GOPOS.ID, JAKARTA – Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menegaskan Nahdlatul Ulama (NU) harus mampu bertindak strategis dalam menghadapi tantangan keagamaan dan kebangsaan. Peluncuran buku Menavigasi Perubahan NU dan Pesantren disebutnya sebagai panduan agar NU tidak sekadar hadir, melainkan berperan nyata dalam menyelesaikan persoalan bangsa.
“Kalau NU tidak bisa bertindak dan bergerak secara strategis, maka keberadaan NU tidak akan dianggap, wujuduhu ka adamihi. Itu bukan pilihan kita,” ujar Gus Yahya dalam rilis resmi di Jakarta, Sabtu (15/11/2025).
Buku setebal 337 halaman itu ditulis oleh 10 pakar dan aktivis NU sebagai syarah atas dua matan tulisan Gus Yahya: Peta Masalah Dunia Pesantren dan Konsolidasi, serta Sebuah Keharusan bagi NU. Dalam tulisannya, ia menekankan tiga matra konsolidasi sebagai keharusan bagi NU, yakni konsolidasi tata kelola, sumber daya, dan agenda. Aturan main pun ditegaskan: setiap tindakan atas nama NU harus mengikuti prosedur demi menjaga integritas dan martabat organisasi.
Dalam bagian tentang pesantren, Gus Yahya menyoroti perlunya integrasi pesantren ke dalam sistem nasional dengan menempatkannya dalam tiga klaster utama: lembaga pendidikan, pilar komunitas, dan kaitan langsung dengan NU. Ia juga mendorong transformasi pengelolaan pesantren melalui governing system dengan standarisasi infrastruktur, kurikulum, SDM, dan tata kelola.
Rumadi Ahmad, penulis kata pengantar, berharap buku ini menjadi bahan diskusi di berbagai tingkatan kepengurusan NU, dari PBNU hingga ranting. “Buku ini bisa menjadi penunjuk arah bagi NU dan pesantren dalam menghadapi multi perubahan,” ujarnya.
Peluncuran buku tersebut menegaskan komitmen NU untuk memperkuat peran strategisnya, sekaligus membuka ruang refleksi bagi pesantren agar mampu beradaptasi dengan dinamika zaman.(antara/hasan/gopos)








