No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Pemuda Berkemajuan: Merawat Idealisme, Menggerakkan Perubahan, Mencerahkan Peradaban

Iskandar Matiti, S.Pd., M.Pd (Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Gorontalo)

Admin by Admin
Selasa 27 Oktober 2026
in Perspektif
0
0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

PEMUDA selalu menempati posisi strategis dalam perjalanan sejarah. Berbagai perubahan besar lahir dari keberanian generasi muda dalam mempertanyakan keadaan, melawan ketidakadilan, dan menawarkan gagasan baru tentang masa depan.

Pemuda bukan sekadar kelompok usia, melainkan kekuatan sosial yang membawa harapan dan kemungkinan bagi lahirnya peradaban yang lebih baik.

Namun, menjadi pemuda tidak otomatis berarti menjadi pembawa perubahan. Semangat tanpa arah dapat kehilangan makna, idealisme tanpa pengetahuan berisiko terjebak dalam romantisme, sedangkan keberanian tanpa integritas dapat berubah menjadi ambisi pribadi.

Tantangan pemuda hari ini bukan hanya berani bermimpi, tetapi juga menjaga idealisme, mewujudkan perubahan, dan memastikan perjuangannya memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam konteks ini, pemuda berkemajuan menemukan relevansinya. Mereka adalah generasi yang menjadikan nilai Islam sebagai landasan moral, ilmu pengetahuan sebagai instrumen perjuangan, serta kemaslahatan umat dan bangsa sebagai orientasi pengabdian. Mereka tidak berhenti pada kritik, tetapi menghadirkan solusi; tidak sekadar berbicara tentang perubahan, tetapi terlibat langsung dalam mewujudkannya.

Merawat Idealisme di Tengah Tantangan Zaman

Salah satu tantangan generasi muda adalah mempertahankan idealisme di tengah kuatnya pragmatisme kehidupan. Arus informasi, budaya popularitas di media sosial, persaingan ekonomi, dan orientasi keberhasilan yang diukur melalui materi sering kali menggeser tujuan perjuangan.

Energi pemuda terkadang lebih banyak terserap untuk membangun citra daripada menghasilkan karya yang bermanfaat.

Padahal, idealisme merupakan kompas moral yang membantu seseorang menentukan arah ketika menghadapi pilihan sulit. Keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya posisi atau luasnya pengaruh, tetapi juga oleh manfaat yang diberikan kepada sesama.

Bagi pemuda Muslim, idealisme harus berakar pada nilai kejujuran, keadilan, amanah, kepedulian, dan tanggung jawab.

Nilai-nilai tersebut tidak cukup menjadi slogan dalam forum organisasi atau hiasan pidato. Ia harus hadir dalam perilaku sehari-hari, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kesediaan mengutamakan kepentingan bersama.

Surah Ali ‘Imran ayat 110 mengingatkan tentang tanggung jawab umat Islam untuk menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.

Pesan ini menegaskan bahwa keunggulan umat tidak cukup dibuktikan melalui identitas atau simbol keagamaan, tetapi harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi kehidupan manusia.

Merawat idealisme bukan berarti menolak perubahan zaman. Pemuda boleh adaptif terhadap teknologi, terbuka terhadap gagasan baru, dan kreatif dalam menentukan strategi, tetapi tetap teguh pada prinsip moral. Idealisme yang matang juga bersedia diuji melalui ilmu pengetahuan, diperbaiki melalui dialog, dan dikuatkan melalui pengalaman.

Islam Berkemajuan sebagai Orientasi Gerakan

Islam berkemajuan menempatkan ajaran agama sebagai sumber inspirasi untuk membangun kehidupan yang berilmu, berkeadilan, berdaya, dan berkeadaban. Islam tidak hanya dipahami sebagai ritual individual, tetapi juga sebagai kekuatan moral dan sosial untuk menjawab persoalan manusia.

Dalam tradisi Muhammadiyah, semangat ini berakar pada pembaruan yang dirintis K.H. Ahmad Dahlan. Melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan pembaruan pemahaman keagamaan, Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa keberagamaan harus menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Bagi generasi muda, nilai Islam berkemajuan perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang relevan dengan tantangan zaman. Kemajuan tidak cukup diukur melalui penguasaan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau tingginya pendidikan. Kemajuan juga harus terlihat dalam kualitas moral, keadilan sosial, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kemampuan masyarakat keluar dari ketertinggalan.

Baca Juga :  Pemuda Asal Lampung Utara Nikahi 2 Gadis yang Masih Saudara Sepupu

Pemuda berkemajuan tidak mempertentangkan iman dengan ilmu pengetahuan. Iman memberikan orientasi etik, sedangkan ilmu membantu memahami persoalan dan menemukan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, generasi muda perlu membangun tradisi berpikir kritis, budaya membaca, penguasaan teknologi, dan keterbukaan terhadap dialog tanpa kehilangan akhlak serta kepedulian sosial.

Agama harus menjadi sumber energi untuk menghadirkan kebaikan, bukan alasan membangun permusuhan. Mencerahkan bukan berarti merasa paling benar, melainkan membantu masyarakat menemukan jalan kebaikan melalui keteladanan, pengetahuan, dan pelayanan.

Dakwah yang Mencerahkan

Dakwah merupakan ruang penting untuk mengaktualisasikan Islam berkemajuan. Tantangan dakwah hari ini bukan sekadar menyampaikan pesan keagamaan, melainkan memastikan pesan tersebut relevan dengan persoalan nyata masyarakat.

Perkembangan media digital membuka peluang luas bagi pemuda untuk menyebarkan pengetahuan melalui tulisan, video edukatif, diskusi daring, dan berbagai platform komunikasi.

Namun, kemudahan tersebut juga menuntut tanggung jawab. Informasi keagamaan yang tidak terverifikasi dan konten provokatif dapat memperbesar kesalahpahaman serta memperuncing perbedaan.

Karena itu, pemuda perlu membangun dakwah yang berlandaskan ilmu, kebijaksanaan, dan keteladanan. Popularitas bukan ukuran utama keberhasilan dakwah. Jumlah pengikut dan penonton tidak selalu mencerminkan perubahan perilaku.

Dakwah yang mencerahkan harus mampu menjawab persoalan keluarga, pendidikan karakter, perundungan, etika bermedia sosial, dan kepedulian terhadap kelompok rentan. Dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar masjid atau forum pengajian, tetapi juga di ruang kelas, lingkungan kerja, komunitas digital, dan ruang publik lainnya.

Pemuda yang menyerukan kejujuran harus menunjukkan integritas. Mereka yang mengajak pada persaudaraan harus mampu merawat kebersamaan. Dengan demikian, dakwah menjadi gerakan yang menghadirkan perubahan, bukan sekadar aktivitas menyampaikan pesan.

Pendidikan dan Pemberdayaan sebagai Jalan Perubahan

Tidak ada peradaban besar yang dibangun dengan mengabaikan pendidikan. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk manusia berpengetahuan, berkarakter, mandiri, dan mampu menghadapi perubahan.

Bagi pemuda berkemajuan, pendidikan tidak boleh dipersempit menjadi urusan ijazah atau pekerjaan. Pendidikan harus membebaskan manusia dari kebodohan, ketergantungan, dan keterbatasan kesempatan.

Gerakan pemuda dapat diwujudkan melalui komunitas belajar, pendampingan anak-anak, gerakan literasi, pelatihan keterampilan digital, dan penguatan kepemimpinan. Mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dapat berbagi dengan masyarakat, terutama kelompok yang memiliki keterbatasan akses pendidikan.

Pendidikan juga harus memadukan kecakapan intelektual dan akhlak. Generasi yang cerdas tanpa integritas berisiko menyalahgunakan pengetahuan, sementara niat baik tanpa kompetensi akan kesulitan menjawab persoalan kompleks. Karena itu, pemuda perlu menjadi pembelajar sepanjang hayat agar terus meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas manfaat pengabdiannya.

Selain pendidikan, pemberdayaan merupakan wujud konkret kepedulian sosial. Masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat, tetapi juga kesempatan, keterampilan, dan pendampingan untuk tumbuh mandiri.

Pemuda dapat mendampingi pelaku usaha mikro dalam pemasaran digital, pencatatan keuangan, pengemasan produk, dan pengembangan jaringan pasar. Mereka juga dapat mengembangkan pelatihan keterampilan kerja serta membantu menghubungkan potensi ekonomi lokal dengan peluang yang lebih luas.

Pemberdayaan perlu diarahkan pada perubahan yang terukur, seperti meningkatnya keterampilan, terbukanya kesempatan kerja, bertambahnya pendapatan, dan menguatnya kemandirian masyarakat. Dengan demikian, kepedulian tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi proses berkelanjutan yang meningkatkan martabat manusia.

Baca Juga :  Membaca yang Tersirat, Rustam Akili Bakal Mengikuti Jejak Kemenangan Prabowo

Transformasi Sosial: Dari Kritik Menuju Solusi

Pemuda harus memiliki keberanian bersikap kritis terhadap ketidakadilan, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Sikap kritis merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan kehidupan demokratis. Namun, kritik akan lebih bermakna apabila disertai argumentasi yang kuat, data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tawaran solusi yang realistis.

Pemuda berkemajuan tidak boleh terjebak dalam budaya menyalahkan. Mereka perlu memahami akar persoalan, menyusun langkah perubahan, dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

Dalam persoalan lingkungan, misalnya, pemuda dapat mengembangkan gerakan pengurangan sampah, penghijauan, dan edukasi pengelolaan limbah. Dalam kehidupan sosial, mereka dapat membangun forum dialog, memperkuat solidaritas warga, serta mengembangkan program pencegahan kekerasan dan perundungan.

Transformasi sosial membutuhkan kerja bersama. Organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas masyarakat dapat saling melengkapi. Identitas organisasi penting sebagai ruang pembinaan, tetapi tidak seharusnya menjadi penghalang kolaborasi demi kepentingan bersama.

Organisasi pemuda juga perlu bertransformasi menjadi ruang pembelajaran dan kepemimpinan yang produktif. Program kerja tidak boleh berhenti pada rutinitas dan kegiatan seremonial. Setiap gerakan harus memiliki tujuan, sasaran, indikator keberhasilan, dan evaluasi yang jelas.

Jabatan adalah amanah, bukan keistimewaan. Kaderisasi bukan sekadar mempersiapkan pengurus berikutnya, melainkan membentuk manusia yang berintegritas, kompeten, dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan yang lebih luas.

Mencerahkan Peradaban melalui Kerja Nyata

Peradaban tidak dibangun hanya melalui gagasan besar atau pidato yang menggugah. Ia tumbuh dari kebiasaan menghargai ilmu, menegakkan keadilan, menjaga kepercayaan, merawat lingkungan, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang.

Pemuda berkemajuan perlu memperkuat tiga hal. Pertama, integritas pribadi melalui kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Kedua, kapasitas dan kompetensi agar mampu membaca persoalan, menyusun program, memanfaatkan teknologi, dan mengevaluasi hasil kerja. Ketiga, gerakan kolaboratif yang berkelanjutan agar gagasan dapat berkembang menjadi perubahan nyata.

Langkah sederhana seperti mendampingi anak belajar, membantu usaha kecil, menyebarkan informasi yang benar, dan membangun komunitas peduli lingkungan mungkin terlihat kecil. Namun, jika dilakukan secara konsisten dan terorganisasi, langkah tersebut dapat membentuk budaya baru yang membawa manfaat luas.

Pada akhirnya, Islam berkemajuan bukan sekadar istilah yang indah untuk diperdebatkan, melainkan panggilan untuk memajukan ilmu, memperkuat solidaritas sosial, membela martabat manusia, dan membangun kehidupan yang lebih adil.

Pemuda memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk menerjemahkan panggilan tersebut menjadi gerakan nyata. Mereka harus berani menjaga idealisme ketika pragmatisme menawarkan jalan pintas, bersedia belajar ketika merasa telah mengetahui banyak hal, dan tetap bekerja ketika perubahan belum segera terlihat.

Kita tidak hanya membutuhkan generasi muda yang pandai berbicara tentang masa depan, tetapi juga yang menyiapkannya melalui kerja nyata.

Kita tidak cukup membutuhkan pemuda yang mengkritik keadaan, tetapi juga yang mampu mengubah kritik menjadi gagasan, gagasan menjadi gerakan, dan gerakan menjadi kemaslahatan. Merawat idealisme berarti menjaga arah. Menggerakkan perubahan berarti membuktikan komitmen. Mencerahkan peradaban berarti memastikan bahwa perjuangan membawa manfaat bagi manusia. (adm-01/gopos)

Tags: PemudaSumpah Pemuda
Previous Post

Tarif Pencatatan Hak Cipta Rp0 Diperluas, Seluruh Jenis Ciptaan Akan Gratis!

Next Post

Bantuan Dana Penyehatan JKN Cair

Related Posts

Funco Tanipu (Founder The Gorontalo Institute)
Perspektif

Mengapa Anak Muda Selalu Kalah dalam Politik Gorontalo?

Rabu 28 Oktober 2026
Perspektif

Siti Asiyah Sang Pejuang Iman Dari Sungai Nil

Jumat 23 Oktober 2026
Dr. Dolot Alhasni Bakung. SH., MH adalah dosen tetap di lngkungan Fakultas Hukum Universitas Negeri Gorontalo sejak tahun 2009 dan saat ini menjabat Ketua Pusat Kajian Hukum Argaria Fakultas Hukum UNG. Tulisan ini disarikan dari artikel jurnal penulis tentang tanah yang berjudul “Challenging the State’s Monopoly on Legality over Customary Land in Gorontalo: ‘Land Without a State: Unpacking the Legal Absence of Land in Gorontalo’s Customary Law Communities’.
Perspektif

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Senin 19 Oktober 2026
Perspektif

Tidak Membongkar Bangunan Tua, Mengapa Adhan Harus Menanggung Perkara?

Senin 19 Oktober 2026
Perspektif

Bahasa Kekuasaan dan Politik Bencana Karhutla

Jumat 16 Oktober 2026
Fadli Alamri
Perspektif

Siti Hajar: Ratu Zamzam

Jumat 16 Oktober 2026
Next Post

Bantuan Dana Penyehatan JKN Cair

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Kejati Tahan Eks Pj Gubernur Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Santriwati Meninggal Tenggelam, Keluarga Polisikan Pimpinan Ponpes Hubulo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Perintah” Eks Pj Gubernur ke Syukri Botutihe Proyek Video Wall Kini Didalami Kejati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masa Aksi Penambang Suwawa Diduga Jarah Gudang Logistik PT GM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sempat DPO, Oknum Notaris Hartati Haridji Diringkus Kejaksaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.