No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Api Biru-FYP TikTok: Putra Kusuma Gorontalo Menyalakan Energi Lintas Generasi

Hasan by Hasan
Senin 27 Oktober 2025
in Gorontalo, Indepth News
0
Proses produksi Pia Putra Kusuma. Keberadaan UMKM Pia Putra Kusuma telah memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.(Foto; Rama/gopos)

Proses produksi Pia Putra Kusuma. Keberadaan UMKM Pia Putra Kusuma telah memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.(Foto; Rama/gopos)

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Energi tidak melulu hadir dalam wujud listrik yang menyala atau bahan bakar yang terbakar. Ia dapat menjelma menjadi ketekunan, daya juang, dan berani bertahan di tengah perubahan. Dari dapur sederhana di Kota Gorontalo, kisah Lilik Sriyani menunjukkan bagaimana energi—baik di kompor maupun dalam diri—dapat menyalakan harapan, menggerakkan ekonomi keluarga, serta cahaya bagi lingkungan sekitar.

Hasanudin Djadin, Gorontalo

Di layar ponsel saya menunjukkan pukul 11.00, Senin, 20 Oktober 2025. Udara Kota Gorontalo terasa membakar setelah dua pekan tanpa hujan. Tujuan saya siang itu adalah menuju Perumahan Balkin, Kelurahan Molosipat U, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo. Begitu memasuki Jalan Balkin, plang bertuliskan “Galeri Ole-Ole Putra Kusuma” terlihat dari kejauhan. Menandai perjalanan akan segera sampai di tujuan.

Saat kaki melangkah memasuki gerbang rumah, aroma adonan mentega yang dipanggang menyambut. Di dekat gerbang, seorang perempuan paruh baya berbalut blus karawo (kain sulaman tradisional Gorontalo) bangkit dari kursinya seraya tersenyum hangat. Dialah Lilik Sriyani, pendiri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang telah mengubah dapur rumah menjadi pusat produksi pia dan harapan.

“Sini, mari masuk,” ajaknya, mempersilakan saya menuju ruang galeri mungil di sisi rumah yang berjarak tiga langkah dari gerbang.

Di dalam galeri, deretan produk lokal dalam kemasan warna-warni cerah tersusun rapi dalam etalase kaca, serta rak bertingkat. Ada keripik pisang keju susu, bilibidu, kolombengi, kacang kentucky, abon ikan, hingga aneka pia berlabel “Pia Putra Kusuma”, produk yang menjadi identitas utama usaha ini.

Pandangan saya kemudian beralih ke dinding galeri. Di dinding berwarna putih itu terpajang denah ruang produksi, sejumlah piagam penghargaan, dan foto-foto dokumentasi. Salah satunya menampilkan Lilik berpose bersama Presiden Joko Widodo, sebuah kenangan sekalian penanda bahwa kiprahnya pernah mendapat perhatian hingga ke tingkat nasional.

Bersebelahan galeri, di ruang produksi, enam pemuda tampak cekatan mengolah adonan di atas meja stainless ukuran 1×2 meter. Adonan dibagi, diratakan, lalu diberi isian cokelat dan dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil. Kemudian ditata di baki pemanggang sebelum dimasukkan dalam oven.

Ritme tangan mereka mencerminkan pengalaman dan standar kualitas yang dijaga bertahun-tahun. Di sinilah, energi yang terpancar tak hanya berasal dari panas oven, tapi dari semangat hidup yang tak pernah padam.

Lilik Sriyani, pendiri Pia Putra Kusuma, saat ditemui di galeri Pia Putra Kusuma di Jl. Balkin, Kelurahan Molosipat U, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo. Usaha bidang kuliner ini merupakan salah satu peserta Pertamina UMK Academy. (Foto:Rama/Gopos)

Dari Mika ke Merek

Lilik memulai usaha pia pada 1999, setahun setelah krisis moneter mengguncang negeri dan sebelum Provinsi Gorontalo resmi terbentuk. Ia membangun usaha dari dapur rumah di tengah harga-harga yang melambung tinggi. Keputusan “nekat” itu bukan karena memiliki modal besar, tetapi demi menopang ekonomi keluarga sekaligus jembatan menuju masa depan yang lebih baik.

“Saya ingin anak-anak tetap bersekolah,” ucapnya.

Tekad itu menjadi bara pertama yang menyalakan dapur kecilnya. Namun bara saja tak cukup. Ia butuh bahan bakar lain: ide. Ide tersebut datang dari pengalaman mendapat ole-oleh pia Gorontalo saat masih berada di Surabaya. Selain itu, latar keluarganya yang berasal dari Yogyakarta—daerah asal pia phatok—memberinya bekal pengetahuan bahan pia. Kendati demikian, Lilik paham bahwa lidah orang Gorontalo memiliki selera tersendiri.

“Orang Gorontalo suka yang kulitnya tore-tore (renyah, red),” ujar perempuan kelahiran Lampung ini.

Awalnya, Lilik memproduksi pia secara otodidak. Adonan campuran tepung, mentega, gula, dan lain-lain, diracik manual dengan tangan. Pia yang telah matang dibungkus dalam plastik agar tetap renyah. Selanjutnya ditata dalam mika isi 10.

Sebagai pendatang baru di dunia kuliner Gorontalo saat itu, Lilik sadar dirinya akan berhadapan dengan pemain lama yang memiliki keunggulan jaringan distribusi. Dia pun menerapkan strategi pemasaran dengan konsep sederhana: dititipkan di sekolah tempat anaknya belajar, SDN Tuladenggi, Kabupaten Gorontalo.

“Harganya dulu Rp140 per mika. Jadi kalau per butir Rp14,” cerita Lilik mengkalkulasi.

Meski dijual murah, Lilik tidak mau berkompromi soal kualitas. Prinsipnya sederhana: rasa lezat, harga hemat. Itulah salah satu alasan yang membuat pia buatan Lilik cepat dikenal dan diminati. Permintaan mulai berdatangan dari sekolah-sekolah lain.

“Walau produksi banyak, keuntungan saya tipis, Pak…,” ujarnya. Prinsip itu masih dipegang Lilik hingga kini.

Setelah dua tahun berjalan, Lilik berinovasi dengan memberi identitas pada pia buatannya. Nama “Putra Kusuma” menjadi label resmi produk. Putra Kusuma merupakan penggabungan nama kedua putranya sekaligus akronim “Punya Keterampilan Khusus Memasak”.

Beriringan waktu, varian rasa pun dikembangkan. Dari sebelumnya kacang hijau dan cokelat menjadi enam rasa termasuk kacang coklat, keju, dan selai nanas. Penambahan identitas dan varian rasa ini langsung mendapat respons positif. Pia Putra Kusuma semakin dikenal dan penjualannya naik.

“Tadinya cuma 100-an, naik sampai 500 buah. Saya titip di warung-warung terdekat sampai ke supermarket dan ritel modern. Sampai-sampai orang memanggil saya ‘Mbak Pia’,” kenangnya tersenyum.

Seiring waktu, Lilik kembali berinovasi. Ia memperluas lini produk dengan aneka kue kering, keripik pisang, kue tradisional bilibidu, kolombengi (bolu kering), kacang Kentucky, hingga abon ikan. Diversifikasi ini dilakukan sebagai bentuk adaptasi terhadap pasar. Lilik sadar konsumen kini mencari suguhan oleh-oleh yang variatif, tidak hanya pia.

Percakapan kami terhenti sejenak. Terdengar dari luar galeri seorang pria mengucapkan salam sembari memanggil nama Lilik. Pria itu adalah pemasok yang datang membawa fillet tuna bahan baku abon ikan, salah satu produk diversifikasi Putra Kusuma.

“Itu lebih dari 15 kilo, tapi untuk Mbak Lilik 15 saja. Terima kasih waa…,” ujar pria berkaos oblong hitam itu sebelum pamit.

Kata “waa” yang ia ucapkan memiliki makna seperti kata “ya”. Kata ini digunakan orang-orang di Gorontalo sebagai partikel penegas yang memperhalus ucapan, atau sebagai bentuk keakraban.

Era Baru Menyala Biru

Label pia legend kini disematkan pada Pia Putra Kusuma. sejak dirintis pada 1999 hingga sekarang, sambutan masyarakat terus menghangat. Tapi di balik aroma manis pia yang melegenda di Gorontalo ini, ada kisah yang hampir membuat api Putra Kusuma padam.

Ketika usaha baru dimulai, adonan mentah pia Putra Kusuma dipanggang memakai oven sederhana dengan kompor berbahan bakar minyak tanah (Kerosene). Satu kali produksi, Lilik mengonsumsi minyak tanah sekitar 5 liter. Di masa itu, harga eceran tertinggi (HET) minyak tanah dipatok Rp2.500 per liter, sehingga setiap berproduksi Lilik ‘membakar’ Rp12.500.

Keberadaan minyak tanah sangat vital sama halnya bahan baku tepung dan mentega. Tanpa itu, produksi terhenti dan pemasukan ikut terancam.

Lilik ingat betul saat kebijakan nasional konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg diberlakukan pada 2007. Minyak tanah mulai jarang ditemukan di Gorontalo. Akibatnya, ia dan suami harus mencari minyak tanah sampai ke Manado, Sulawesi Utara. Lebih dari 400 kilometer jauhnya.

Ketika konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg menjangkau Gorontalo pada 2011, Lilik mengira masa sulit telah berakhir. Perubahan justru memunculkan tantangan baru: seluruh karyawannya tiga orang serentak mengundurkan diri. Pemicunya,  takut menggunakan gas elpiji.

“Waktu itu kan belum terbiasa, mereka tako mo butu (takut meledak). Apalagi banyak di televisi kejadian-kejadian mengenai gas elpiji,” ujar Lilik yang sudah familiar dengan dialeg bahasa Gorontalo.

Lilik dihadapkan pada dilema. Bertahan dengan minyak tanah berarti biaya produksi melambung tinggi. Sebab harus pakai minyak tanah nonsubsidi. Harganya saat itu Rp10.000/liter. Sekali produksi Lilik harus merogoh Rp50 ribu—sebuah nominal yang terasa berat pada masanya.

Baca Juga :  Ingkar Janji, Warga Anggrek, Gorontalo Utara, Dijebloskan ke Bui

Di sisi lain, beralih ke elpiji bukanlah solusi instan. Tanpa tenaga terampil yang terlatih, proses produksi tak bisa berjalan optimal. Melatih tenaga baru butuh waktu, sementara deretan pesanan pelanggan terus berdatangan. Denyut nadi Putra Kusuma nyaris berhenti kala itu.

Kendati berada pada situasi sulit, menyerah bukan pilihan bagi Lilik. Demi menjaga dapur tetap mengepul, ia kembali turun tangan. Anak dan keluarga terdekat dikerahkan mengambil alih produksi, agar nadi Putra Kusuma tetap berdenyut.

“Tangan saya sampai kasar karena menguleni adonan sendiri,” tuturnya sambil memperlihatkan telapak tangannya.

Lebih triwulan lamanya. Perlahan, aktivitas produksi kembali berjalan menuju normal. Lilik melatih karyawan baru dengan sabar, mulai dari teknik membuat pia hingga cara aman menggunakan elpiji. Si nyala biru memompa kembali energi di jantung produksi Putra Kusuma.

Untuk menjaga ritme produksi yang beranjak pulih, ia pun pun memastikan pasokan energi tetap stabil dan efisien. Sekarang Lilik mengandalkan elpiji Bright Gas dalam menopang produksi. Gas dengan tabung berwarna pink (merah muda) ini, dapat dengan mudah dibeli di mana saja dan kapan saja.

Setiap minggu dengan 6 hari produksi, Lilik rata-rata menghabiskan gas elpiji berkisar antara 4,5-5 kilogram. Bila dirupiahkan sekitar Rp20 ribu per hari produksi.

“Saat ini saya sudah pakai oven sistem elektrik, suhunya terkontrol secara otomatis, sehingga pemakaian gas jauh lebih hemat,” ujar Lilik.

Transisi minyak tanah ke elpiji membuat biaya produksi lebih terkendali. Biaya bahan bakar dapat dihemat hingga 25-30 persen dibanding menggunakan minyak tanah. Penurunan itu terjadi akibat jumlah penggunaan sumber energi lebih sedikit, dan peralatan lebih bersih sehingga biaya perawatan jadi lebih kecil. Konsep sustainability yang dewasa ini menjadi standar global UMKM, kini ada di dapur Lilik.

Pelatihan Menyalakan Harapan

Selama dua dekade perjalanan, naik turunnya usaha pernah dialami Putra Kusuma. Kenaikan harga bahan baku, biaya operasional, hadirnya kompetitor baru, serta perubahan perilaku konsumen sesuai perkembangan zaman. Seperti ketika pandemi Covid-19 yang membuat pola transaksi bergeser dari tatap muka ke sistem daring.

Sebelum pandemi, Lilik sebenarnya telah mencoba memanfaatkan media sosial untuk promosi produk. Akan tetapi, di usianya yang sudah melewati kepala lima, dunia digital dan internet bukanlah hal mudah untuk dikuasai. Istilah seperti algoritma, SEO, FYP, ataupun insight terdengar asing. Dengan nada lirih dia bilang, “Saya ngertinya FB dan WA (Facebook dan WhatsApp).” Niat mendigitalisasi usaha pun membeku, berlalu bersama waktu.

Titik balik datang pada 2023. Putra Kusuma terpilih mengikuti program Pertamina UMK Academy 2023. Padahal, Putra Kusuma hanya diminta mengganti rekan UMKM yang berhalangan mendaftar. Keikutsertaan yang tidak disengaja ini justru membuka jalan bagi Putra Kusuma untuk naik kelas bersama Pertamina.

Pertamina UMK Academy menghadirkan pembinaan yang terstruktur dengan bertumpu pada empat pilar. Go Modern; Go Digital; Go Online; dan Go Global. Dari empat pilar itu Lilik mendapatkan pendampingan manajemen usaha, inovasi produk, literasi keuangan, hingga penguatan pemasaran digital.

Salah satu momen berkesan bagi Lilik: pelatihan berkaitan promosi dan pemasaran yang memanfaatkan internet. Pelatihan ini merupakan bagian pilar Go Digital dan Go Online. Saat sesi penyampaian materi secara daring dimulai, ia memanggil putra bungsunya—yang baru lepas usia remaja—duduk mendampingi. Tujuannya bukan sebatas agar dirinya paham. Bagi Lilik, pelatihan digitalisasi tersebut adalah tongkat estafet mewariskan perjalanan Putra Kusuma ke generasi selanjutnya.

Dari sinilah titik balik usaha Lilik semakin terasa. Bukan hanya memahami konsep digital, ia mulai mempraktikkannya. Putra Lilik mulai aktif terlibat dengan membuat konten promosi di TikTok, mengelola akun media sosial, dan membantu desain kemasan. Beberapa video promosi produk ditampilkan melalui akun medsos. Meski penjualan daring belum dominan, langkah tersebut menjadi gerak nyata memperkuat eksistensi merek.

Langkah penguatan juga dilakukan pada kemasan. Mengadopsi konsep Go Modern, kemasan produk diversifikasi ditingkatkan. Beberapa produk kue kering dan keripik yang sebelumnya menggunakan mika atau plastik bening dibuat lebih klimis dan manis dengan kemasan alumunium foil full print gambar dan warna menarik.

“Alhamdulillah, usaha ini terus berjalan berkat dukungan berbagai pihak termasuk Pertamina. Saya ingin Pia Putra Kusuma tetap hidup, bahkan ketika saya sudah tidak aktif lagi.,” tutur ibu yang telah dikarunai 4 orang cucu itu.

Kemasan produk Putra Kusumaa yang tampil lebih menarik dengan menggunakan alumunium foil full print. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Putra Kusuma melakukan moderenisasi kemasan produk atau go modern.(dok. Putra Kusuma)

Energi Baru, Tangan-tangan Baru

Lilik bersyukur atas peningkatan pengetahuan hingga sentuhan program pendanaan UMK dari Pertamina. Dengan kapasitas produksi harian yang stabil dan diversifikasi produk yang terus berkembang, Lilik menyebut bahwa pendapatan usaha mengalami peningkatan signifikan, terutama setelah mengikuti program pelatihan UMK Academy.

Meski tidak menyebut angka pasti, ia merasakan adanya kenaikan usaha. Permintaan produk bisa melonjak hingga dua kali lipat saat momen hari raya atau pameran UMKM. Termasuk iven-iven yang mendatangkan tamu dari luar daerah. Produksi pia yang biasanya berkisar 1.000 buah per hari, bisa meningkat drastis, diikuti dengan pengolahan produk lain seperti keripik pisang dan kacang kentucky.

“Kalau ramai, bisa sampai dua kali lipat dari biasanya,” ujarnya.

Kenaikan permintaan tidak serta-merta diikuti dengan margin tinggi. Lilik tetap menjaga prinsip harga terjangkau agar produknya bisa dinikmati oleh semua kalangan. Buat Lilik, keberlanjutan usaha jauh lebih penting daripada keuntungan tinggi. Margin di rentang 20-25 persen dirasa sudah cukup.

“Saya tidak mau ambil untung besar, kasihan kalau masyarakat tidak terjangkau,” tegasnya.

Sekadar informasi: pia Putra Kusuma dijual dengan kisaran Rp25 ribu untuk varian rasa dengan isi 9 buah per dus, hingga R40 ribu per dus (isi 14 buah). Sedangkan untuk aneka kue kering dijual mulai dari kisaran harga Rp10 ribuan untuk kemasan kecil.

Perkembangan kapasitas produksi turut memberikan pengaruh dalam penyerapan tenaga kerja. Putra Kusuma kini dijaga delapan pasang tangan, dari sebelumnya lima pasang tangan. Sebagian besar dari mereka berasal dari lingkaran keluarga.

Setiap hari, tangan-tangan terampil itu mengolah sekitar 20 kg tepung terigu menjadi lebih 1.000 butir pia ukuran 35 gram per buah. Saat oven beristirahat, dapur beralih mengolah keripik pisang, kacang kentucky, serta kue kering lainnya.

Di balik ritme tangan yang mengolah adonan keluar masuk oven, dapur Putra Kusuma menyimpan fungsi lain yang tak kalah penting. Ia tempat produksi sekaligus ruang pembelajaran.

Pada masa lalu, dapur ini juga pernah menjadi sekolah kehidupan bagi banyak pemuda-pemudi tetangga. Menanamkan nilai kerja keras, keberanian mencoba hal baru, dan kesiapan beradaptasi dengan perubahan zaman. Mereka pun tumbuh: ada yang kini menjadi ASN, ada yang membuka usaha sendiri. Mereka beranjak pergi, membawa serta bekal pengalaman dari Putra Kusuma.

“Waktu kerja di sini dia mahasiswa, kerja sambil kuliah. Sekarang sudah terangkat di Kemenag,” ungkap Lilik penuh syukur.

Setelah mengenang kembali masa lalu, Lilik beralih menceritakan kabar terbaru. Lilik mengungkapkan perasaan gembira bisa produk Putra Kusuma mendapat sertifikat SNI (Sandar Nasional Indonesia) yang juga tak lepas dari dukungan Pertamina.  SNI bukan sekadar label legalitas, tetapi sebuah bentuk pengakuan sekaligus jaminan bahwa produk Putra Kusuma berkualitas standar nasional.

Baca Juga :  Jokowi dan Gubernur NTT 2 Kali Dilaporkan, Bareskrim Kembali Menolak

“Ada label halal dan SNI. Jadi konsumen tak perlu ragu,” tandasnya.

Sementara itu, Iqbal (30), warga Kota Gorontalo mengaku menggemari keripik pisang keju susu Putra Kusuma. Camilan berbahan baku pisang tanduk rasa itu memiliki perpaduan tekstur yang renyah dengan rasa yang gurih dan manis. Ketertarikannya itu berasal dari sebuah video promosi produk Putra Kusuma yang singgah di lini masa (For You Page/FYP) akun TikTok miliknya pada Agustus 2024 lalu.

“Saya penasaran, lalu cari di supermarket. Saat dicoba, ternyata enak.,” ucap karyawan swasta itu.

“Kacang kentucky-nya gurih dan renyah,” timpalnya.

Mulai dari situ, Iqbal tak pernah melewatkan keripik pisang keju susu Putra Kusuma dalam daftar cemilan. Ketika singgah di supermarket, matanya segera menyusuri keripik pisang keju dan kacang kentucky Putra Kusuma di rak etalase.

Selain di galeri, aneka produk Putra Kusuma kini juga tersedia di supermarket dan retail modern. Pemanfaatan media sosial sebagai wadah promosi menjadi salah satu upaya memperkuat merek dan kepercayaan masyarakat.(foto: Hasanudin/gopos/dok. Putra Kusuma)

Menyentuh Nadi Tulang Punggung Ekonomi Negeri

Bagi Lilik, satu pelanggan yang kembali adalah berkah. Bagi lingkungan sekitar, Putra Kusuma menjadi ruang belajar dan sumber ekonomi keluarga.

Apa yang terjadi di dapur kecil milik Lilik sejatinya bukan cerita tunggal. Kisah Putra Kusuma mencerminkan denyut yang sama pada jutaan UMKM di Indonesia—berjuang dari keterbatasan, tumbuh perlahan, lalu menjadi penopang ekonomi keluarga dan komunitas. Karena itu, melihat Putra Kusuma berarti melihat wajah UMKM Indonesia.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan, jumlah UMKM saat ini mencapai lebih dari 64 juta unit usaha. Kontribusi UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia tercermin pada sumbangsihnya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional lebih dari 60%, dan menyerap hampir 97% tenaga kerja.

“Kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional Indonesia mencapai sekitar 15,7% dari total ekspor,” ucap Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam keterangan tertulis, 30 Januari 2025.

Dalam konteks lokal, Data Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo mencatat jumlah UMKM pada 2024 sebanyak 105.509 unit. Selanjutnya pada 2025 naik menjadi sekitar 115 ribu unit. Mereka paling banyak bergerak di bidang usaha olahan pangan, fesyen dan kerajinan. Putra Kusuma, satu di antara ratusan ribu UMKM tersebut.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo ikut pula melihat UMKM sebagai tulang punggung ekonomi lokal. Pemprov Gorontalo menyatakan, telah menyediakan berbagai bantuan untuk mendorong pengembangan UMKM. Salah satu yang dijalankan bantuan bahan produksi senilai Rp 6,5 miliar untuk 6.500 UMKM di kabupaten/kota se-Gorontalo.

“Kami ingin memastikan para pelaku usaha mikro dan kecil di Gorontalo tetap tumbuh, berdaya saing, dan mandiri dalam mengembangkan usahanya,” kata Kepala Dinas Kumperindag Provinsi Gorontalo, Risjon Sunge, Selasa (21/10/2025).

Meski begitu para ahli menilai bahwa dukungan pengembangan UMKM tidak bisa dilakukan seragam. Akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Yayu Isyana D. Pongoliu menyebut, pelatihan dan kurasi produk harus disesuaikan jenis UMKM: apakah mereka berbasis kebutuhan atau berbasis peluang.

Kebanyakan pelaku UMKM berbasis kebutuhan, kata Yayu, memulai usaha dengan keterbatasan. Mereka berjuang dengan sumber daya minim dan jaringan terbatas. Fokus utama mereka adalah mencari pemasukan yang stabil. Maka pelatihan kelompok UMKM ini harus berorientasi pada hal-hal mendasar, seperti literasi bisnis, pengelolaan keuangan dan pencatatan sederhana.

“Kurasi produknya pun lebih ditekankan pada pemilihan produk yang tepat, pengemasan menarik, dan penjualan lewat jaringan lokal atau marketplace,” jelas Yayu, Kamis (23/10/2025). Inilah yang dikenal sebagai program “UMKM Naik Kelas”.

Sementara itu, UMKM yang berbasis peluang sudah memiliki visi usaha dan rencana ekspansi yang jelas. Mereka membutuhkan pendekatan berbeda. Pelatihan dan kurasi produk untuk mereka harus berorientasi pada pertumbuhan bisnis dan inovasi. Fokusnya adalah penguatan merek, pengembangan produk baru, dan peningkatan penjualan daring.

Yayu menekankan pentingnya dukungan dari lembaga besar, termasuk BUMN yang memiliki sumber daya melimpah—baik modal, SDM, teknologi, maupun jaringan—untuk mendorong UMKM melalui pendekatan berbasis riset dan terintegrasi dalam rantai pasok perusahaan. Ia mengangkat contoh negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan.

“Di sana, UMKM tidak hanya dibina, tetapi diintegrasikan langsung dalam rantai pasok perusahaan-perusahaan besar. Model ini yang membuat UMKM mereka tak hanya bertahan, tetapi juga berkembang pesat berbasis riset,” kata dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UNG ini.

Gambaran yang disampaikan Yayu adalah kondisi ideal yang diharapkan sebagian besar pelaku UMKM di tanah air. Tapi di lapangan, banyak UMKM yang berjalan tertatih. Modal mereka terbatas, literasi bisnis minim, serta belum melek digital. Tak sedikit pula yang belum memiliki legalitas, manajemen tidak tertata rapi, dan belum mampu membedakan produknya di pasar.

Di tengah tantangan itu, harapan tetap menyala. Program-program seperti Pertamina UMK Academy hadir sebagai ruang belajar dan tumbuh. Mereka tak hanya menawarkan pelatihan, tapi juga pendampingan legalitas, penguatan branding, dan literasi digital.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, T Muhammad Rum mengatakan, kurasi UMK Academy dilakukan menggunakan evaluasi pada empat pilar. Pilar-pilar ini menjadi jalan konkret untuk membawa UMKM naik kelas.

Keempat pilar tersebut yakni, Go Modern. Pada tahap ini melibatkan modernisasi bisnis, seperti meningkatkan branding, mengelola bisnis dengan lebih baik, dan meningkatkan kualitas produk agar lebih bersaing. Lalu pilar Go Digital yang berfokus pada penggunaan teknologi digital untuk efisiensi operasional.

“Seperti menggunakan aplikasi kasir, platform e-commerce, dan otomatisasi proses bisnis,” sebut Rum dalam keterangan tertulis yang diterima gopos.id, Sabtu (25/10/2025).

Pilar ketiga adalah Go Online. Tahapan ini mendorong UMKM memanfaatkan platform digital secara maksimal, termasuk melalui media sosial, website, dan marketplace untuk promosi dan transaksi.  Terakhir, Go Global yang bertujuan memperluas jangkauan pasar hingga ke pasar global dengan memanfaatkan teknologi digital, sehingga bisnis menjadi lebih borderless (bisa diakses dari mana saja,red)

“Untuk pendampingan UMKM, dilakukan melalui Pelatihan yang berfokus pada 4 pilar diatas, lalu dibina juga melalui pengikutsertaan dalam pameran,” terang Muhammad Rum.

Tidak hanya habis setelah pelatihan. Pertamina memastikan UMKM yang telah naik kelas tidak stagnan. Evaluasi akan dilakukan untuk melihat progress baik dari sisi penjualan, aset digital hingga jangkauan pasar.

“Untuk jangka panjang, Pertamina masih melakukan program UMK Academy setiap tahunnya, sehingga UMKM baik di Gorontalo maupun provinsi lainnya dapat terus mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan keikutsertaan hingga UMKM tersebut menjadi besar,” tutup Muhammad Rum.

Di dapur kecil itu, energi tak hanya menyala dari kompor, tapi juga dari semangat yang diwariskan. Setiap pia yang dipanggang adalah simbol ketekunan, keberanian, dan ketangguhan. Dukungan Pertamina melalui UMK Academy menjadi transfusi ‘bahan bakar’ bagi para pelaku UMKM—seperti Lilik Sriyani yang bukan hanya bertahan, tapi tumbuh, berinovasi, dan menyiapkan generasi penerus.

Kisah Putra Kusuma adalah cermin keberhasilan sinergi. Ketika BUMN hadir, mengalirkan energi yang tepat, ia menjelma menjadi terang yang menghidupi keluarga, menggerakkan ekonomi lokal, dan menyiapkan fondasi baru bagi UMKM Gorontalo agar berani “Naik Kelas” ke panggung nasional.(hasan/gopos)

Tags: DapurEnergiGorontaloOle-ole GorontaloPertaminaPia Putra KusumaPutra KusumaUMK AcademyUMKM Gorontalo
Previous Post

Satgas TMMD Lembur Bangun Jalan, Warga Desa Tonala Bahu Membahu

Next Post

Tak Cukup Perintah, Kepala Desa Tonala Turun Tangan Lembur Bareng Satgas TMMD

Related Posts

Gorontalo

HIPMI Gorontalo Bulat Rekomendasikan Afifudin Suhaeli Kalla Maju Ketua Umum BPP HIPMI 2026–2029

Rabu 22 April 2026
Gorontalo

Kebahagiaan Selimuti Lapas Perempuan Kelas III Gorontalo di Hari Kartini ke-147

Selasa 21 April 2026
Direktur Lalulintas Polda Gorontalo Kombes Pol Lukman Cahyono
Gorontalo

Operasi Ketupat Otanaha 2026: Keberhasilan dan Kepuasan Masyarakat Gorontalo

Selasa 21 April 2026
Satu unit Excavator tak bertuan ditemukan di lokasi PETI Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.(F. Polres Pohuwato)
Gorontalo

Polres Pohuwato Amankan Satu Alat Berat Tak Bertuan di Lokasi PETI Buntulia

Selasa 21 April 2026
Kegiatan Alfamart Sahabat Posyandu di Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.
Gorontalo

Alfamart dan Darya-Varia Perkuat Pencegahan Stunting lewat Program Sahabat Posyandu di 28 Kota

Selasa 21 April 2026
Gorontalo

Jaksa Peduli Aset: Kejari Bone Bolango Sita 19 Kendaraan Dinas Tak Sesuai Peruntukannya

Senin 20 April 2026
Next Post

Tak Cukup Perintah, Kepala Desa Tonala Turun Tangan Lembur Bareng Satgas TMMD

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Terpopuler

  • Ilustrasi AI

    ASN dan PPPK Tak Boleh Rangkap Jabatan sebagai Anggota BPD, Ini Penjelasan Aturannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prof Nurdin Resmi Dilantik sebagai Sekda Boalemo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Novriyanto Napu Berkiprah di Jepang, Dari Kelas English Conversation hingga Sister City Bekasi-Izumisano

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prof. Nurdin Naik Traktor Saat Dikukuhkan Guru Besar UNG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penganiayaan di Biluhu Timur, Gigitan di Wajah Seret ASK Jadi Tersangka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook Icon-x Youtube Instagram Icon-ttk

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.