GOPOS.ID, GORONTALO – Menjaga kesehatan seharusnya menjadi kebutuhan yang mudah dijangkau setiap orang. Namun, bagi sebagian masyarakat, keinginan untuk mengetahui kondisi tubuh melalui pemeriksaan sederhana masih harus berhadapan dengan persoalan biaya.
Di tengah keterbatasan itu, sebuah layanan kesehatan gratis hadir membawa harapan. Bukan sekadar memberikan pemeriksaan, tetapi juga membuka kesempatan bagi warga untuk lebih mengenali kondisi kesehatan mereka tanpa harus memikirkan biaya.
Suasana tersebut terasa di Kelurahan Buliide, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Jumat (6/11/2026). Di sela-sela kegiatan reses Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Erwinsyah Ismail, S.I.Kom., M.I.Kom, warga mendapat kesempatan memeriksakan tekanan darah, gula darah, hingga kolesterol melalui program Rumah Sehat EI.
Bagi sebagian warga, kesempatan ini bukan hal biasa. Pemeriksaan yang selama ini mungkin harus ditunda karena pertimbangan biaya, kini bisa dilakukan secara gratis.
Isma, salah seorang warga, mengaku bersyukur atas hadirnya layanan tersebut. Baginya, pemeriksaan kolesterol menjadi salah satu kebutuhan kesehatan yang tidak selalu mudah dipenuhi karena biayanya cukup mahal.
“Alhamndulillah, karena biasanya biaya cek kolestrol agak mahal, makanya kami merasa bersyukur ada program rumah sehat EI dari Pak Erwin. Apalagi ini kan pakai biaya sendiri dari Pak Erwin, jadi luar biasa. Ini baru bilang Anggota Dewan, pakai uang sendiri untuk masyarakat. Terima kasih Pak Erwin,” kata Isma penuh syukur.

Reses yang Menyentuh Kebutuhan Dasar
Di balik layanan kesehatan gratis tersebut, terdapat gagasan sederhana dari Erwinsyah Ismail. Ia ingin kegiatan reses tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.
Menurut Erwin, mendengarkan aspirasi masyarakat merupakan bagian penting dari tugas seorang wakil rakyat. Namun, perhatian terhadap kesehatan warga juga tidak kalah penting karena berkaitan langsung dengan kualitas kehidupan mereka.
“Selain masyarakat didengar aspirasinya, mereka juga punya hak untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka terkini. Makanya saya berpikir, tidak ada salahnya kalau dalam reses masyarakat juga kita fasilitasi pemeriksaan kesehatan,” ungkapnya.
Gagasan tersebut menjadi dasar kehadiran rumah sehat EI, sebuah program yang menggabungkan pelayanan kesehatan sederhana dengan kegiatan menyerap aspirasi masyarakat.
Melalui pendekatan ini, reses diharapkan tidak hanya menjadi agenda formal politik, tetapi juga ruang untuk menghadirkan kepedulian terhadap kebutuhan dasar warga.

Berawal dari Inisiatif Pribadi
Rumah sehat EI telah dibentuk sejak awal 2026. Dalam pelaksanaannya, Erwin melibatkan sejumlah tenaga kesehatan, khususnya perawat dari berbagai rumah sakit, yang bersedia bergabung sebagai relawan.
Mereka hadir untuk memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat secara sukarela. Sementara itu, kebutuhan peralatan dan perlengkapan pemeriksaan ditanggung secara pribadi oleh Erwin.
Politisi Demokrat itu menegaskan, program tersebut merupakan inisiatif mandiri yang tidak menggunakan anggaran dinas maupun melibatkan instansi pemerintah dalam pembiayaannya.
“Ini inisiatif saya sendiri. Para perawat ini dari berbagai rumah sakit, tetapi mereka relawan semuanya. Saya hanya membiayai peralatan dan kebutuhan pemeriksaan. Semuanya masih bersifat mandiri pribadi,” kata Erwin.
Pemeriksaan yang disediakan meliputi tekanan darah, gula darah, dan kolesterol. Seluruh layanan diberikan secara gratis tanpa pungutan biaya kepada masyarakat.

Kepedulian yang Diharapkan Terus Berlanjut
Bagi Ketua DPD Demokrat Gorontalo itu, Rumah sehat EI tidak berhenti sebagai program sesaat. Ia ingin layanan tersebut terus hadir dalam kegiatan reses berikutnya selama dirinya menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.
Harapan itu sekaligus menjadi upaya agar semakin banyak masyarakat memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini.
“Ini gratis, kita tidak memungut biaya. Mudah-mudahan bisa berlanjut di reses-reses selanjutnya,” tutup Erwin.
Di Kelurahan Buliide, layanan sederhana tersebut memberikan makna yang lebih besar dari sekadar pemeriksaan kesehatan. Ada warga yang merasa terbantu, ada kebutuhan yang akhirnya bisa terpenuhi, dan ada kepedulian yang hadir di tengah aktivitas reses.
Sebab, bagi masyarakat yang selama ini harus mempertimbangkan biaya untuk memeriksakan diri, kesempatan mengetahui kondisi tubuh tanpa mengeluarkan uang menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Dari sebuah layanan kesehatan gratis, tersampaikan pesan bahwa kepedulian kepada masyarakat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perhatian terhadap kebutuhan sederhana justru menjadi hal yang paling dirasakan manfaatnya. (Isno/gopos)








