GOPOS.ID, GORONTALO – Universitas Bina Taruna (UNBITA) Gorontalo menghadirkan pendekatan pembelajaran inklusif melalui kegiatan Nongkrong Inklusi Bersama Teman Kampus di Heisei Cafe, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan yang digagas Program Studi Promosi Kesehatan UNBITA ini berkolaborasi dengan Rangkul Asa Gorontalo, Gerkatin Gorontalo, dan Himpunan Difabel Muhammadiyah. Program tersebut menjadi bagian dari integrasi mata kuliah Komunikasi Kesehatan Difabel berbasis pemberdayaan yang mempertemukan mahasiswa dengan komunitas difabel dalam suasana terbuka dan setara.
Ketua Program Studi Promosi Kesehatan UNBITA, Sry Ade Muhtya Gobel, S.I.Kom., M.I.Kom., mengatakan kegiatan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori komunikasi kesehatan di ruang kelas, tetapi juga belajar melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
“Komunikasi kesehatan difabel tidak cukup dipahami melalui teori. Mahasiswa perlu belajar berinteraksi secara langsung, mendengarkan pengalaman orang lain, dan memahami bahwa setiap individu memiliki kebutuhan komunikasi yang perlu dihormati,” ujar Sry Ade.
Menurutnya, perjumpaan langsung tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenali keberagaman cara berkomunikasi sekaligus memahami pentingnya membangun interaksi yang menghargai kebutuhan setiap individu.
Kolaborasi ini melibatkan Rangkul Asa, organisasi sosial yang berfokus pada isu inklusi disabilitas dan edukasi kesetaraan di Gorontalo, bersama Gerkatin Gorontalo dan Himpunan Difabel Muhammadiyah.
Keterlibatan berbagai komunitas tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami perspektif yang beragam serta melihat penyandang disabilitas sebagai pihak yang memiliki peran aktif dalam percakapan, edukasi, dan kehidupan sosial.
Co-Founder Rangkul Asa, Nur Triska Awaliyah Lukum, S.H., menilai kegiatan semacam ini dapat membantu membangun pemahaman tentang inklusi melalui pengalaman langsung.
“Ketika mahasiswa dan teman-teman difabel bertemu dalam suasana yang terbuka, ada kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan memahami satu sama lain tanpa sekat. Kesetaraan perlu dibangun melalui interaksi yang memberikan ruang bagi setiap orang untuk didengarkan dan dilibatkan,” ungkap Nur Triska.
Belajar Inklusi di Luar Ruang Kelas
Pemilihan Heisei Cafe sebagai lokasi kegiatan menghadirkan suasana yang lebih santai dibandingkan pembelajaran formal di kampus. Melalui format nongkrong, mahasiswa dan komunitas difabel dapat membangun percakapan secara lebih cair, sekaligus membahas isu disabilitas dan kesetaraan melalui pengalaman sehari-hari.
Pendekatan ini sejalan dengan pembelajaran berbasis pemberdayaan yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan realitas sosial. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami cara menyampaikan pesan kesehatan, tetapi juga belajar memastikan informasi dapat diakses dan dipahami dengan memperhatikan kebutuhan penerimanya.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa komunikasi kesehatan yang baik bukan hanya tentang bagaimana menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana memastikan pesan dapat diakses, dipahami, dan disampaikan dengan menghormati kebutuhan orang yang menerimanya,” kata Sry Ade.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat membentuk kepekaan mahasiswa dalam menerapkan komunikasi kesehatan yang lebih inklusif, baik dalam kegiatan akademik maupun ketika berhadapan langsung dengan masyarakat.
Dari perspektif komunitas, inklusi juga berkaitan dengan kesempatan untuk berpartisipasi secara setara dalam lingkungan pendidikan dan ruang sosial. Interaksi antara mahasiswa dan komunitas difabel diharapkan dapat membuka ruang saling memahami, mengurangi sekat dalam pergaulan, serta memperkuat kesadaran bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan bersama.
Nur Triska menegaskan bahwa inklusi tidak cukup diwujudkan dengan menghadirkan penyandang disabilitas dalam sebuah kegiatan. Lebih dari itu, mereka perlu memperoleh kesempatan untuk terlibat secara bermakna.
“Yang penting bukan sekadar menghadirkan teman-teman difabel, melainkan memastikan mereka memiliki ruang untuk terlibat secara bermakna. Kolaborasi dengan lingkungan kampus seperti ini dapat membuka percakapan yang lebih luas tentang kesetaraan dan cara membangun ruang sosial yang ramah bagi semua,” tuturnya.
Melalui kegiatan Nongkrong Inklusi Bersama Teman Kampus, UNBITA berupaya memperluas pembelajaran komunikasi kesehatan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas difabel.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran sosial bagi mahasiswa untuk membangun komunikasi yang lebih peka, menghargai perbedaan, dan mendorong partisipasi setara dalam kehidupan bermasyarakat.(Rama/Gopos)








