GOPOS.ID, GORONTALO UTARA – Sebuah pampboat asal Filipina diduga melakukan aktivitas bongkar muatan ilegal di wilayah perairan Gorontalo Utara. Aksi tersebut terendus tim gabungan TNI AL, Polri, Bea Cukai, dan Satgas Tombak Pusintelal yang kemudian melakukan pengejaran hingga ke wilayah perbatasan Sulawesi Tengah dan Gorontalo.
Dalam operasi yang berlangsung pada Jumat (25/9) dini hari tersebut, petugas mengamankan empat warga negara Filipina yang merupakan anak buah kapal (ABK). Mereka masing-masing berinisial M (47), DY (43), A (27), dan VN (19).
Sementara dua ABK lainnya, berinisial SS (45) dan GS (19), dilaporkan menceburkan diri ke laut ketika dilakukan pengejaran. Keduanya hingga kini masih dalam pencarian.
Komandan Lanal Gorontalo Letkol Marinir Andi Arif Mangkubumi menjelaskan, pengungkapan bermula dari informasi intelijen mengenai rencana masuknya bahan kimia berbahaya asal Filipina melalui jalur laut Gorontalo.
Menindaklanjuti informasi tersebut, tim gabungan membagi kekuatan menjadi lima tim untuk melakukan penyekatan dari sektor darat maupun laut.
Operasi dimulai sekitar pukul 01.00 WITA. Tim laut yang menggunakan perahu karet Posal Kwandang kemudian mendeteksi sebuah pampboat asal Filipina yang diduga melakukan bongkar muatan di muara Pulau Lango, Kecamatan Tolinggula.
Muatan dari kapal tersebut selanjutnya dipindahkan ke sebuah truk. Setelah proses pemindahan, truk tersebut bergerak meninggalkan lokasi.
Tim darat kemudian melakukan pengejaran. Sekitar pukul 03.55 WITA, kendaraan tersebut berhasil dihentikan di sekitar gudang padi di wilayah Tolinggula.
Dari dalam truk, petugas menemukan 80 karung bahan kimia yang diduga sianida (CN). Masing-masing karung memiliki berat sekitar 50 kilogram dengan total berat keseluruhan mencapai 4.185,35 kilogram atau sekitar 4,1 ton.
Dua WNI yang berada di dalam truk turut diamankan. Keduanya yakni sopir berinisial AKL (22) dan kernet AA (30).
Sementara itu, tim laut terus memburu pampboat yang diduga menjadi sarana pengangkutan bahan kimia tersebut.
Pengejaran dilakukan menggunakan Kapal Patroli Bea Cukai 30006. Sekitar pukul 04.30 WITA, pampboat akhirnya berhasil dicegat di perairan Umu Paleleh-Molangato, di wilayah perbatasan Sulawesi Tengah dan Gorontalo.
Dari enam ABK, empat warga negara Filipina berhasil diamankan. Namun dua lainnya memilih menceburkan diri ke laut saat petugas melakukan pengejaran.
Pampboat dengan ciri lambung berwarna biru dan anjungan putih-oranye tersebut kemudian ditarik menuju Pelabuhan Kwandang untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sementara truk yang membawa muatan diduga sianida dikawal menuju Pos Polairud Gorontalo Utara.
Sekitar pukul 08.00 WITA, seluruh barang bukti dan para terduga yang diamankan dibawa ke Markas Lanal Gorontalo untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Selain mengamankan bahan kimia dengan total berat lebih dari empat ton, petugas turut menyita satu unit truk dan satu unit pampboat.
Nilai ekonomis bahan kimia yang diamankan dalam operasi tersebut diperkirakan mencapai Rp3,09 miliar.
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Gorontalo, Letkol Marinir Andi Arif Mangkubumi, mengatakan pengungkapan kasus tersebut berawal dari informasi intelijen mengenai adanya rencana penyelundupan bahan kimia berbahaya melalui wilayah perairan Gorontalo.
Operasi tersebut merupakan hasil sinergi berbagai unsur dalam mengantisipasi penyelundupan melalui jalur laut.
“Menindaklanjuti informasi terpercaya itu, tim gabungan langsung bergerak dan membagi kekuatan menjadi lima tim untuk melaksanakan penyekatan ketat, baik dari sektor darat maupun laut,” kata Andi di Gorontalo, Rabu.
Menurutnya, kerja sama antarlembaga menjadi penting untuk menjaga keamanan wilayah perairan sekaligus mencegah masuknya bahan kimia berbahaya yang berpotensi membahayakan lingkungan dan masyarakat. (ANTARA)








