No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Membela Guru, Membela Masa Depan Indonesia

Hasan by Hasan
Jumat 14 November 2025
in Menyapa Nusantara
0
Dua guru asal Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan Abdul Muis (kiri) dan Rasnal (kanan) memberikan keterangan pers usai menerima langsung surat rehabilitasi dari Presiden Prabowo Subianto di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (13/11/2025). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden/pri.

Dua guru asal Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan Abdul Muis (kiri) dan Rasnal (kanan) memberikan keterangan pers usai menerima langsung surat rehabilitasi dari Presiden Prabowo Subianto di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (13/11/2025). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden/pri.

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh Pormadi Simbolon*)

Presiden Prabowo Subianto akhirnya mengambil langkah untuk membela dua guru, Rasnal dan Abdul Muis, dengan menandatangani hak rehabilitasi untuk memulihkan status dua guru SMAN 1 Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan tersebut.

Langkah tersebut menuai apresiasi dari berbagai kalangan dan dinilai sebagai bentuk penghormatan negara terhadap profesi pendidik.

Kriminalisasi terhadap Rasnal dan Abdul Muis yang berupaya membela guru honorer itu menggugah keprihatinan publik.

Kasus kedua guru tersebut bermula pada 2018, ketika Abdul Muis bersama Rasnal mengusulkan kepada Komite Sekolah agar orang tua murid berpartisipasi secara sukarela untuk membantu membayar gaji 10 guru honorer yang belum menerima upah selama 10 bulan.

Namun, inisiatif itu justru dilaporkan ke polisi dengan tudingan pungutan liar (pungli). Meski Pengadilan Negeri Makassar sempat menyatakan keduanya tidak bersalah, putusan itu dibatalkan Mahkamah Agung (MA) pada tingkat kasasi.

Keduanya dijatuhi hukuman penjara tiga bulan dan denda Rp50 juta, bahkan kemudian dipecat.

Kejadian ini bukan sekadar persoalan hukum, tetapi cermin dari masalah struktural yang selama ini menghantui dunia pendidikan Indonesia. Ketika solidaritas antarguru justru berujung pada ancaman pidana, kita patut bertanya ulang: mengapa profesi pendidik masih berada dalam posisi serentan ini?

Data menunjukkan bahwa persoalan guru honorer adalah fondasi rapuh yang selama bertahun-tahun menopang sistem pendidikan nasional. Menurut data resmi tahun 2022, terdapat sekitar 704.503 guru honorer yang mengisi ruang-ruang kelas di seluruh Indonesia. Angka besar ini mencerminkan betapa sekolah di berbagai daerah, terutama di wilayah pinggiran, sangat bergantung pada tenaga honorer.

Namun ketergantungan itu tidak disertai jaminan kesejahteraan. Riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) menemukan bahwa 74 persen guru honorer menerima gaji di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota. Mereka bekerja penuh tanggung jawab, namun imbalan yang diterima jauh dari kata layak.

Baca Juga :  Koperasi Poros Membangun Kemandirian Ekonomi

Lebih memprihatinkan lagi, laporan tahun 2024 mencatat bahwa lebih dari 428.000 guru honorer di sekolah negeri belum memiliki kepastian status kepegawaian. Ketidakpastian ini bukan sekadar soal klasifikasi administratif, tetapi menyangkut rasa aman seseorang dalam menjalani profesinya.

Keberanian moral yang terancam

Dalam kondisi inilah keberanian moral Rasnal dan Abdul Muis menjadi relevan untuk diperbincangkan.

Tindakan mereka muncul dari dorongan solidaritas—jiwa inti profesi guru—yang dalam etika pendidikan dikenal sebagai moral agency: keberanian mengambil risiko demi membela kebenaran dan memperjuangkan keadilan bagi rekan sejawat.

Mereka tidak sedang mencari masalah; mereka sedang mencoba merawat martabat profesi guru. Ketika tindakan demikian justru dibalas dengan kriminalisasi, ironi itu terasa menohok.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Sharfina Indrayadi menegaskan bahwa kesejahteraan dan kualitas guru harus seimbang dan berkesinambungan. Artinya, kualitas pendidikan tidak mungkin tumbuh dari kondisi kesejahteraan yang timpang.

Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas juga mengingatkan bahwa guru adalah profesi mulia, tetapi “mereka tetap manusia yang membutuhkan kesejahteraan yang layak.”

Sementara Ketua DPR Puan Maharani menyebut pengangkatan guru honorer menjadi PPPK sebagai “langkah maju bagi kesejahteraan mereka”. Namun fakta kriminalisasi seperti yang dialami Rasnal dan Abdul Muis memperlihatkan bahwa perbaikan nasib guru tidak cukup berhenti pada perubahan status administratif.

Ketimpangan Relasi Kuasa

Kasus ini juga menunjukkan bahwa pendekatan represif tidak cocok diterapkan di lingkungan pendidikan. Sekolah bukanlah institusi yang seharusnya mudah menyeret guru ke meja hukum.

Dunia pendidikan memerlukan ruang dialog, mekanisme mediasi, serta pendekatan restoratif. Pemidanaan guru atas konflik internal bukan hanya merusak relasi antarpersonel, tetapi juga memberi pesan negatif: bahwa guru harus berhati-hati ketika bersuara, bahkan ketika yang diperjuangkan adalah nilai keadilan.

Baca Juga :  Otorita IKN Siapkan Pendampingan untuk Kembangkan UMKM Lokal 

Ketimpangan relasi kuasa dalam ekosistem pendidikan tampak jelas. Guru honorer sering diposisikan sebagai warga kelas dua yang mudah dipindahkan, mudah ditekan, dan jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Padahal kontribusi mereka tak kalah besar dari guru ASN. Mereka mengajar kelas yang sama, memikul beban kerja serupa, dan dalam banyak situasi memberikan tenaga lebih. Namun posisi tawar mereka jauh lebih lemah karena tidak didukung status hukum yang kuat.

Titik Balik Keberanian

Karena itu, negara perlu melihat persoalan ini sebagai isu moral dan kebijakan sekaligus. Penataan honorer tidak boleh hanya menjadi wacana tahunan yang bergulir tanpa kejelasan.

Dibutuhkan keberanian politik untuk menghadirkan regulasi dan perlindungan yang tidak hanya menyentuh permukaan, tetapi menangani akar persoalan: status, kesejahteraan, dan rasa aman dalam bekerja. Reformasi pendidikan tidak mungkin berjalan baik jika tenaga pendidiknya diabaikan.

Keberanian moral Rasnal dan Abdul Muis memberi kita pelajaran penting. Di tengah ketidakpastian, masih ada guru yang memilih berdiri tegak demi membela nilai solidaritas dan keadilan.

Mereka mengingatkan bahwa inti pendidikan adalah kemanusiaan. Bila negara ingin membangun pendidikan yang kuat, maka keberanian moral itu harus dirawat dan dilindungi, bukan dibungkam oleh ancaman hukum.

Peristiwa ini semestinya menjadi titik balik bagi kita semua. Guru tidak boleh dibiarkan sendirian ketika memperjuangkan keadilan. Karena ketika kita melindungi guru, sesungguhnya kita sedang menjaga masa depan bangsa.

*) Pormadi Simbolon, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan Pembimas Katolik, Kanwil Kemenag Banten

Tags: Menyapa Nusantara
Previous Post

DPRD Bone Bolango Kawal Serah Terima Aset Pemda

Next Post

Putusan MK Momentum Titik Balik Reformasi Polri dan Birokrasi Sipil

Related Posts

President Prabowo Subianto said decades of capital flight have been a key factor behind the rupiah's long-term weakness, arguing that much of Indonesia's wealth has flowed overseas despite years of trade surpluses. (ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden)
Menyapa Nusantara

Prabowo Bertekad Hentikan Kebocoran Anggaran demi Perkuat Pembangunan Nasional

Selasa 23 Juni 2026
Menyapa Nusantara

Kopdes Merah Putih: Senjata Rakyat Melawan Rentenir dan Tengkulak

Senin 22 Juni 2026
Menyapa Nusantara

Infografik: Rumah Layak bagi 10.000 Siswa Sekolah Rakyat

Senin 22 Juni 2026
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto (tengah) memberikan pernyataan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (22/6/2026). ANTARA/Fathur Rochman
Menyapa Nusantara

Presiden Prabowo Subianto Terima Imperial College Bahas Pendirian 10 Kampus Medis Baru

Senin 22 Juni 2026
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mengajak 119 anak, termasuk anak yatim piatu dari berbagai panti asuhan di Kota Gorontalo, untuk berbelanja kebutuhan tahun ajaran baru di sebuah toko serba ada setempat, Jumat (19/6).
Menyapa Nusantara

Wapres Gibran Ajak Ratusan Anak Yatim Gorontalo Belanja Perlengkapan Sekolah

Jumat 19 Juni 2026
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sekaligus Ketua Umum PSSI Erick Thohir (kiri) bersama Pelatih Timnas Indonesia John Herdman (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai bertemu Presiden Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/6/2026). Presiden Prabowo Subianto menerima Menpora dan Pelatih Timnas Indonesia untuk membahas perkembangan olah raga dan rencana penguatan sepak bola nasional. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kye (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Menyapa Nusantara

Presiden Prabowo Garansi Dukungan Penuh, Targetkan Timnas Lolos Piala Dunia 2030

Jumat 19 Juni 2026
Next Post
Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie (tengah) didampingi, anggota Otto Hasibuan (kedua kiri), Ahmad Dofiri (kiri), Idham Azis (ketiga kanan), Mahfud MD (kedua kanan), Badrodin Haiti (kanan), dan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (ketiga kiri) memberikan keterangan kepada wartawan usai rapat di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (10/11/2025). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/bar/am.

Putusan MK Momentum Titik Balik Reformasi Polri dan Birokrasi Sipil

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos. (Foto. Istimewa/Screenshot google)

    Sherly Tjoanda Dikabarkan Hadir di PENAS XVII

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UMGO Benarkan Video Viral Soal Beasiswa-KIP Kampus Negeri adalah Calon Mahasiswinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rum Ngaku Kecewa, Kunjungan Mentrans ke Boalemo Dibatalkan Mendadak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara Jadi Magnet di PENAS XVII Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UNG Kukuhkan 700 Lulusan pada Wisuda ke-61, Rektor Pesan Jadilah Agen Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.