Oleh: Hasanudin Djadin
“Kita rampok saja uang negara ini kan. Kita habiskan aja biar negara ini makin miskin,”.
Bila kalimat ini diucapkan anak-anak yang belum beranjak baligh, boleh jadi kita menerimanya sebagai kalimat candaan. Tapi bagaimana bila kalimat ini diucapkan oleh seorang pejabat publik yang menyandang gelar “Terhormat”. Pertanyaan itu sedang terjadi sekarang.
Adalah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo, Wahyu Moridu, orang yang mengucapkan kalimat tersebut. Kalimat yang diucapkan dalam sebuah rekaman pendek berdurasi 35 detik. Video direkam seorang perempuan yang bersama Wahyu Moridu dalam mobil, yang kedua-keduanya tampak menunjukkan ekspresi tertawa bahagia.
“Kita sedang menuju Makassar menggunakan uang negara. Kita rampok saja uang negara ini kan. Kita habiskan aja, biar negara ini makin miskin. Membawa hugel langsung ke Makassar menggunakan uang negara…,”.
Ada sebuah ungkapan atau adagium yang terkenal, “Index Animi Sermo”. Ungkapan dari Bahasa Latin ini menunjukkan apa yang seseorang katakan adalah mencerminkan isi hati, niat dan pola pikirnya.
Dalam konteks hukum, Index animi sermo, digunakan untuk menilai pola pikir dan maksud di balik suatu pernyataan. Adagium ini dapat digunakan sebagai alat bukti untuk menunjukkan niat, maksud dan keadaan jiwa dari seseorang. Meski begitu, adagium ini dinilai bersama dengan alat bukti lainnya yang saling melengkapi.
Dalam dunia komunikasi, adagium ini menjadi pengingat perkataan atau ucapan adalah ekspresi spiritual dan sosial. Ia menghubungkan pikiran dengan tindakan, dan membentuk persepsi publik terhadap identitas diri. Kata-kata yang kita pilih, nada yang digunakan, dan konteks yang dibangun adalah bagian dari narasi diri yang kita ciptakan setiap hari.
Kata-kata bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga jendela ke dalam jiwa. Ucapan adalah manifestasi dari pikiran dan niat. Ia adalah bentuk dari maksud, cerminan dari nilai, dan tindakan dari integritas
Index animi sermo juga mengandung tanggung jawab. Jika ucapan mencerminkan jiwa, maka berbicara dengan sembarangan berarti mengabaikan kedalaman diri. Maka, berbicaralah dengan kesadaran. Biarkan kata-kata menjadi cerminan dari nilai-nilai yang ingin kita wariskan.
Dalam setiap kata yang terucap, tersimpan jejak dari pikiran terdalam… (*)
Penulis adalah pemimpin redaksi/penanggung jawab media gopos.id








