GOPOS.ID, KOTAMOBAGU – Konten kreator asal Bolaang Mongondow (Bolmong), Rivel Sumigar, menuai sorotan tajam dari warganet setelah mengunggah video anak-anak yang terlihat bermain saat pelaksanaan salat di dalam masjid melalui akun Facebook pribadinya.
Dalam video yang diunggah di status Facebook yang di tonton 2 juta followers tersebut, tampak sejumlah anak memperagakan gerakan menyerupai salat di tengah jamaah yang sedang beribadah. Pada keterangan unggahannya, Rivel mempertanyakan apakah dalam ajaran Islam diperbolehkan adanya anak-anak yang mempermainkan gerakan salat ketika ibadah sedang berlangsung.
Unggahan itu sontak memicu beragam reaksi dari netizen. Sebagian warganet mengecam keras postingan tersebut dan menilai pertanyaan yang dilontarkan berpotensi menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
“Hal seperti ini sensitif. Jangan sampai menimbulkan persepsi yang tidak kita inginkan bersama,” tulis salah satu akun di kolom komentar.
Tak sedikit pula yang mencibir dan mengingatkan agar isu keagamaan tidak dijadikan bahan konten yang bisa memicu perdebatan atau kesalahpahaman publik. Mereka menilai, konteks dan narasi dalam unggahan tersebut perlu dijelaskan lebih rinci agar tidak menimbulkan multitafsir.
Namun, ada juga netizen yang mencoba bersikap lebih moderat. Beberapa di antaranya menyebut bahwa Rivel hanya mengajukan pertanyaan dan membuka ruang diskusi, bukan menyudutkan pihak tertentu.
“Beliau hanya bertanya, bukan menghakimi. Jangan langsung diserang,” tulis warganet lainnya.
Perdebatan di kolom komentar pun tak terhindarkan. Hingga kini, unggahan tersebut terus menuai respons beragam dari pengguna media sosial.
Upaya konfirmasi telah dilakukan melalui pesan messenger kepada Rivel Sumigar. Namun, hingga berita ini ditayangkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan atau klarifikasi resmi terkait maksud dan tujuan dari unggahan tersebut.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa konten di media sosial, terlebih yang menyangkut isu sensitif seperti praktik keagamaan, dapat dengan cepat memicu reaksi publik dan perdebatan luas di ruang digital. (End/Gopos)








