GOPOS.ID, GORONTALO – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat inflasi sebesar 2,11 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2026. Kenaikan ini menunjukkan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat mengalami peningkatan dibandingkan Juni 2026.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, mengatakan inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencapai 5,29 persen.
“Inflasi positif menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa di bulan Juli dibandingkan dengan bulan Juni 2026,” kata Agus Sudibyo saat merilis Berita Resmi Statistik Provinsi Gorontalo Juli 2026, Rabu (1/7).
Selain kelompok makanan, inflasi juga terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 1,51 persen dan kelompok rekreasi, olahraga, serta budaya sebesar 1,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Agus menjelaskan, seluruh kelompok pengeluaran memberikan andil terhadap inflasi. Kontributor terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,94 persen. Selanjutnya, kelompok transportasi memberikan andil sebesar 0,09 persen, sedangkan penyediaan makanan dan minuman atau restoran menyumbang 0,04 persen.
Meski demikian, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan harga dibandingkan Juni 2026. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi 0,03 persen, sementara kelompok pakaian dan alas kaki serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga masing-masing turun 0,01 persen.
“Ada juga kelompok-kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan harga pada Juli dibandingkan Juni 2026, yakni komoditas yang tergabung dalam kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,03), pakaian dan alas kaki (0,01), serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,01),” ujarnya.
Secara keseluruhan, jumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga masih lebih banyak dibandingkan komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga inflasi tetap terjadi pada Juli 2026.
BPS mencatat cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,66 persen. Disusul bawang merah sebesar 0,38 persen, tomat 0,22 persen, dan beras 0,19 persen.
“Ini empat komoditas yang perlu dikawal lebih baik agar ke depannya tidak terjadi kenaikan harga yang lebih tinggi lagi,” ungkap Agus Sudibyo.
Sementara itu, beberapa komoditas mengalami penurunan harga, di antaranya daging ayam ras dengan andil minus 0,05 persen, ikan mujair minus 0,04 persen, serta telur ayam, ikan asap, dan emas perhiasan yang masing-masing turun 0,03 persen.
“Tapi komoditas yang naik jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas yang harganya mengalami penurunan,” ujar Agus Sudibyo.(hasan/gopos)








