GOPOS.ID, GORONTALO – Harga cabai rawit yang melonjak ikut mengerek inflasi Gorontalo sepanjang September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat inflasi bulanan (September 2026 terhadap Agustus 2026) mencapai 1,91 persen.
Kenaikan itu membuat inflasi Gorontalo sepanjang tahun berjalan atau year to date (September 2026 terhadap Desember 2025) menembus 4,44 persen. Sementara jika dibandingkan dengan September 2025, inflasi tahunan atau year on year mencapai 5,46 persen.
Angka tersebut berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus-minus 1 persen. Artinya, inflasi tahun berjalan Gorontalo sudah melewati batas atas sasaran nasional sebesar 3,5 persen, begitu pula inflasi tahunan yang mencapai 5,46 persen.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, menjelaskan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Kenaikan paling terasa berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan sebesar 10,51 persen dan memberikan andil 3,83 persen terhadap inflasi tahunan Gorontalo.
“Di dalam kelompok tersebut, cabai rawit menjadi komoditas dengan tekanan terbesar. Pada September 2026, cabai rawit memberikan andil 1,46 persen terhadap inflasi bulanan Gorontalo. Secara tahunan, komoditas yang sama memberikan andil 1,83 persen,” ungkap Agus Sudibyo saat merilis Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Gorontalo Edisi Oktober 2026, Kamis (1/10/2026).
Selain cabai rawit, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan juga ikut mendorong inflasi bulanan. Di antaranya daging ayam ras, ketimun, terong, ikan tuna, ikan cakalang atau ikan sisik, angkutan udara, cumi-cumi, pisang, dan kacang panjang.
“Untuk komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m, yaitu tomat, ikan mujair, kopi bubuk, bawang merah, dan ikan malalugis. Hanya saja secara akumulasi penurunan harga ini lebih kecil nilainya dibandingkan komoditas yang mengalami kenaikan harga,” ujar Agus Sudibyo.
Jika dilihat secara tahunan, tekanan inflasi juga datang dari sejumlah komoditas lain. BPS Provinsi Gorontalo mencatat emas perhiasan, ikan tuna, angkutan udara, ikan cakalang atau ikan sisik, ikan selar atau ikan tude, cumi-cumi, pelumas atau oli mesin, daging ayam ras, dan kangkung turut memberikan andil terhadap inflasi.
“Kelompok transportasi mencatat inflasi tahunan 6,33 persen dengan andil 0,67 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi 5,86 persen dan memberikan andil 0,45 persen,” urai Agus Sudibyo.
Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi tahunan 3,21 persen dengan andil 0,22 persen. Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan naik 2,43 persen, sedangkan perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 1,88 persen.
Dari sisi wilayah, seluruh daerah yang menjadi cakupan pengukuran IHK di Gorontalo mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Gorontalo mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,28 persen, sedangkan Kota Gorontalo sebesar 4,48 persen. Untuk inflasi tahun berjalan, Kabupaten Gorontalo mencapai 5,13 persen dan Kota Gorontalo 3,59 persen.
BPS mencatat kondisi September 2026 berbeda cukup jauh dibanding September tahun sebelumnya. Pada September 2025, Gorontalo mengalami deflasi bulanan 0,12 persen, sedangkan September 2026 berbalik menjadi inflasi 1,91 persen. Begitu pula inflasi tahun berjalan, juga meningkat dari 1,53 persen pada September 2025 menjadi 4,44 persen pada September 2026. Sementara inflasi tahunan dari 1,99 persen menjadi 5,46 persen.(hasan/gopos)







