GOPOS.ID, GORONTALO – Ratusan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Tahun 2026 diminta tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga menjadi mitra masyarakat dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan kesehatan, khususnya upaya percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA).
Selama kurang lebih satu setengah bulan, mulai 13 Juli hingga 26 Agustus 2026, para mahasiswa akan melaksanakan pengabdian di 28 desa yang tersebar di enam kecamatan di Kabupaten Gorontalo. Mereka akan mengimplementasikan program bertema Optimalisasi Deteksi Dini dan Pendampingan Kehamilan Risiko Tinggi sebagai Upaya Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA).
Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si., mengatakan KKN Profesi Kesehatan merupakan sarana bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan sekaligus menghadirkan solusi atas persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat.
“KKN Profesi Kesehatan bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi menjadi kesempatan emas bagi mahasiswa untuk berkontribusi di tengah masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu yang dimiliki guna meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” ujar Hafidz.
Ia menjelaskan, mahasiswa juga diharapkan mampu memperkuat kolaborasi dengan tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga masyarakat dalam menjalankan berbagai program kesehatan yang berdampak langsung di lapangan.
Menurut Hafidz, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari terlaksananya program kerja, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat, memahami kebutuhan warga, serta menghadirkan solusi yang relevan terhadap berbagai persoalan kesehatan.
“Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, mahasiswa diharapkan mampu memahami kondisi riil pelayanan kesehatan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan kerja sama lintas profesi,” katanya.
Ia juga mendorong seluruh peserta KKN untuk menjadikan masa pengabdian sebagai ruang belajar yang bernilai. Mahasiswa diharapkan hadir bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang mampu memberikan edukasi, pendampingan, dan inovasi dalam meningkatkan kualitas kesehatan, terutama pada aspek kesehatan ibu dan anak.
Menurutnya, KKN Profesi Kesehatan menjadi bagian penting dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, empati, serta kompetensi profesional yang dibutuhkan di dunia kesehatan.
“Harapannya, mahasiswa mampu menjalankan pengabdian secara profesional dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan kesehatan di daerah,” tutup Hafidz. (Rama/Gopos)







