Tak banyak yang tahu, di pesisir selatan Gorontalo itu, seekor raksasa diam-diam mengubah nasib manusia. Dari yang dulunya dianggap sumber bencana, lahir harapan baru bernama konservasi. Dukungan PT Astra International, Tbk melalui Desa Sejahtera Astra (DSA) memperkuat gerakan bersama mewujudkan ekowisata hiu paus Botubarani.
Raksasa Menghidupkan Desa
Siang itu, langit Botubarani membentang biru tanpa cela, Kamis (23/10/2025). Sinar matahari memantul di permukaan Teluk Tomini, menciptakan kilau-kilau kecil di antara riak air yang tenang. Udara laut bertiup pelan, membawa aroma garam. Hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai, seekor hiu paus muncul perlahan, mengibaskan ekornya yang lebar seperti salam sunyi kepada mereka yang menunggu.
Namun di balik keelokan itu, tersimpan kisah perubahan nasib warga yang belajar menjaga lautnya demi bertahan hidup.
Satu dekade lalu, pemandangan serupa akan memicu dilema yang pahit. Kehadirannya menjadi penanda: ikan tongkol, lajang, dan oci (selar) sedang melimpah di perairan. Tapi di lain sisi, ketika ia berenang di area tangkapan dan ikut tersangkut, nelayan terpaksa menggunting jaring untuk membebaskannya. Biaya perbaikan mencapai jutaan Rupiah, melebihi pendapatan harian nelayan tradisional.
Meski demikian, masyarakat setempat tidak memburu raksasa laut itu—dagingnya tidak dikonsumsi, dan hiu paus dipandang dengan hormat. Di kalangan masyarakat Gorontalo satwa raksasa ini disebut dengan nama “Munggiango Hulalo” artinya hiu bulan.
Pada Maret 2016, sebuah video pendek memperlihatkan beberapa hiu paus berenang sangat dekat dengan bibir pantai Botubarani. Meski bertubuh sangat besar, hiu paus tidak memiliki struktur gigi tajam seperti hiu lain. Satwa ini juga tanpa risau berenang sangat dekat manusia.
Video itu menjadi viral di media sosial. Dalam sekejap, desa kecil di pesisir Bone Bolango itu diserbu ribuan wisatawan. Perahu nelayan berubah fungsi jadi kapal wisata. Laut yang tenang mendadak sesak.
Namun, kesibukan itu meninggalkan luka. Di atas laut, perahu saling berebut mendekat. Di bawah laut, hiu paus mulai terluka di bagian mulut dan sirip akibat bersenggolan lambung perahu. Sisa umpan kepala udang dan plastik mengotori perairan. Praktik berbahaya seperti menunggangi hewan dengan nama latin Rhincondon typus ini tak terelakkan.
Alam memberi peringatan senyap. Lonjakan ekonomi yang tidak diimbangi konservasi terukur hanya akan menjadi bumerang. Pertengahan Agustus-Oktober 2016, hiu paus di Botubarani menghilang tanpa jejak. Dalam sebulan, jumlah wisatawan anjlok hingga 80 persen, pendapatan warga turun drastis.
Denyut nadi Botubarani melemah. Desa yang tadinya riuh kunjungan, kembali posisi semula: sepi. Warga pun bertanya-tanya: apa yang membuat hiu paus betah? dan mengapa mereka menghilang? Dari pertanyaan itu gerakan konservasi Hiu Paus Botubarani mulai berjalan.

Asa Menjaga Bersama Astra
Di tengah hembusan angin sepoi-sepoi, Abdul Wahab Mateka mengarahkan pandangannya ke tengah laut. Senyum mengembang di bibirnya. Seakan baru saja melihat kawan lama yang baru datang.
“Mereka sedang bermain,” ucap Abdul Wahab Mateka ketika ditemui, Kamis (23/10/2025).
Saban hari, pria paruh baya itu duduk di Posko Pemantauan Hiu Paus Botubarani. Ia mengamati sekaligus mencatat keberadaan raksasa yang menghidupkan desa Botubarani itu. Wahab Mateka adalah Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Minat Khusus Botubarani. Kelompok ini dibentuk pada 2016—Ketika wisata hiu paus Botubarani mulai populer—dengan tujuan pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi hiu paus.
Wahab lalu membuka sebuah buku putih seukuran kertas A4. Sembari membetulkan kaca matanya, ia melihat angka yang terisi dalam kolom-kolom tabel.
“Ini sudah bulan kesepuluh mereka terus muncul,” kata Wahab. “Dari awal Januari 2025.”
Lelaki berkulit sawo matang dengan uban yang menutupi kepalanya ini bercerita, sejak mulai populer pada 2016 penampakan hiu paus tidak terlihat setiap saat. Ada waktu-waktu tertentu hiu paus tidak muncul di permukaan, kadang satu atau dua hari, kadang pula seminggu bahkan sebulan lebih. “Mereka tetap di sini, berenang di bawah,” ungkap Wahab.
Hasil pemantauan melalui penanda (tagging) satelit dan penerima akustik, juga menemukan hal serupa. Setelah muncul di permukaan, hiu paus akan berenang hingga kedalaman 400 meter. Penanda satelit dipasang pada tubuh hiu paus oleh Balai Pengelola Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar Kementerian Kelautan Perikanan bersama Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Gorontalo dan Konservasi Indonesia. Sampai dengan 2025 sudah ada lima individu hiu paus dipasang penanda satelit.
Di tengah perbincangan, Wahab mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke sebuah benda yang mengapung di tengah laut. Dari kejauhan terlihat sebuah rakit persegi di kelilingi beberapa tiang berwarna putih. “Itu rumpon dari Astra,” ucapnya.
Rumpon yang disebut Wahab adalah rumpon aggregator plankton. Rumpon ini menjadi bagian dari komitmen dan kontribusi PT Astra International Tbk melalui program sosial berkelanjutan, Desa Sejahtera Astra (DSA). Pada 2024, desa Botubarani masuk dalam program DSA yang berfokus pada empat pilar: kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan.
Rumpon aggregator plankton berukuran 4×6 meter, dilengkapi lampu listrik bertenaga surya, serta menggunakan penahan jangkar agar tidak hanyut. Benda menyerupai rakit ini dirancang khusus untuk menarik mangsa hiu paus berupa mikroorganisme, plankton dan ikan-ikan kecil seperti nike. Ikan nike (Awaous melanocephalus)—ukurannya lebih kecil dari teri—banyak terdapat di perairan Teluk Tomini, khususnya Botubarani.
Pada malam hari, lampu pada rumpon aggregator plankton akan menyala dan cahayanya menjadi penarik bagi plankton dan ikan-ikan kecil untuk berkumpul di sekitar rakit.
“Pada malam hari, hiu paus berenang di kedalaman. Nanti pagi atau siang hari naik untuk memakan plankton dan ikan-ikan kecil di sekitar rumpon,” urai Wahab.
Wahab mengungkapkan, pemasangan rumpon aggregator plankton berimplikasi terhadap keberadaan hiu paus. Sejak dipasang oleh Pokdarwis pada 2024, kemunculan raksasa jinak itu semakin sering terlihat di perairan Botubarani.
Penyampaian Wahab turut didukung laporan hasil pemantauan Enumerator BPSPL Makassar–Wilayah Kerja Gorontalo. Laporan menunjukkan dari 2023 hingga April 2025, rata-rata kemunculan Hiu Paus mencapai 28 kali per bulan, atau hampir setiap hari sepanjang tahun.
Frekuensi kemunculan hiu paus yang semakin sering di perairan Botubarani berkorelasi positif dengan kedatangan wisatawan. Meski secara kuantitatif belum menyamai di masa awal 2016, angka pengunjung yang datang sekarang jauh lebih stabil.
“Sekarang ini untuk hari-hari biasa, pengunjung yang datang bisa sampai 100 orang per hari. Sementara bila weekend atau hari libur, bisa sampai 300 orang per hari,” tutur Wahab.
Dampak lainnya, warga Botubarani tidak perlu lagi menabur limbah kulit dan kepala udang di perairan. Melalui rumpon aggregator plankton, makanan hiu paus kini tersedia secara alami. “Perairan juga menjadi lebih bersih,” kata Wahab.
Selain rumpon aggregator plankton, program DSA ikut membantu penataan armada perahu wisata. Perahu nelayan pengangkut wisatawan, diberi atap layar untuk menunjang kenyamanan para wisatawan. Bersamaan dengan itu badan perahu ikut dilakukan pengecatan untuk menjaga keawetan.
Seiring perbaikan ekosistem laut, perubahan juga terjadi di daratan. Melalui program DSA warga Botubarani mendapat pelatihan kewirausahaan. Mereka diajarkan cara mengelola wisata secara berkelanjutan tanpa merusak habitat hiu paus.
Kini, mereka merintis beragam usaha kecil, mulai dari penyewaan alat snorkeling, warung makan, hingga penjualan cenderamata bermotif hiu paus. Cinderamata gantungan kunci hiu paus harga Rp25ribu per buah, sementara kaos senilai Rp100 ribu buah. Menariknya, bahan baku untuk gantungan kunci berasal dari sampah plastik dan batang kayu yang dikumpulkan dari pesisir Pantai Botubarani. Sampah yang diolah menjadi barang bernilai ekonomi.
“Sekarang ini pendapatan lebih stabil. Dalam sehari setidaknya ada dua atau tiga cinderamata yang laku,” ungkap Salim Latif penuh syukur. “Kalau waktu nelayan tidak menentu, kadang ada kadang pula nihil.” Sebelum menjual berbagai cenderamata, Salim, berprofesi nelayan. Saat wisata hius paus naik daun, pria yang juga Panitia Pangkalan IV Hiu Paus Botubarani alih profesi.
Kepala Dusun III Botubarani, Olwan Ali, mengaku sentuhan DSA dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Bantuan yang diberikan tidak hanya dirasakan sesaat tetapi memberikan dampak yang berkelanjutan.
“Ini yang senantiasa kita harapkan. Bantuan yang diberikan mampu memberikan manfaat jangka panjang dan mengubah kehidupan masyarakat, terutama dalam hal kesejahteraan,” tuturnya.
Ia turut mengapresiasi langkah Astra yang melibatkan peran serta masyarakat dalam penyaluran bantuan untuk konservasi ekowisata hiu paus.
“Pemasangan atap hingga perakitan dan penempatan rumpon itu dilakukan oleh masyarakat, sehingga ada tambahan manfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sedikit mendongakkan kepala dan menerawang ke laut, Wahab Mateka berbicara lirih, “Saya ingin Botubarani seperti Bali,” katanya pelan. Tapi ia cepat menambahkan—bukan sekadar ramainya wisatawan, melainkan tentang bagaimana tempat ini bisa hidup sepanjang waktu: hari ini, esok, dan selamanya. Ia tahu, keberlanjutan bukan hanya soal jumlah pengunjung, tapi tentang bagaimana laut dan manusia bisa saling menjaga.

Pengakuan dari Laut hingga Dunia
Upaya kolektif dalam menjaga laut lestari, mengangkat nama Botubarani ke panggung nasional hingga internasional. Dukungan berbagai lembaga—termasuk Astra melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA)—membawa ekowisata berbasis konservasi ini ke jenjang lebih tinggi.
Rentetan penghargaan pun mengalir. Pada 2003, Botubarani meraih piagam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai desa wisata dengan habitat hiu paus terbanyak dan terdekat dari daratan. Desa ini juga menyabet juara tiga kategori daya tarik pengunjung pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.
Puncaknya pada 2025: Wisata Hiu Paus Botubarani meraih ASEAN Community-Based Tourism Award di Malaysia. Penghargaan ini menegaskan Botubarani telah menjadi model pariwisata berbasis komunitas yang harmonis dengan konservasi.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Ariyanto Husain, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak termasuk Astra dalam upaya konservasi hiu paus di Botubarani. Ia berharap dukungan ini dapat mendorong kemajuan objek wisata hiu paus Botubarani sebagai destinasi pariwisata utama yang berkelanjutan di Gorontalo.
Laut Botubarani tidak hanya tempat hiu paus mencari makan, tapi juga tempat manusia belajar arti keseimbangan. Bahwa kesejahteraan sejati lahir dari hubungan yang saling menjaga — antara manusia, laut, dan raksasa yang berenang di antaranya.
Raksasa itu mengajarkan satu hal sederhana. Kalau laut dijaga dengan hati, ia akan menjaga kita kembali.
Program DSA
Program Desa Sejahtera Astra (DSA) adalah inisiatif binaan sosial di bawah pilar kontribusi sosial PT Astra International Tbk. Diluncurkan pada 2018, fokus utamanya adalah pemberdayaan kewirausahaan berbasis potensi dan produk unggulan desa, melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, hingga Kelompok Usaha Desa (KUD).
Sebagai program berkelanjutan, DSA telah menunjukkan berbagai dampak nyata. Hingga 2024, Astra membina 84 DSA baru (termasuk Desa Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo), sehingga totalnya mencapai 1.515 desa.
Dengan cakupan lebih dari 1.500 desa hingga 2024, program ini telah menciptakan banyak lapangan kerja baru, memperkuat ketahanan pangan dan sosial masyarakat desa, serta meningkatkan literasi keuangan.
Ini bukan sekadar program CSR biasa, melainkan bentuk nyata Astra dalam mendukung pembangunan daerah pedesaan secara inklusif dan berkelanjutan.(hasan/gopos)








