GOPOS.ID, KOTAMOBAGU – Pihak RSUD Kotamobagu akhirnya menjelaskan kronologi meninggalnya seorang pasien usai menjalani operasi caesar. Pasien tersebut diketahui berusia 37 tahun, memiliki riwayat hipertensi, serta sudah tiga kali melahirkan sebelumnya sehingga masuk kategori kehamilan risiko tinggi (high risk pregnancy).
Dokter spesialis kandungan yang menangani pasien menegaskan sejak awal pihak keluarga sudah diberi penjelasan terkait risiko persalinan, baik secara normal maupun caesar.
“Saya sampaikan ke pasien jika usianya sudah 37 tahun, ada hipertensi, dan sudah punya tiga anak. Jadi memang berisiko tinggi. Kalau operasi caesar ada risiko pendarahan, kalau normal pun berisiko. Itu semua sudah dijelaskan dan pihak keluarga bilang akan dirundingkan dulu,” ujarnya.
Pasien kemudian masuk ke RSUD Kotamobagu pada Minggu siang (sehari sebelum operasi) tanpa membawa surat pengantar dokter, hanya hasil USG. “Dia masuk langsung dipersiapkan operasi dengan peralatan lengkap. Darah harusnya dua kantong, tapi keluarga setuju hanya satu kantong karena ada pendonor dari suami,” jelas dokter tersebut.
Operasi berlangsung dengan kondisi pasien stabil. Bayi lahir sehat berjenis kelamin perempuan, bahkan pasien sempat bertanya langsung tentang anaknya. Namun, saat tahap akhir operasi, ketika dokter sedang menjahit kulit luar sekaligus melakukan prosedur sterilisasi sesuai permintaan pasien, terjadi henti jantung mendadak.
“Saya tetap selesaikan prosedur operasi, tidak ada pendarahan sama sekali. Pasien masuk tanpa pengantar, jadi tidak ada pemaksaan untuk operasi,” tegasnya.
Pihak RSUD Kotamobagu menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga pasien. Mereka juga berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh isu miring di media sosial, karena seluruh prosedur medis telah dijalankan sesuai standar dan kondisi pasien memang termasuk kategori risiko tinggi. (End/Gopos)








