GOPOS.ID, GORONTALO – Penderita Human Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiensy Syndrome (HIV/AIDS) di Provinsi Gorontalo terus bertambah. Seiring hal itu, masyarakat Gorontalo diminta tak melakukan Judgement pengidap HIV/AIDS sebagai orang yang melakukan kesalahan.
Psikolog Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Dr.Sukma Nurilawati Botutihe,M.Psi mengatakan, tidak selamanya pengidap HIV/AIDS merupakan orang yang melakukan kesalahan. Sebab, penularan dan penyebaran virus mematikan tersebut bisa terjadi karena faktor ketidaksengajaan.
“Mari kita samakan persepsi. Kita jangan melakukan judgement pengidap HIV/AIDS adalah orang yang membuat kesalahan. Karena bisa jadi pengidap HIV/AIDS terjadi karena unsur ketidaksengajaan,” ujar Sukma kepada awak media, Senin (22/07/2019).

Dicontohkan Sukma sebagaimana terjadi pada seorang pasien HIV/AIDS, yang sebelumnya berprofesi sebagai tenaga medis. Pasien ini mengidap penyakit HIV/AIDS secara tidak sengaja ketika menolong korban pendarahan kecelakaan. Ternyata korban kecelakaan itu mengidap HIV/AIDS.
“Tanpa ia sadari luka gores yang ada padanya terkontaminasi dengan darah korban yang mengidap HIV/AIDS. Sehingga ia pun tertular HIV/AIDS,” beber Sukma.
Baca juga: Bayar Pajak di Kab. Gorontalo, Manfaatkan ‘Ti Padaa’
Sukma mengakui, faktor terjadi penyebaran virus HIV/AIDS didominasi LGBT dan penggunaan obat terlarang. Selain itu penyebaran HIV/AIDS juga bisa terjadi akibat transfusi darah.
“Dari segi psikolog ini memang mengkhawatirkan, karena kalau bicara HIV/AIDS itu muaranya dari perilaku. Apapun penyebabnya ini akibat dari ketidak hati-hatian. Hal ini juga terjadi di kalangan pelajar ketidak hati-hatian mereka dalam memilih pergaulan dan bisa jadi juga dari salah asuh orang tua,” tuturnya.
Pengidap virus HIV/AIDS di wilayah Kota Gorontalo semakin meningkat. Hal ini diungkapkan oleh Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Gorontalo, berdasarkan data yang mereka kumpulkan sampai dengan Maret 2019.
Baca juga: Pendapatan Kota Gorontalo Naik Rp10 Miliar
Sebelumnya, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Gorontalo dr.Yana Yanti Suleman menjelaskan, sampai dengan Maret 2019 jumlah penderita HIV/AIDS di Gorontalo mencapai 494 orang. Ironinya, pengidap penyakit ini, sangat mudah tersebar di kalangan pelajar, pekerja, bahkan ibu rumah tangga.
“Dari data yang kami kumpulkan sampai dengan Maret 2019 ini menunjukan; wiraswasta mencapai 67 orang, ibu rumah tangga (IRT) 21 orang, mahasiswa 19 orang, dan pegawai negeri sipil (PNS) mencapai 19 orang” ujar Yana Yanti Suleman saat memberi materi pada Temu Pemuda di Kota Gorontalo baru-baru ini.
Kurangnya pengetahuan tentang seks di kalangan remaja menjadi pemicu utama penularan HIV/AIDS di kalangan remaja.
“Berbeda dengan para wanita pekerja seks (WPS), mereka sering berkonsultasi kepada kami tentang pekerjaan mereka, sehingga kami sering mengimbau mereka untuk selalu menggunakan pelindung saat melakukan pekerjaanya. Hal ini yang menjadi penyebab jumlah WPS yang mengidap HIV/AIDS menurun,” tutur Yana Sulaeman.
KPA berharap para pemuda dapat ambil bagian dalam memberikan edukasi kepada masyarakat yang belum mengetahui HIV/AIDS. Sehingga jumlah pengidap HIV/AIDS di Kota Gorontalo bisa kembali menurun.(muhajir/aldi/gopos)