GOPOS.ID, JEMBER – Pendapa Wahyawibawagraha dipenuhi tokoh agama, pengasuh pondok pesantren, guru ngaji, organisasi kemasyarakatan, dan jajaran Pemkab Jember, Selasa (16/6/2026).
Pertemuan itu berlangsung dalam agenda pelantikan Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Guru Ngaji. Forum tersebut menjadi ruang mempererat sinergi serta bertukar gagasan.
Berbagai persoalan dibahas dalam kegiatan itu. Mulai isu kebangsaan, pembangunan daerah, hingga perkembangan ekonomi nasional menjadi perhatian para peserta.
Bupati Jember Muhammad Fawait menyampaikan apresiasi kepada seluruh undangan yang hadir. Hadir pula unsur PCNU Jember, PCNU Kencong, Muhammadiyah, LDII, PHDI, hingga Musyawarah Antar Gereja.
Menurut Gus Fawait, keberadaan pesantren dan guru ngaji memiliki posisi penting dalam menjaga moral masyarakat di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi.
“Hari ini pesantren dan guru ngaji menurut saya adalah benteng dari akhlak bangsa Indonesia,” ujar Gus Fawait di hadapan para kiai, gus, lora, dan tokoh lintas agama.
Ia menilai media sosial telah mengubah pola masyarakat dalam menerima informasi. Karena itu, kemampuan memahami dan memilah informasi perlu terus diperkuat.
“Ada upaya menggiring opini dan memengaruhi masyarakat untuk mencaci maki pemimpin kita. Ini harus disikapi dengan bijak,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Gus Fawait juga mengajak masyarakat melihat situasi nasional berdasarkan data dan fakta, bukan sekadar narasi yang berkembang di ruang digital.
Ia mencontohkan perbandingan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis 1998. Menurutnya, sejumlah indikator menunjukkan situasi sekarang masih jauh berbeda.
“Kalau berbicara nilai tukar rupiah, kondisi hari ini tidak bisa disamakan dengan tahun 1998. Faktanya tidak seperti itu,” ungkapnya.
Gus Fawait menambahkan inflasi nasional masih terkendali dan fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat. “Cadangan devisa kita masih sangat kuat, bahkan Indonesia kini menuju swasembada pangan,” pungkanya.(kur)








