No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Putusan MK Momentum Titik Balik Reformasi Polri dan Birokrasi Sipil

Hasan by Hasan
Jumat 14 November 2025
in Menyapa Nusantara
0
Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie (tengah) didampingi, anggota Otto Hasibuan (kedua kiri), Ahmad Dofiri (kiri), Idham Azis (ketiga kanan), Mahfud MD (kedua kanan), Badrodin Haiti (kanan), dan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (ketiga kiri) memberikan keterangan kepada wartawan usai rapat di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (10/11/2025). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/bar/am.

Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie (tengah) didampingi, anggota Otto Hasibuan (kedua kiri), Ahmad Dofiri (kiri), Idham Azis (ketiga kanan), Mahfud MD (kedua kanan), Badrodin Haiti (kanan), dan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (ketiga kiri) memberikan keterangan kepada wartawan usai rapat di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (10/11/2025). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/bar/am.

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh Raihan Muhammad *)

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 114/PUU-XXIII/2025 mungkin tidak menimbulkan gegap gempita seperti putusan politik lainnya, tetapi dampaknya jauh lebih mendasar dari yang tampak di permukaan.

Dengan mencabut frasa “atau tidak berdasarkan penugasan dari Kapolri” dalam Penjelasan Pasal 28 ayat (3) UU Polri, MK sesungguhnya mengoreksi arah perjalanan panjang relasi sipil–kepolisian yang selama bertahun-tahun dibiarkan kabur. Putusan ini tidak hanya memulihkan norma, tetapi juga membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menata ulang fondasi profesionalisme birokrasi dan institusi keamanan negara.

Dalam konteks tata kelola modern, penempatan aparat bersenjata ke jabatan sipil merupakan tanda bahwa birokrasi negara sedang kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Putusan MK menghadirkan momen untuk membalik keadaan itu: mengembalikan martabat dan kompetensi sipil ke panggung utama pemerintahan. Momentum ini tidak boleh berlalu tiba-tiba.

Menghindari Tumpang Tindih Peran

Salah satu kritik terbesar terhadap praktik penugasan polisi aktif ke jabatan sipil adalah hilangnya batas yang jelas antara kekuasaan sipil dan kewenangan aparat keamanan.

Penempatan personel Polri di kementerian, lembaga independen, dan badan-badan strategis sering kali menciptakan ilusi bahwa kepolisian memiliki kapasitas administratif yang melewati kerangka fungsinya. Padahal, dalam tradisi negara demokratis, fungsi sipil dan fungsi keamanan harus berjalan paralel, bukan bertumpuk.

Praktik ini pada akhirnya melahirkan hal yang bisa disebut sebagai penyempitan ruang sipil: ruang yang seharusnya menjadi arena kompetisi terbuka bagi ASN dan tenaga profesional, tetapi perlahan ditempati aparat aktif yang membawa serta logika komando ke ranah administratif. Di banyak negara, situasi seperti ini dianggap sinyal bahaya awal dari menurunnya kualitas demokrasi.

Putusan MK menjadi penting karena mengembalikan batas itu. Dengan mencabut frasa penjelasan yang selama ini dijadikan alasan administratif untuk melompati garis kewenangan, MK menegaskan bahwa jabatan sipil bukan bagian dari struktur komando Polri. Jabatan sipil harus berada di tangan sipil, baik secara prinsip maupun praktik.

Baca Juga :  Enam Pejuang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Kendati demikian, koreksi MK ini tidak bisa berhenti pada area normatif. Pemerintah perlu membangun kerangka transisi yang jelas untuk memandu lembaga-lembaga sipil dalam mengisi kembali jabatan strategis mereka dengan ASN atau tenaga profesional yang sesuai.

Lembaga-lembaga yang selama ini bergantung pada figur Polri harus diarahkan untuk memperkuat kapasitas internal mereka sendiri, bukan mencari “jalan pintas institusional” lagi. Di sisi lain, Polri pun diharapkan mengambil kesempatan ini untuk memperdalam profesionalisme internal, bukan meratap pada hilangnya privilese lama.

Dengan kata lain, putusan MK ini adalah pengingat bahwa pemisahan peran bukan hanya soal etik dan hukum, tetapi juga soal efektivitas organisasi. Birokrasi sipil bekerja dengan prinsip pelayanan publik. Kepolisian bekerja dengan prinsip penegakan hukum. Menggabungkan keduanya dalam satu tubuh hanya akan melemahkan keduanya.

Menata Ulang

Jika selama bertahun-tahun birokrasi dipandang sebagai lahan subur bagi masuknya aparat, itu terjadi karena ada kerentanan internal yang tidak pernah benar-benar diatasi.

Kelembagaan ASN sering dianggap lamban, kurang adaptif, atau tidak memiliki kapasitas manajerial yang memadai. Ini menjadi alasan beberapa lembaga negara lebih memilih mencari “solusi cepat” dengan menempatkan personel Polri yang dinilai lebih disiplin dan tegas.

Kendati demikian, praktik itu justru memperparah kelemahan internal birokrasi sipil. Ketika jabatan publik dapat diisi melalui skema penugasan, maka mekanisme meritokrasi menjadi rapuh. ASN yang bekerja keras membangun kariernya melalui seleksi jabatan terbuka bisa tersingkir oleh figur yang datang dengan privilese institusional. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya merugikan individu, tetapi merusak kualitas birokrasi itu sendiri.

Putusan MK membuka peluang besar untuk mengakhiri pola ini. Ruang yang semula ditempati aparat aktif kini harus diisi kembali oleh pejabat sipil yang melewati seleksi kompetitif. Namun pekerjaan ini menuntut reformasi besar: memperbaiki sistem assesment ASN, memperkuat kultur profesionalisme, dan memberikan penghargaan yang layak bagi pejabat sipil yang kompeten.

Baca Juga :  Prabowo dan Macron Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia–Prancis

Pada saat yang sama, Polri pun diharapkan melakukan konsolidasi internal. Tanpa “godaan” jabatan sipil, Polri perlu membangun jalur karier yang lebih berbasis kompetensi dan memperkuat tata kelola internalnya sebagai institusi penegak hukum. Justru ini kesempatan untuk menyempurnakan standar operasional, pengawasan etik, dan tata karier yang lebih modern.

Di titik ini, putusan MK bisa menjadi pendorong perubahan dua arah: birokrasi sipil yang semakin profesional dan Polri yang semakin fokus pada tugas inti. Reformasi yang bertumpu pada dua institusi besar ini akan berpengaruh langsung pada kualitas demokrasi Indonesia.

Putusan MK ini, jika diletakkan dalam konteks besar, adalah pintu masuk untuk menata ulang hubungan antara sipil dan kepolisian; hubungan yang lebih sejajar, lebih sehat, dan lebih sesuai dengan prinsip negara hukum modern. Jika pemerintah mampu mengelola momentum ini, Indonesia tidak hanya memperbaiki aturan, tetapi juga memperkuat masa depan demokrasinya.

Maka, putusan MK ini memberi kita satu kesempatan langka: momentum untuk membenahi relasi institusional yang selama ini berjalan pincang. Jika negara benar-benar mengambil langkah berani —menguatkan birokrasi sipil, menegaskan batas kewenangan Polri, dan menempatkan profesionalisme sebagai pijakan utama— maka putusan ini bisa menjadi tonggak pembaruan yang membentuk wajah pemerintahan Indonesia di masa depan.

Akan tetapi, momentum ini hanya akan berarti jika diikuti komitmen nyata, bukan sekadar perubahan frasa dalam undang-undang.

Di titik ini, masa depan reformasi Polri dan perbaikan birokrasi sipil sangat ditentukan oleh keberanian pemerintah untuk menjadikan putusan MK bukan sebagai akhir dari sebuah sengketa hukum, tetapi sebagai awal dari perjalanan panjang menuju tata kelola yang lebih bersih, lebih adil, dan lebih demokratis.(Antara)

*) Raihan Muhammad merupakan Direktur Eksekutif Amnesty UNNES; Pegiat Politik dan Hukum

Tags: Menyapa IndonesiaReformasi Polri
Previous Post

Membela Guru, Membela Masa Depan Indonesia

Next Post

Pemkab Gorontalo Dorong Transformasi Digital Pendidikan Berjalan Nyata di Sekolah

Related Posts

President Prabowo Subianto said decades of capital flight have been a key factor behind the rupiah's long-term weakness, arguing that much of Indonesia's wealth has flowed overseas despite years of trade surpluses. (ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden)
Menyapa Nusantara

Prabowo Bertekad Hentikan Kebocoran Anggaran demi Perkuat Pembangunan Nasional

Selasa 23 Juni 2026
Menyapa Nusantara

Kopdes Merah Putih: Senjata Rakyat Melawan Rentenir dan Tengkulak

Senin 22 Juni 2026
Menyapa Nusantara

Infografik: Rumah Layak bagi 10.000 Siswa Sekolah Rakyat

Senin 22 Juni 2026
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto (tengah) memberikan pernyataan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (22/6/2026). ANTARA/Fathur Rochman
Menyapa Nusantara

Presiden Prabowo Subianto Terima Imperial College Bahas Pendirian 10 Kampus Medis Baru

Senin 22 Juni 2026
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mengajak 119 anak, termasuk anak yatim piatu dari berbagai panti asuhan di Kota Gorontalo, untuk berbelanja kebutuhan tahun ajaran baru di sebuah toko serba ada setempat, Jumat (19/6).
Menyapa Nusantara

Wapres Gibran Ajak Ratusan Anak Yatim Gorontalo Belanja Perlengkapan Sekolah

Jumat 19 Juni 2026
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sekaligus Ketua Umum PSSI Erick Thohir (kiri) bersama Pelatih Timnas Indonesia John Herdman (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai bertemu Presiden Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/6/2026). Presiden Prabowo Subianto menerima Menpora dan Pelatih Timnas Indonesia untuk membahas perkembangan olah raga dan rencana penguatan sepak bola nasional. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kye (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Menyapa Nusantara

Presiden Prabowo Garansi Dukungan Penuh, Targetkan Timnas Lolos Piala Dunia 2030

Jumat 19 Juni 2026
Next Post

Pemkab Gorontalo Dorong Transformasi Digital Pendidikan Berjalan Nyata di Sekolah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos. (Foto. Istimewa/Screenshot google)

    Sherly Tjoanda Dikabarkan Hadir di PENAS XVII

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UMGO Benarkan Video Viral Soal Beasiswa-KIP Kampus Negeri adalah Calon Mahasiswinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rum Ngaku Kecewa, Kunjungan Mentrans ke Boalemo Dibatalkan Mendadak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara Jadi Magnet di PENAS XVII Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UNG Kukuhkan 700 Lulusan pada Wisuda ke-61, Rektor Pesan Jadilah Agen Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.