GOPOS.ID, BUNTULIA – Pemerintah Kabupaten Pohuwato terus mempercepat upaya penanganan persoalan kekurangan air yang selama ini menjadi hambatan utama produktivitas pertanian sawah di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa. Salah satu langkah yang diperjuangkan adalah pembangunan enam titik Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang ditargetkan mulai dikerjakan pada Agustus 2026.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, saat menghadiri Gerakan Tanam Serempak (Gertam) Padi dengan metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di lahan Kelompok Tani Sejahtera, Desa Buntulia Utara, Kecamatan Buntulia, Kamis (30/07/2026).
Menurut Saipul, pemerintah daerah telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk memperjuangkan pembangunan JIAT sebagai solusi jangka panjang dalam memenuhi kebutuhan air irigasi di kawasan persawahan.
“Sistem JIAT memanfaatkan sumber air tanah yang ditampung terlebih dahulu sebelum dialirkan ke areal persawahan. Program ini memang membutuhkan anggaran besar, tetapi terus kami perjuangkan demi kepentingan petani,” ujar Saipul.
Saipul menjelaskan, usulan pembangunan enam titik JIAT diharapkan mulai direalisasikan pada Agustus mendatang. Setiap titik diperkirakan mampu mengairi sekitar 10 hektare lahan persawahan sehingga dapat meningkatkan luas tanam di wilayah yang selama ini mengalami keterbatasan air.
“Pemerintah tidak tinggal diam. Selain memperjuangkan pembangunan JIAT, kami juga terus melakukan pengangkatan sedimentasi pada saluran irigasi. Harapannya, persoalan yang selama ini dikeluhkan petani dapat segera teratasi,” tutur Saipul.
Menurut dia persoalan pertanian di Buntulia dan Duhiadaa tidak hanya dipengaruhi minimnya pasokan air, tetapi juga sedimentasi pada jaringan irigasi primer dan sekunder yang menghambat distribusi air ke lahan pertanian. Akibat kondisi tersebut, dari sekitar 2.200 hektare areal persawahan yang tersedia, baru sekitar 100 hektare yang dapat ditanami.
“Pemkab Pohuwato terus mendorong normalisasi Sungai Taluduyunu guna mengoptimalkan fungsi Daerah Irigasi Taluduyunu. Langkah ini dinilai penting untuk memulihkan aliran air pada jaringan irigasi primer dan soptimal, sehingga mampu melayani ribuan hektare lahan persawahan secara optimal,” tutup Saipul (Yusuf/Gopos)








