GOPOS.ID, GORONTALO – Struktur ketenagakerjaan Provinsi Gorontalo menunjukkan dinamika yang menarik sepanjang tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mengungkap, jumlah penduduk bekerja pada Agustus 2025 tercatat sebanyak 633.263 orang, meningkat 1.079 orang dibandingkan Agustus 2024. Peningkatan ini disertai pergeseran signifikan dalam komposisi jenis pekerjaan dan status formalitas tenaga kerja.
Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menyampaikan jumlah penduduk usia kerja (usia di atas 15 tahun) di Provinsi Gorontalo sebanyak 946.299 orang. Mengalami penambahan sebanyak 13.373 orang dibandingkan situasi yang sama pada 2024.
“Dari jumlah penduduk usia kerja, sebanyak 655.681 orang termasuk dalam angkatan kerja. Sedangkan yang bukan angkatan kerja sebanyak 290.618 orang,” ujar Dwi Alwi Astuti dalam keterangan resmi, Rabu (5/11/2025).
Angkatan kerja adalah bagian dari penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi, baik bekerja dan menganggur (sedang mencari kerja). Sementara bukan angkatan kerja merupakan bagian penduduk usia kerja yang tidak aktif secara ekonomi. Seperti pelajar/mahasiswa, ibu rumah tangga, atau penerima pensiun.
Meskipun jumlah penduduk bekerja meningkat, proporsi pekerja informal mengalami penurunan. Pekerja di sektor ini meliputi berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja keluarga/tak dibayar, pekerja bebas di pertanian, serta pekerja bebas nonpertanian.
“Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya jumlah pekerja berstatus berusaha sendiri, dan pekerja keluarga yang tidak dibayar,” ungkap Dwi Alwi Astuti.
Data BPS Provinsi Gorontalo menunjukkan pekerja berusaha sendiri menurun sebanyak 16.702 orang, sementara pekerja keluarga/tidak dibayar berkurang 11.188 orang. Sebaliknya, pekerja formal seperti buruh/karyawan/pegawai meningkat 5.485 orang. Demikian pula untuk pekerja yang dibantu buruh tidak tetap naik 12.406 orang.
Secara keseluruhan, proporsi pekerja formal meningkat dari 37,05 persen menjadi 38,86 persen, sedangkan pekerja informal turun dari 62,95 persen menjadi 61,14 persen.
Dari sisi lapangan usaha, sektor pertambangan, pengadaan listrik dan gas, serta pengadaan air mencatatkan penyerapan tenaga kerja tertinggi, dengan tambahan 11.550 orang. Sektor perdagangan besar dan eceran menyusul dengan penambahan 8.200 orang, sementara sektor industri pengolahan menyerap 5.000 orang tenaga kerja baru.
Menurut Dwi Alwi Astuti, dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian masih menjadi menempati urutan pertama dalam distribusi penduduk bekerja. Sektor yang meliputi pertanian, kehutanan, dan perikanan ini memberikan menyerap tenaga kerja sebesar 29,33 persen. Di tempat kedua adalah perdagangan besar-eceran, reparasi dan perawatan mobil-sepeda motor. Sektor ini memberikan serapan tenaga kerja sebesar
“Pergeseran ini menunjukkan bahwa sektor-sektor yang sebelumnya kurang dominan mulai menunjukkan kapasitas penyerapan tenaga kerja yang lebih besar, terutama sektor energi dan utilitas,” urai Dwi Alwi.
Walaupun begitu tantangan tetap ada. Dari sisi jam kerja, proporsi pekerja penuh (≥35 jam per minggu) menurun dari 70,62 persen menjadi 70,08 persen. Sementara itu, pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran menunjukkan tren fluktuatif, dengan setengah pengangguran tercatat sebesar 7,32 persen.(hasan/gopos)








