GOPOS.ID, GORONTALO – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo optimistis perekonomian nasional dan Gorontalo pada semester II 2025 semakin membaik. BI akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Bambang Setya Permana, mengungkapkan ekonomi nasional pada triwulan II 2025 (semester I 2025) secara tahunan (yoy) tumbuh 5,12 persen. Sejalan dengan perekonomian nasional, kinerja pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan II 2025 tumbuh 5,14% (yoy).
Secara rinci, Bambang Setya Permana, menjelaskan pertumbuhan ekonomi nasional ditopang investasi sejalan dengan penanaman modal yang tumbuh positif dan konsumsi rumah tangga. Ekspor barang dan jasa juga meningkat dipengaruhi oleh front-loading ekspor ke AS sebagai antisipasi pengenaan tarif serta kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara.
“Secara sektoral, seluruh Lapangan Usaha (LU) juga membaik, termasuk LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan, serta LU Informasi dan Komunikasi. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi seluruh wilayah meningkat. wilayah Jawa mencatat pertumbuhan tertinggi,” urai Bambang press conference kinerja makro fiskal Gorontalo yang digelar di kantor Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Gorontalo, Rabu (24/9/2025).
Sementara untuk Gorontalo, lanjut Bambang Setya Permana, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 ditopang oleh pertumbuhan tiga sektor utama, yaitu lapangan usaha pertanian, lapangan usaha perdagangan dan lapangan usaha konstruksi. Adapun pada sisi penggunaan (pengeluaran), pertumbuhan ekonomi Gorontalo disumbang oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor, utamanya ekspor pelet kayu dan olahan kelapa.
Pertumbuhan ekonomi Gorontalo juga didorong oleh kinerja kredit/pembiayaan perbankan Gorontalo. Pertumbunan kredit di Gorontalo triwulan II 2025 sebesar 14,81% (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit nasional sebesar 7,56% (yoy).
“Kinerja positif perbankan didorong oleh pertumbuhan kredit pada sektor perdagangan, industri pengolahan dan pertanian. Peran intermediasi perbankan khususnya kepada UMKM dan sektor-sektor prioritas akan terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi di Provinsi Gorontalo,” tutur Bambang.
Pada sisi inflasi, Bambang menyebutkan, secara tahunan, pada Agustus 2025 realisasi inflasi Provinsi Gorontalo mencapai 2,51% (yoy). Inflasi tersebut relatif rendah dan berada pada rentang sasaran inflasi nasional (2,5 ± 1% yoy).
“Namun demikian, ke depan harga komoditas beras yang masih terpantau tinggi perlu menjadi perhatian bagi TPID Provinsi Gorontalo,” ujar Bambang menekankan.
Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta mitra strategis lainnya terus mendorong digitalisasi pembayaran non tunai di Gorontalo untuk menopang transaksi keuangan yang lebih efisien. Hingga periode Agustus 2025, volume dan nominal transaksi QRIS di Gorontalo menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan masing-masing sebesar 147,73% dan 83,37% (yoy). Hal tersebut didorong dengan berbagai inovasi diantaranya peluncuran fitur QRIS Tap dan peresmian Kawasan non-tunai di Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Gorontalo.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 September 2025 memutuskan untuk menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Keputusan ini sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5±1% dan stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah. Dengan penguatan sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah tersebut, pertumbuhan ekonomi semester II 2025 diprakirakan semakin membaik.(*/hasan/gopos)








