GOPOS.ID, JEMBER – Bupati Jember, Muhammad Fawait, hadir sebagai narasumber dalam forum Kompas.com Talks di Universitas Jember. Diskusi mengangkat tema kemiskinan di kawasan lahan produktif.
Acara berlangsung di Gedung Soedjarwo dan dihadiri akademisi serta pemangku kepentingan. Fokus utama membedah persoalan kemiskinan yang belum sepenuhnya teratasi.
Ia menegaskan, kemiskinan di Jember masih menjadi pekerjaan rumah besar selama satu dekade terakhir, meski tren menunjukkan penurunan.
Menurutnya, persoalan paling krusial kini berada di wilayah pinggir hutan dan perkebunan yang belum tersentuh optimal.
“Kemiskinan di kawasan pinggir hutan dan kebun menjadi tantangan utama hari ini,” kata Fawait.
Ia menyebut keberadaan dua BUMN, yakni PTPN dan Perhutani, harus mampu berkontribusi dalam mengurai persoalan tersebut.
Forum diskusi dinilai menjadi momentum menyatukan gagasan lintas sektor untuk mempercepat pengentasan kemiskinan.
“Harapannya sama, zero kemiskinan ekstrem pada 2029, dan Jember sedang berikhtiar ke arah itu,” tegasnya.
Fawait optimistis target tersebut tercapai karena potensi daerah dinilai cukup besar untuk diberdayakan.
Salah satu peluang utama berasal dari program hutan sosial dengan luasan puluhan ribu hektare.
“Jika dikelola tepat, hutan sosial bisa menekan angka kemiskinan ekstrem secara signifikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kategori miskin ekstrem merujuk pada kondisi masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan harian.
Fawait memperkirakan puluhan ribu kepala keluarga masih berpotensi keluar dari kategori tersebut jika intervensi tepat dilakukan.
Ia juga menyoroti distribusi lahan dan kesempatan kerja di kawasan perkebunan agar lebih berpihak pada masyarakat sekitar.
“Prioritas harus diberikan kepada warga miskin ekstrem di sekitar hutan dan kebun,” ucapnya.
Selain itu, lahan tidur milik perusahaan dinilai bisa dioptimalkan untuk mendorong ekonomi sektor informal.
Namun, ia mengakui pemerintah daerah belum sepenuhnya dilibatkan dalam program kehutanan sosial.
“Kami berharap ada koordinasi kuat agar program tepat sasaran dan berbasis data,” katanya.
Sementara itu, Guru Besar FEB Universitas Jember, Prof Muhammad Zainuri, menilai persoalan utama terletak pada minimnya kolaborasi.
“Program sudah ada, tapi berjalan sendiri-sendiri tanpa koneksi,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya integrasi kebijakan, digitalisasi data, serta penerapan reward dan punishment untuk mencegah kebocoran program.
Zainuri juga mengingatkan agar bantuan tidak sekadar bersifat karitatif, melainkan mendorong pemberdayaan berkelanjutan.
Menurutnya, dengan kolaborasi solid, pengentasan kemiskinan di Jember berpeluang tercapai dalam beberapa tahun ke depan.(kur)








