GOPOS.ID, BANDUNG – Siang itu, suasana di sekitar Taman Sari mendadak mencekam. Gas air mata menyesaki udara, mahasiswa berhamburan mencari perlindungan. Tak hanya di jalan, bahkan area kampus Universitas Islam Bandung (Unisba) yang seharusnya menjadi ruang aman pun tak luput dari serbuan aparat.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan jelas bagaimana gas air mata ditembakkan ke dalam kampus, disusul aparat yang masuk dan memukul mundur mahasiswa. Pemandangan itu memantik amarah banyak pihak, termasuk Hamzah Sidik, Alumni sekaligus Mantan Presiden Mahasiswa Unisba.
Bagi Hamzah, kampus bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang bebas, tempat mahasiswa menyalakan obor demokrasi. Ketika aparat masuk tanpa ampun, baginya itu bukan hanya pelanggaran, melainkan penghinaan terhadap dunia akademik.
“Ini tindakan biadab. Video dan saksi mata jelas. Aparat masuk ke kampus, menembak gas air mata, menyerang mahasiswa. Tidak ada kata lain: brutal!” ujarnya dengan nada tinggi.
Namun, yang membuat Hamzah lebih kecewa bukan semata tindakan aparat. Rektor Unisba, sosok yang seharusnya berdiri di sisi mahasiswa, justru memilih mengikuti narasi polisi tentang adanya kelompok “anarko” yang dituding sebagai pemicu kericuhan.
“Rektor seolah buta dan tuli. Ia lebih percaya narasi aparat ketimbang jeritan mahasiswanya sendiri. Itu pengkhianatan moral,” kata Hamzah, penuh kegeraman.
Bagi Hamzah, ucapan rektor bukan hanya menyesatkan, tapi juga melukai spirit gerakan mahasiswa yang selalu berpijak pada nurani. Ia menegaskan, rektor harus segera meminta maaf dan mengambil langkah konkret membela mahasiswa yang kini masih ditahan di Polda Jawa Barat.
“Kalau rektor masih punya hati, buktikan dengan aksi. Jangan hanya duduk manis di kursi jabatan. Sejarah akan mencatat, ia berpihak pada represi, bukan pada kebenaran,” tutup Hamzah.
Di tengah asap gas air mata dan luka mahasiswa, suara alumni seperti Hamzah adalah pengingat bahwa kampus tidak boleh tunduk pada represi. Kampus adalah benteng terakhir kebebasan akademik, yang seharusnya dijaga, bukan dikhianati. (Isno/gopos)








