GOPOS.ID, GORONTALO – Perjalanan seorang pemuda dari Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, ini membuktikan bahwa beasiswa bukan hanya tentang ruang kelas, tetapi juga tentang membuka jendela dunia.
Zhein Nirwan Tawil, pemuda asal Gorontalo, berhasil menapaki jejak internasional dengan mengunjungi 22 negara di Eropa dan Afrika Utara melalui program beasiswa Erasmus Uni Eropa.
Zhein menempuh studi selama satu semester di Mykolas Romerius Universitetas, Vilnius, ibu kota Lithuania. Namun pengalamannya tidak berhenti di satu negara.
Selama masa studinya, ia berkesempatan menjelajahi berbagai kawasan Eropa, mulai dari negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Denmark, hingga kawasan Baltik yang mencakup Lithuania, Latvia, dan Estonia.
Perjalanannya berlanjut ke jantung dan Eropa Tengah, termasuk Czech Republic, Hungaria, Slovakia, dan Austria, serta negara-negara penting di Uni Eropa seperti Polandia, Jerman, Belanda, Belgia, dan Luksemburg.
Di Eropa Selatan dan Barat, Zhein juga mengunjungi Italia, Prancis, Spanyol, dan Portugal. Tak hanya itu, pengalamannya diperluas hingga ke luar Eropa dengan kunjungan ke Maroko, serta negara terkecil di dunia, Vatikan.
Menurut Zhein, perjalanan lintas negara tersebut memberinya pelajaran nyata tentang bagaimana setiap negara memiliki pendekatan berbeda dalam mengelola pemerintahan, pendidikan, tata kota, dan pelayanan publik. Ia menilai bahwa pemahaman seperti ini sulit diperoleh jika hanya mengandalkan teori di ruang kelas.
“Belajar itu tidak hanya dari buku atau teori di kelas,” ujar Zhein.
“Justru pengalaman langsung, melihat dan merasakan bagaimana negara lain berjalan, memberi pelajaran yang jauh lebih bermakna,” lanjutnya.
Interaksi dengan mahasiswa internasional dari berbagai latar belakang budaya juga memperkaya perspektifnya. Zhein percaya bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan sumber pembelajaran.
Baginya, setiap negara memiliki praktik baik yang bisa dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
Ia menegaskan bahwa pengalaman internasional seharusnya tidak berhenti sebagai cerita perjalanan, tetapi menjadi bekal untuk berkontribusi setelah kembali ke tanah air.
Zhein berharap, nilai-nilai positif yang ia temui di berbagai negara dapat diadaptasi dan diimplementasikan di Indonesia, khususnya dalam bidang tata kelola pemerintahan dan pembangunan.
Kisah Zhein Nirwan Tawil menjadi inspirasi bagi pemuda Gorontalo dan Indonesia secara luas. Dari Bone Bolango hingga lintas benua, perjalanannya menunjukkan bahwa anak daerah pun mampu menembus dunia, membawa pulang bukan hanya pengalaman, tetapi juga visi untuk masa depan Indonesia.(*)








