GOPOS.ID, GORONTALO – Ribuan pelaku agribisnis, petani, nelayan, koperasi, akademisi, penyedia teknologi, hingga investor dari berbagai daerah memadati pembukaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kawasan GOR David Tony, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (20/6). Ajang akbar tiga tahunan Kelompok Tani Nelayan (KTNA) yang diselenggarakan oleh KTNA dan PT Fery Agung Corindo (FERACO) ini tidak hanya menjadi wadah silaturahmi petani dan nelayan, tetapi juga berkembang menjadi platform strategis yang mempertemukan pelaku usaha, investor, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, serta pemangku kepentingan sektor pangan nasional.
Area pameran seluas 30.000 meter persegi diikuti lebih dari 300 perusahaan, BUMN, koperasi, perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku industri pendukung, yang menampilkan beragam inovasi mulai dari alat mesin pertanian modern, teknologi irigasi dan budidaya presisi, bioenergi, pengolahan hasil pertanian dan perikanan, hingga solusi digital untuk meningkatkan produktivitas pangan nasional.

Sebagai penyelenggara, KTNA dan FERACO merancang kawasan pameran tidak hanya sebagai ruang promosi produk, tetapi juga sebagai pusat interaksi bisnis, transfer teknologi, dan penjajakan investasi yang mempertemukan seluruh rantai nilai sektor pertanian dan perikanan dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia pada pembukaan PENAS XVII 2026 semakin menegaskan pentingnya sektor pangan sebagai salah satu fondasi utama pertumbuhan ekonomi dan ketahanan nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka menyampaikan pentingnya kemandirian pangan sebagai salah satu program prioritas pemerintah yang harus diperkuat. Dalam situasi global yang penuh tantangan, termasuk kondisi geopolitik yang tidak menentu, perang dagang, dan dinamika ekonomi internasional, Indonesia dituntut untuk lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional.
“Kemandirian pangan adalah salah satu program prioritas Bapak Presiden. Di tengah konflik geopolitik, perang dagang, dan perang tarif, negara tidak boleh terlalu bergantung pada negara lain.”,” ujarnya.
Gibran menjelaskan bahwa pemerintah telah mengambil berbagai langkah strategis untuk memperkuat sektor pertanian dan perikanan. Langkah-langkah ini mencakup pengendalian alih fungsi lahan pertanian, yang bertujuan untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan.
Selain itu, pemerintah juga berupaya mempermudah akses terhadap benih unggul dan permodalan bagi petani, agar mereka dapat meningkatkan hasil pertanian mereka.
PENAS XVII 2026 digelar di tengah sejumlah tantangan strategis sektor pangan nasional. Mulai dari tekanan perubahan iklim yang mengganggu pola tanam dan produksi, alih fungsi lahan produktif, ketergantungan pada impor beberapa komoditas pangan, hingga kebutuhan percepatan adopsi teknologi di tingkat petani dan nelayan. Selain itu, tingkat susut hasil panen (post-harvest loss) yang masih mencapai 20 persen secara nasional serta terbatasnya akses petani terhadap permodalan dan alat mesin pertanian modern menjadi pekerjaan rumah bersama. Dalam konteks itulah, PENAS XVII 2026 hadir sebagai bagian dari solusi — menghubungkan langsung inovasi teknologi, pembiayaan, dan kebijakan dengan pelaku utama di lapangan.
Tanpa kolaborasi yang erat antara pemangku kepentingan, berbagai tantangan tersebut akan sulit diatasi. PENAS XVII 2026 menjawab kebutuhan itu dengan menghadirkan ekosistem terpadu yang tidak hanya menampilkan solusi teknologi, tetapi juga memfasilitasi terjadinya investasi, transfer pengetahuan, dan kemitraan bisnis yang berkelanjutan antara sektor hulu hingga hilir.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, dalam sambutannya mengapresiasi kontribusi berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan PENAS XVII 2026, termasuk KTNA dan FERACO yang menghadirkan ruang kolaborasi antara sektor usaha, inovator teknologi, dan pelaku pangan nasional. Kini PENAS telah menjadi agenda nasional dan sukses digelar di Palembang Kaltim, Malang, Aceh, Padang dan Gorontalo.
Dalam hal ini pemerintah terus mendorong penerapan teknologi pertanian melalui peningkatan kualitas bibit, sistem irigasi, mekanisasi, serta pola tanam yang lebih modern. Upaya tersebut diwujudkan melalui model Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang akan diperkenalkan kepada peserta PENAS XVII.
“Ini adalah penemuan baru, ini adalah metode baru yang kami combine antara metode baru dari Indonesia dan kami temukan dari China kemudian di Amerika, ini kami coba memadukan,” ucapnya.
Ia menegaskan pemerintah saat ini menjalankan strategi intensifikasi dan ekstensifikasi secara bersamaan guna mempercepat terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan.
Melalui penerapan teknologi tersebut, produktivitas padi mampu mencapai lebih dari 10 ton per hektar, jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada kisaran 5,5 ton per hektare.
Sementara stok beras nasional tercatat menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah, sehingga Perum Bulog harus menambah kapasitas penyimpanan melalui penyewaan gudang baru.Kondisi tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan petani.
Harga gabah yang sebelumnya berkisar Rp5.000 per kilogram kini naik menjadi minimal Rp6.500 per kilogram, sementara Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Pemerintah juga berhasil menurunkan harga pupuk subsidi sekitar 20 persen di tengah tren kenaikan harga pupuk dunia.
Melalui pengalaman panjang dalam penyelenggaraan pameran sektor industri dan perdagangan sejak 1996, FERACO memandang PENAS XVII 2026 sebagai momentum strategis untuk mempercepat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung agenda swasembada pangan nasional.
Momentum Strategis Menuju Lumbung Pangan Dunia
Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), HM Yadi Sofyan mengatakan bahwa PENAS XVII 2026 hadir pada momentum yang tepat ketika Indonesia tengah mempercepat agenda swasembada pangan dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat produksi pangan dunia.
Menurutnya, kemajuan sektor pangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin terlihat melalui peningkatan mekanisasi pertanian, pemanfaatan teknologi digital, pengembangan varietas unggul, hilirisasi produk pangan, hingga tumbuhnya startup agritech yang mendukung efisiensi produksi dan distribusi.
“Untuk menjadi lumbung pangan dunia, yang dibutuhkan bukan hanya peningkatan produksi, tetapi juga kolaborasi yang kuat antara teknologi, investasi, industri, dan pelaku usaha di lapangan. Kami berharap PENAS XVII tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga melahirkan transaksi bisnis yang nyata dan tercipta banyak kerja sama baru yang berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan daya saing sektor pangan nasional,” ujar HM Yadi Sofyan.
Kemajuan sektor pangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin terlihat melalui peningkatan mekanisasi pertanian, pemanfaatan teknologi digital, pengembangan varietas unggul, hilirisasi produk pangan, hingga tumbuhnya startup agritech yang mendukung efisiensi produksi dan distribusi.
“Untuk menjadi lumbung pangan dunia, yang dibutuhkan bukan hanya peningkatan produksi, tetapi juga kolaborasi yang kuat antara teknologi, investasi, industri, dan pelaku usaha di lapangan. PENAS XVII menjadi salah satu wadah penting untuk mempercepat proses tersebut,” tambahnya.
Project Manager FERACO, Ferry, mengatakan bahwa PENAS XVII 2026 hadir pada momentum yang tepat ketika Indonesia tengah mempercepat agenda swasembada pangan dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat produksi pangan dunia.
“Kami melihat antusiasme yang sangat tinggi sejak hari pertama, dan ini menunjukkan bahwa sektor agribisnis Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar,” ujar Ferry
KTNA dan FERACO menargetkan pameran ini dikunjungi lebih dari 30.000 pengunjung. PENAS tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga menghasilkan berbagai peluang transaksi dan kerja sama strategis yang dapat memperkuat rantai pasok pangan nasional.
Sejumlah program bisnis digelar selama pameran, diantaranya business matching, temu usaha, konsultasi teknologi, serta penjajakan kerja sama investasi yang melibatkan pelaku industri, koperasi, lembaga pembiayaan, dan pemerintah daerah dari berbagai wilayah Indonesia.
Tiga Sektor Paling Diburu Investor
Berdasarkan data pendaftaran peserta dan ekshibitor, FERACO mencatat tiga sektor yang diprediksi paling banyak diminati investor dan pelaku industri selama penyelenggaraan pameran:
Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) – Traktor, pompa air, drone pertanian, dan sistem irigasi cerdas menjadi kebutuhan utama kelompok tani.
Teknologi Pascapanen – Inovasi yang mampu menekan susut hasil panen dari rata-rata nasional 20 persen menjadi di bawah 5 persen sangat diburu oleh koperasi dan pengusaha agribisnis.
Pembiayaan dan Asuransi Pertanian – Perbankan, fintech, dan perusahaan asuransi hadir untuk memberikan akses modal dan perlindungan risiko bagi petani dan nelayan.
“Kami percaya sebuah pameran yang sukses bukan hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi dari seberapa besar kolaborasi, transaksi, dan peluang usaha baru yang tercipta bagi para pelaku industri,” tutup Ferry. (Putra/Gopos)







