasi yang selalu ditampilkan dan disarankan di beranda media sosial kita. Oleh Pariser, hal ini disebut dapat menyebabkan seseorang terisolasi secara intelektual dalam artian memiliki kecenderungan untuk menjadikan seseorang melihat segala sesuatu hanya dari satu sudut pandang. Dengan kata lain, keseragaman informasi ini kemudian menciptakan bentuk fanatisme terhadap satu bentuk pemikiran, merasa benar sendiri dan menganggap kesimpulannya sebagai bagian dari kesimpulan mayoritas sehingga dirinya cenderung menolak pemikiran lain dan menutup dari ruang-ruang diskursif. Akibatnya filter bubble malah melahirkan individu-individu yang anti kritik dan cenderung merasa benar sendiri. Pariser menegaskan sebuah dunia yang dibangun dengan kesamaan, adalah tempat kita tidak bisa belajar apapun.

Baca Juga :  JANGAN SAMAKAN GORONTALO SEPERTI JAKARTA

Selain itu filter bubble juga menempatkan kita ada posisi Echo Chamber atau ruang gema. Secara sederhana ruang gema adalah tempat di mana kita dapat mendengar suara kita yang memantul dan bergema. Dalam posisi ini kita seolah-olah telah mengetahui banyak hal dari dari sebuah informasi yang kita terima secara seragam berdasarkan rekomendasi mesin pencari yang telah terpolarisasi itu.

Proses mendapatkan informasi yang seperti inilah yang meniscayakan terjadinya keriuhan di ruang maya, banal informasi dan hoax atau berita bohong. Untuk meminimalisir agar hal ini tidak terjadi, mulailah menjadi dengan pengguna media sosial yang bijak, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya dan rutin melakukan disiplin verifikasi terhadap segala informasi yang kita terima. (***)

Tags: InternetMedia SosialPerspektif
Previous Post

Bupati Hamim Minta Tingkat Kepatuhan Pelaporan Penanganan Covid-19 Ditingkatkan

Next Post

Pansus I DPRD Kota Rampungkan Ranperda Kearsipan Kota Gorontalo

Related Posts

Perspektif

Di Balik Pengakuan Bersalah, Adakah Keadilan untuk Korban?

Rabu 20 Mei 2026
Husin Ali - Antropolog
Perspektif

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Jumat 15 Mei 2026
Perspektif

Biografi Azis Rachman: Meniti Jalan Pengabdian dan Kepemimpinan

Sabtu 2 Mei 2026
Perspektif

Menuju Pengajaran Bahasa Inggris Inklusif: Lepas dari Belenggu “Native-Like”

Jumat 24 April 2026
Perspektif

TRAGEDI KEADILAN DAN PARADOKS NEGARA HUKUM: KETIKA PEMBELAAN DIRI DIPIDANAKAN

Rabu 22 April 2026
Perspektif

RTH Penting, Tetapi Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Basah Korupsi

Sabtu 4 April 2026
Next Post
Rapat Pansus I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Gorontalo, membahas Ranperda tentang penyelenggaraan kearsipan Kota Gorontalo, Selasa (10/8/2021) (Foto: Sari/gopos)

Pansus I DPRD Kota Rampungkan Ranperda Kearsipan Kota Gorontalo

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Puluhan Murid SD di Telaga Biru Muntah-muntah Usai Santap MBG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mahasiswa UNG Juara Lomba Baca Puisi, Siap Berlaga di Peksiminas Tingkat Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ASN dan PPPK Tak Boleh Rangkap Jabatan sebagai Anggota BPD, Ini Penjelasan Aturannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Setahun Onato: Hadirkan Diskon Hingga 20% dan Voucher Apresiasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Balik Pengakuan Bersalah, Adakah Keadilan untuk Korban?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook Icon-x Youtube Instagram Icon-ttk

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.