GOPOS.ID, GORONTALO – Provinsi Gorontalo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang optimis di kisaran 5,5-6,5 persen pada 2026. Namun, di balik optimisme angka tersebut, daerah ini dihadapkan pada sejumlah tantangan struktural dan risiko eksternal yang memerlukan mitigasi segera.
Tantangan-tantangan ini menjadi sorotan utama dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Gorontalo, yang mengusung tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”, Jumat (28/11/2025) bertempat di Kantor Perwakilan BI Gorontalo.
Plh. Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Ciptoning Suryo Condro, menyoroti tiga tantangan utama di level nasional yang turut memengaruhi prospek ekonomi Gorontalo 2026. Pertama, ketidakpastian geopolitik akibat konflik yang masih berlangsung berpotensi menimbulkan perlambatan pertumbuhan global, meskipun perekonomian nasional diprakirakan akan tetap resilien. Kedua, pergeseran arus modal dan kapital kepada aset yang bernilai lebih tinggi dan dipandang sebagai safe haven (aset investasi yang aman).
“Perubahan iklim dan bencana alam menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan inflasi,” kata Ciptoning.
Di tingkat domestik Gorontalo, terdapat lima pekerjaan rumah yang wajib menjadi perhatian pemerintah daerah dan stakeholder terkait untuk memastikan target pertumbuhan PDRB tercapai. Yakni:
- Nilai Tambah Pertanian
Sebagai provinsi dengan pangsa pertumbuhan ekonomi didominasi oleh LU Pertanian (37,26%), tantangan terbesar adalah perlunya peningkatan produktivitas dan hilirisasi pertanian.
“Peningkatan produktivitas dan hilirisasi sangat diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian Gorontalo, agar tidak hanya bergantung pada produk mentah,” jelas Ciptoning.
- Penguatan Ekosistem Investasi
Guna mendorong daya tarik dan masuknya modal, Gorontalo dihadapkan pada kebutuhan penguatan ekosistem investasi. Iklim investasi yang lebih kondusif dan efisien sangat diperlukan untuk menggerakkan sektor-sektor produktif.
- Disparitas Harga dan Rantai Pasok
Meskipun daerah ini surplus pada komoditas strategis seperti cabai dan beras, Gorontalo masih perlu meningkatkan efisiensi tata niaga dan rantai pasok komoditas pangan. Tantangan ini diperparah oleh disparitas harga antar waktu dan antar daerah yang akan berpengaruh terhadap inflasi. Komoditas seperti beras dan barito (bawang, rica, tomat) menjadi perhatian utama penyumbang inflasi.
- Kesiapan Pariwisata dan Digitalisasi PAD
Sektor pariwisata yang merupakan salah satu fokus pembangunan masih memiliki tantangan dalam hal kesiapan layanan pariwisata yang masih perlu ditingkatkan. Selain itu, digitalisasi pembayaran menjadi kunci untuk mendorong Pendapatan Asli Daerah (PAD).
- Peningkatan Kualitas SDM
Dalam jangka panjang, kualitas serta kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) masih perlu ditingkatkan demi mendukung pembangunan daerah ke depan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BI bersama Pemprov Gorontalo dan pemkab/pemkot Gorontalo memperkuat sinergi melalui lima fokus utama pembangunan. Lima fondasi ini dipandang sebagai kunci untuk meningkatkan perekonomian Gorontalo yang lebih berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus mencapai Visi Indonesia Emas 2045. “Kolaborasi adalah jalan menuju Gorontalo maju dan sejahtera,” kata Ciptoning.
Fokus pertama adalah pada penguatan sektor Agro Maritim. Hal ini mencakup penguatan sektor pertanian, perikanan, dan kelautan melalui peningkatan produktivitas, kualitas hasil, serta pemanfaatan potensi sumber daya alam yang berkelanjutan.
“Konsep agro maritim akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” ujar Ciptoning. Peningkatan ini juga menjawab tantangan perlunya hilirisasi pertanian untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian daerah.
Penguatan Sumber Daya Manusia menjadi prioritas kedua. Fokus ini mencakup peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan melalui peningkatan akses layanan dan mutu pendidikan untuk merespons permintaan akan tenaga kerja yang lebih kompetitif.
Fokus ketiga, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sektor UMKM akan didorong sebagai penggerak perekonomian daerah. Sinergi BI dan pemerintah daerah diarahkan pada peningkatan kualitas, kapasitas, dan produktivitas UMKM secara inklusif.
“Sinergi BI ini diwujudkan melalui program pengembangan dan digitalisasi UMKM, pengembangan klaster pangan, dan pengembangan ekonomi syariah, seperti yang terlihat pada kegiatan HACF & GKK 2025 dan Pesona Tameto 2025,” tutur Ciptoning.
Pembangunan infrastruktur dasar dan peningkatan konektivitas antar wilayah menjadi fokus keempat. Sinergi BI secara spesifik akan mendorong percepatan infrastruktur digital untuk mendukung elektronifikasi layanan daerah dan digitalisasi sistem pembayaran.
“Langkah ini memperkuat kinerja positif Gorontalo yang telah mencapai status ‘digital’ dalam penilaian indeks ETPD (Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah), yang bermanfaat dalam peningkatan PAD dan tata kelola pemerintahan yang efektif,” urai Ciptoning.
Terakhir, sektor Pariwisata akan dikembangkan melalui penguatan destinasi unggulan dan pembukaan objek wisata baru berstandar nasional maupun internasional, termasuk potensi Geopark Gorontalo.
Ciptoning mengungkapkan, sinergi BI akan mendukung upaya ini untuk mewujudkan ekosistem pariwisata digital dan UMKM yang kompetitif. Hal ini sekaligus menjawab tantangan kesiapan layanan pariwisata yang masih perlu ditingkatkan.(hasan/gopos)








