Oleh: Fadli H. Alamri
Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Firaun ketika dia berkata, “Ya Yuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkan aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim (QS: Attahrim:: 11)
Akhen seorang raja. Dia mempunyai kepercayaan di jalan yang dipercaya (tauhid) yang diajarkan oleh Nabi Yusuf dan ayahnya, kedua matanya tak pernah sekalipun memandang para Tuhan Mesir. Akhen percaya kepada Tuhan yang satu. Sebelum kekuasaan Akhen berakhir dengan kematianya, Nabi Yusuf pernah berwasiat mengatakan bahwa akan datang para panglima perang yang memakai tutup kepala berkilau yang akan menghancurkan Ilahi dan puisi-puisiku.
Akhen yang disebut sebagai raja yang tak tahu balas budi, telah melakukan dosa besar dengan menolak agama banyak Tuhan Mesir, dia harus mendapat hukuman, beginilah pendapat para perampas dan penumpas kerajaan menghancurkan kerajaan, ingin dikembalikan lagi pada kepecayaan Mesir kuno, Tuhan tunggal yang Akhen dan rakyatnya percaya dan yakini, harus dihapuskan dan dihancurleburkan dari inskripsi, kuil, tempat pemakaman dan dokumen-dokumen resmi, bahkan lebih parah lagi, dilupakan selamanya, mengubah sejarah seakan tak pernah terjadi.
Horemheb dan pasukannya yang ganas memporak-porandakan Kota Aton, pemakaman dihancurkan, gudang, dan lumbung pangan dibakar, sumber mata air yang jernih, perkebunan kurma yang panjang tak berujung, serta lahan-lahan perkebunan yang diberkahi tak luput dari penghancuran. Perpustakaan yang membuat tulisan dan dokumen-dokumen resmi dilahap api kurang satu minggu, langit diselimuti asap hitam selama tujuh hari tujuh malam dan abu gulungan kertas menghujani seluruh kota.
Sementara itu, pangeran Utara salah satu putra Raja Akhen berhasil dari pembunuhan massal yang nanti akan mewariskan tahta kerajaan, karena tak sengaja diduga sebagai anak penduduk rakyat biasa. Dimana memberikan harapan besar komandan Horemheb yang ingin membawanya sebagai tawanan pribadi. Namun, setelah pertempuran berdarah dia tak mampu bersaing dengan para pendeta dari Memphis, Horemheb pun menghentikan peperangan dan menyerahkan pewaris kerajaan kepada mereka dan memerintahkan pusat kerajaan kembali ke ibukota Memphis.
Masa Pendidikan di Akademi Kerajaan
Ibu dan ayah Asiyah meninggal ketika Ia masih bayi, kemudian Dia dibesarkan oleh Apa seorang pengasuh abdi tua kerajaan, Apa kedua matanya yang dibutakan dengan besi panas sebagai hukuman karena melindungi Asiyah yang masih kecil,
Hari-hari perjalanan dari kota Aton ke Memphis ditempuh tujuh hari penuh kepedihan, Siti Asiyah dalam perjalanan ini dihibur oleh Apa menuju pada kehidupan yang berbeda, Ketika imigran terus berjalan dengan berbagai macam kesulitan, Apa menyusun daftar anak-anak yang akan dimasukan ke dalam akademi kerajaan di Memphis, mereka disambut seperti tak terjadi apa-apa. Orang-orang terasing dari Armana ditempatkan berdasarkan kelompok-kelompok dan bidang pekerjaan.
Anak-anak yang tercatat dalam daftar kerajaan dimandikan sepuluh kali, mereka memakai rambut palsu setelah rambut mereka dipotong, mengenakan seratus riasan dan berbalut pakaian berwarna emas. Setelah mendapatan penyucian dengan Ziggurat (tempat ibadah kepada dewa-dewa oleh masyarakat Mesopotamia kuno) yang suci di halaman luar akademi, mereka diterima sebagai bagian Memphis, sedangkan Apa sang pengasuh dipanggil dengan dengan sebutan Taya. Ia ditugaskan dibawah perintah akademi memberikan pendidikan kepada anak-anak istimewa yang datang dari Amarna dan menjadikan mereka sebagai abdi istana Memphis.
Akademi kerajaan sebuah institusi yang didirikan untuk mempersiapkan peran dan tugas mereka di masa depan, dengan kurikulum yang disiapkan untuk mendidik anak-anak istimewa. Akademi membebaskan murid-muridnya, akan tetapi, hampir semua siswa dipantau dengan kurikulum yang disiapkan secara khusus untuk mendisiplinkan setiap siswa. Akademi ini, menampung dan mendidik siswa sejak berumur empat tahun dampai dua puluh lima tahun dengan ketat menanamkan nilai-nilai dan budaya Mesir. Meskipun diantara siswa kelak ada yang menjadi seorang Raja, huhungan antara akademi dengan siswanya tak pernah terputus.
Disisi lain, khusus siswa perempuan yang menyadari bahwa mereka terlahir sebagai putri kerajaan dan kelak menjadi seorang penganting, sama sekali tak tertarik dengan pelajaran-pelajaran yang diberikan. Akademi ini adalah tempat ujian yang akan menunjukan tugas yang cocok dan sesuai dengan kemampuan para siswa di masa depan. Materi pelajaran seperti peta, teknik dan strategi peperangan yang diberikan di kelas-kelas lanjutan menguatkan kesan bahwa sekolah ini sebagai sekolah anak laki-laki. Para siswa mulanya diajarkan afabet Mesir dan menulis, lalu belajar cara berbicara, adat istiadat, pengetahuan puisi, peribahasa dan matematika. Seiring dengan waktu diajarkan pula logika serta simbol dan makna dalam sistem kasta dalam masyarakat Mesir, kode-kode peradaban berdasarkan pada keyakinan dan kepercayaan terhadap banyak Tuhan.
Ideologi dan pengetahuan diterapkan dengan pola pikir kepada anak-anak dengan pelaksanan hari-hari raya suci dan upacara hari raya. Oleh sebab itu, hampir tiga hari dalam seminggu selalu diadakan upacara suci di akademi kerajaan Mesir. Upacara-upacara ini mengenang kegemilangan masa lalu yang mengintasi zaman. Zaman adalah Tuan yang tidak tampak yang paling mereka hormati. Perayaan hari raya, dupa yang dibakar, dengan pakaian mencolok semuanya untuk memberkati zaman.
Tahun-tahun berganti dengan cepat seperti aliran air sungai Nil yang berada di depan istana, sepuluh tahun telah berlalu adalah waktu yang sungguh lama dan sulit untuk dilupakan dan disembunyikan. Apa yang badannnya semakin bungkuk karena menanggung kesedihan dan luka dihatinya menjadi seorang kakek bagi anak-anak, Apa merupakan guru yang handal diantara para guru, tak berbahaya bagi istana dan tidak dicurigai oleh para pendeta Memphis.
Apa telah menempati janji kepada tuannya Akhen, kapan saja tangan abdi buta ini bersentuhan dengan anak-anak pilihan yang berjumlah empat anak ini, dia merasakan aura biru yang bergerak diujung jemarinya, meski dia tak bisa melihat, hati guru tua itu terbagi menjadi empat mata naluri untuk empat anak yang berada di hatinya. Anak pertama, Yes berumur lima belas tahun selalu memaksanya untuk mendendangkan salah satu lagu Ilahi yang terlarang, memperingatkannya dengan panggilan Asiyah, mengisyaratkan untuk diam, Aisyah muda tahu selalu berhati-hati ketika Apa memangilnya dengan ucapan Asiyah bukan Yes.
Kecantikan Asiyah sama dengan kecantikan ibunya yang membahana ke seluruh tanah Mesir, tubuhnya langsing, kulitnya putih dan menjulang tinggi diantara perempuan Mesir. Kerendahan hati dan kedermawanannya membuat orang-orang yang mengenalnya semakin mempesona. Seolah, tak satupun tidak terpersona dengan putri berhati emas, yang dipandang sebagai ratu masa depan diantara anak-anak kerajaan.
Anak kedua, Pare-Aton saat berada di Armana, ketika Horemheb memerintahkan pelarangan semua nama Aton sebagai tambahan dan diganti dengan nama Pare-Amon. Pangeran Pare- Amon berumur dua puluh tahun, dikenang dengan nama tuhan yang paling kuat di agama Mesir, ‘Ra’ Pare-Amon yang paling menonjol diantara keempat anak yang diasuh oleh Apa, sifat kepemimpinannya, wajahnya yang mempesona dan kemampuan berbicara menarik banyak perhatian. Badannya yang tinggi, rambutnya memanjang sampai bahu, bahunya lebar, wajahnya tegas dan kokoh, kulitnya kecoklatan lengan dan kakinya panjang serta aksen dan intonasi suaranya tegas membuat orang terhipnotis, setiap orang berbicara padanya memberikan rasa hormat sebagai kaisar masa depan.
Anak kertiga, Karonaim, mereka memanggilnya dengan ‘Ka’ nama pendeknya. Menurut agama Mesir, Ka merupakan nama sebuah energi kebangkitan yang diberikan pemimpin para Tuhan, mereka memanggilnya Ka-Amon atau Karun dalam bahasa keseharian, Karun merupakan siswa yang paling pandai dalam bidang pendidikan. Seorang pemuda jenius yang selalu menyibukkan dirinya dengan kegiatan baru, teori ilmu pengetahuan baru, tak banyak bicara, hapal beratus bait musik dan astronomi, memahami pengetahuan kimia sampai sihir. Namun, Apa selalu mengajarkan makna cinta dan pengorbanan, Ka tak mampu memahami arti dengan sepenuh hatinya, Ia memiliki sifat yang aneh tidak setia dan suka berbicara sambil bercanda.
Anak keempat, Hama-Aton, pemuda yang memahami semua ramalan seni secara detail suku aslinya Kipti, dipanggil dengan nama pendek ‘Ha’ adalah Ha-Anom atau Haman, badannya tinggi dan gagah, kulitnya gelap kedua bola matanya hijau memberi kesan misterius. Ha merupakan siswa yang paling dipantau para pendeta dan penasihat kerajaan. Ha sangat cocok menjadi seorang penasihat terlihat sejak kecil, Dia memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap Ra, diantara tiga anak lainnya yang terpilih. Yes tak cocok dengannya. Menurut Ha, Yes memusnahkan energi kekuasaan Ra dengan sifat kerendahan hati dan kedermawanan. Mereka seperti empat burung, empat pilar, empat tembok dan empat unsur alam semesta, Udara, Tanah, Air dan Api, yang nantinya akan menjadi aktor dalam menjalankan roda pemerintahan Mesir
Simbol Udara yang berada di langit dan tempat tinggi, menjadi sumber pikiran bagi Ha, tepat menjadi simbol bagi Haman, idealisme yang tinggi, ego, pemaksa keputusan dan kekuasaan terwujud pada dirinya, hal ini membuatnya menjadi sombong, angkuh dan bahkan seorang yang curang.
Tanah merupakan simbol Karun, Ka muda yang selalu ingin berpetualangan dan melakukan penemuan, kelebihan Karun kecerdasan, kepercayaan diri dan keberanian. Sayang, kelebihan ini membuat Karun menjadi seorang yang serakah, tak setia dan tak pernah puas.
Air sangat tepat meggambarkan keindahan, kebaikan, kedermawanan dan kerendahan hati, merupakan kelebihan sifat Asiyah, Dia merupakan penengah diantara ketiga anak laki-laki yang selalu bertengkar sejak kecil. Yes adalah seorang anak yang istimewa sering mengorbankan dirinya demi keselamatan orang lain, dan keberaniannya yang luarbiasa.
Api adalah milik Ra, simbol Pare-Amon seorang yang memiliki karakter kepemimpinan, cerdas dan kharismatik, kata-kata yang terucap darinya memiliki ketertarikan, pemuda yang yang menjadi pusat perhatian yang dihormati sejak kecil. Namun, kekurangan Ra adalah kepercayaan diri dan keingintahuannya yang berlebihan. Kekuatan dan ilmu pengetahuannya berubah menjadi keegoisan.
Sementara itu, Pangeran Utara yang terluka berat sepuluh tahun lalu akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan dengan tidak dibangun batu nisan, satu-satunya Raja Mesir yang dimakamkan di tempat tak layak bagi seorang pemegang mahkota dan tahta.
Menikah dengan Firaun
Upacara Set tahun ini memiliki kejutan yang berbeda di istana Memphis, akan dirayakan bersamaan dengan pemakaian mahkota pengangkatan Raja baru dan Ratu Mesir, akhir dari masa penuh kecemasan yang mana pasca pemindahan Ibu Kota negara dipimpin oleh militer dan para pendeta. Tahta kerajaan harus diserahkan kepada pewaris paling layak didikan akademi kerajaan. Kepala pendeta menekankan bahwa atas kejayaan kerajaan tak hanya memilih seorang Raja, akan tetapi menentukan siapa yang akan menjadi Ratu.
Dalam musyawarah penentuan siapa yang akan menjadi Raja Mesir yang akan ditentukan okeh majelis, Apa yang ikut dalam majelis menjelaskan plus minus empat orang pemuda yang menjadi kandidat dalam pemillihan, Ia menjelaskan sampai pada hewan suci dalam kripto Mesir, Yes merupakan satu-satunya anak yang memiliki tiga medali dengan penanggalan ruh yang berbeda, bunga Teratai yang menyimbolkan kedamaian dan berkah dengan daun berwarna biru dan ungu, sedangkan dalam daftar hewan suci burung Ibis dan Bastet (Dewi Kucing) menjadi simbol dirinya.
Pada malam Yes dilahirkan ke dunia sekelompok bintang Orion berada di atas langit Istana Kerajaan, para musafir padang pasir dan orang bijaksana yang datang dari Timur yang berada dengan tamu istana, menyebut bayi yang baru lahir itu dengan nama Asiyah. Dalam bahasa mereka bermakna pilar dan tembok merupakan penyambung kerajaan dengan langit tujuh tingkat. Siti Asiyah merupakan cucu Raja Reyyan bin Malik dari Amalika yang menyelamatkan Mesir dari kekeringan di masa Nabi Yusuf, Dia sendiri merupakan putri dari Raja Muzahim.
Atmosfer musyawarah yang berjalan baik, ditanggapi dengan rasa gembira, syarat-syarat yang diinginkan oleh kepala pendeta dalam musyawarah mendapat dukungan yang besar dengan penjelasan Apa, hasil keputusan ditetapkan bahwa Ra menjadi Raja dan Yes menjadi Ratu Yesiyis. Restorasi yang berlangsung sebenarnya merupakan sebuah masa yang akan mereka tinggalkan tak jauh dari sebuah revolusi berdarah. Fondasi pemerintahan kerajaan Mesir akan kembali, mahkota raja yang akan berpindah dari sang ayah kepada anaknya, akan turun-temurun diwariskan dalam garis keturunan mereka.
Lahirnya Siti Asiyah dari garis keturunan raja, membuat pernikahan ini dua kali disahkan. Oleh karena itu, singgasana dari emas milik Ratu Yesiyis di upacara penyerahan mahkota berdampingan sama tinggi dengan tahta milik suaminya Raja Ra.
“Tuhanku, terimalah aku dalam rumahMu, selamatkanlah aku dari kesendirian, jauhkanlah aku dari kesombongan para raja dan ratu terdahulu, bukakanlah hatiku kepadaMu. Takdirkanlah aku untuk menjadi tamu di rumahMu” terucap butiran-butiran doa dari bibir Aisyah
Mendidik Nabi Musa
Rumah tangga Raja Ra dengan Siti Asiyah tidak mendapat kebahagiaan, dimana sang raja senantiasa sibuk dengan urusan pemerintahan dan perluasan wilayah kekuasaan, sedangkan Asiyah berkurung diri di istana miliknya, Ra atau firaun yang kita kenal semakin menjadi-jadi bersama Haman penasehatnya berbuat dan berulah bahwa Ra mempunyai kekuasaan yang mutlak dan bahkan dinobatkan menjadi Tuhan. pada suatu malam pare-Amon bermimpi buruk yang mana seekor naga besar yang terang seterang sinar Matahari membakar seluruh negeri Mesir dari semburan api yang keluar dari mulutnya kecuali sungai Nil.
Dari hasil penafsiran mimpi yang akan terjadi malapetaka kepada raja Ra, maka diambil kesimpulan oleh Haman yang merangkap perdana Menteri dan kepala pendeta, dengan memusnahkan generasi bayi laki-laki Ibrani yang baru lahir sebagai pengorbanan kepada para Tuhan.
Dipihak lain, rumah kecil Imran terasa ada kebahagiaan yang bercampuraduk dengan kecemasan, telah lahir seorang bayi laki-laki di tahun kematian yang disambut selamat datang oleh tanah dan sungai Nil. Yakobed yang telah melahirkan Nabi Musa, dengan berbagai strategi mengelabui petugas kematian untuk menyelamatkan bayi Nabi Musa. Arahan melalui mimpi yang memberi bisikan: ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu khawatir dan jangan pula bersedih hati karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salahseorang) dari para rasul’
‘Letakanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai(Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuhKu dan musuhnya’.
Sementara itu, melalui jalan takdir Ratu Asiyah beserta pemdampingnya menaiki perahu di sungai Nil, seketika haluan perahu bertabrakan dengan peti mati yang berisi bayi Nabi Musa yang menangis, segera munkin peti tersebut diangkat dari sungai dengan bayi berwajah cahaya yang belum pernah mereka lihat, wajah yang membuat setiap orang melihat jatuh hati padanya.
Di sisi lain, terjadi ketegangan yang mana bayi Musa yang telah tinggal di Istana menunggu keputusan raja Pare-Amon untuk tetap tinggal atau kematian. Namun, dengan pertimbangan tak ingin kehilangan kesempatan yang selama ini dinantikan kedekatan dengan Ratu tak pernah dia rasakan dan setelah melewati ujian bayi ini, dipelihara dalam istana. Bayi ini dinamakan Musa karena menariknya dari air. Dari kecil hinga dewasa Siti Asiyah mendidik Nabi Musa bersama ibundanya yang juga menyesuinya dari kecil tentang nilai-nilai dan ahlak yang baik serta mengajarkan muwahidun (tauhid) ditengah kerusakan moral dibawah kepemimpinan Firaun.
Dengan kuasa Allah Nabi Musa terjaga sampai Ia dewasa dengan segala macam peristiwa dan dinamika yang dialaminya, tibalah saatnya menyampaikan risalah perintah Allah berdakwah bersama saudaranya Harun kepada rakyat Mesir dan kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melewati batas. Akan tetapi, bukan menerima ajakan Nabi Musa, Firaun bersama menterinya menolak kebenaran bahkan membunuh bagi orang beriman kepada Allah.
Pada saat itu, hati dan perasaan Sultanah Aisyah tidak bisa menahan tentang kezaliman yang diperbuat Pare-Amon, Ia bertindak dan melawan dihadapan public Mesir sampai di penjara oleh suaminya, Asiyah seperti Nil yang tak bisa diserang, tinggi seperti ombat besar. Firaun yang buta akan kebenaran menghukum Siti Asiyah dengan mengikat tangan dan kakinya, mereka membakar Siti Asiyah dalam tumpukan kayu yang tinggi di atas pasir panas. Sahidlah seorang Muslimah yang sejak kecil bertauhid kepada Allah dan berjuang bersama anak asuhnya Nabi Musa dari kezaliman Firaun.
Bunga-bunga bermekaran seperti lotus putih, yang di ujung-ujungya tak meneteskan darah, pintu-pintu langit telah terbuka. Ya Allah, ‘Berikanlah sebuah rumah yang hangat bagiku di sisiMu’. Pagi itu, Nil menangis untuk saudara perempuannya, seluruh ikan berada di dalamnya, mutiara yang berada di tepiannya, pohon-pohon akasia yang berada di sudutnya dan gurun yang menjaga bukit rahasia-rahasia di dalamnya. Semuanya menangis…








